Waspada
Waspada » Arek Suroboyo & Insiden Yamato
Headlines Opini

Arek Suroboyo & Insiden Yamato

Pasukan Inggris memperkirakan, perlawanan pejuang arek Suroboyo dapat diselesaikan dalam tempo tiga hari. Perkiraan ini meleset…

 

Arek Suroboyo adalah sebutan akrab kepada para pemuda Surabaya. Terutama bagi mereka yang ikut berjuang mempertahankan setiap dari serangan tentara Sekutu di bawah pimpinan Inggris yang membonceng tentara Belanda untuk kembali menancapkan hegemoni kekuasaan di bumi Surabaya. Kedatangan pasukan Nederlands Indies Cipil Aministration (NICA) dalam pasukan Sekutu telah memicu amarah arek Suroboyo. Dengan gagah berani arek Suroboyo maju ke medan pertempuran sambil mengucapkan semboyan, “Rela betarung nyawa dan harta benda demi tetap tegaknya Merah Putih”.

Hotel Yamato-Surabaya, kini namanya Hotel Majapahit, merupakan bukti perjuangan arek Suroboyo mempertahankan tetap tegaknya Merah Putih di bumi persada Nusantara. Peristiwa ini diawali kedatangan tentara Inggris yang tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) di bawah bendera sekutu. Tugas pasukan sekutu sebenarnya melucuti tentara Jepang, membebaskan tawanan perang yang ditahan Jepang dan memulangkan tentara Jepang ke negerinya.

Namun di balik misi tersebut, tersimpan maksud ingin mengembalikan Indonesia kepada Belanda sebagai negeri bekas jajahannya. Hal tersebut, memicu amarah arek-arek Suroboyo, yang gagah berani maju ke medan juang mempertahankan proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
Seiring keluarnya maklumat pemerintah 31 Agustus 1945 yang menetapkan, mulai 1 September 1945 bendera Merah Putih dikibarkan terus-menerus di seluruh wilayah Indonesia, maka arek Surabaya menyahutinya gegap gempita.

Dalam waktu singkat, gerakan pengibaran bendera merah putih meluas ke seluruh pelosok Surabaya. Puncaknya adalah insiden perobekan bendera di Hotel Yamato. Peristiwa ini berawal dari ulah sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman tanggal 18 September 1945, yang mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru) di pucak teratas Hotel Yamato. Menyaksikan itu, arek Surabaya berang karena menganggap Belanda telah menghina kedaulatan Indonesia dan melecehkan gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.

Residen Soedirman, ketika itu menjabat Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya, sekaligus sebagai Residen Daerah Surabaya Pemerintah RI, masuk ke dalam Hotel Yamato. Sebagai perwakilan RI, Beliau berunding dengan Ploegman, meminta agar bendera Belanda segera diturunkan. Perundingan tidak membuahkan hasil, Ploegman menolak dan tidak mengakui kedaulatan Indonesia. Tindakan tidak terpuji diperlihatkan Ploegman dengan mengeluarkan pistol, sehingga memicu perkelahian dalam ruang perundingan.

Ploegman tewas dicekik salah seorang pemuda Surabaya bernama Sidik, dan Sidik sendiri tewas ditembak tentara Belanda. Sementara Soedirman dan Hariyono berhasil melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Para pemuda yang berjaga di luar, berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono bersama Soedirman yang telah keluar dari hotel, kemudian kembali lagi ke dalam hotel, lalu memanjat tiang bendera bersama Koesno Wibowo, dan berhasil menurunkan bendera Belanda, lalu merobek bagian warna biru. Kemudian menggereknya kembali ke puncak tiang bendera dengan motif Merah Putih.

Tewasnya Brigjen Mallaby

Tragedi Gugurnya Brigadir Jenderal (Brigjen) Mallaby dalam insiden dengan pejuang arek Suroboyo, menimbulkan amarah besar tentara Inggris. Brigjen Mallaby kemudian digantikan oleh Mayor Jenderal Robert Mansergh. Beberapa hari kemudian Mansergh mengeluarkan ultimatum yang isinya terdiri dari, “semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang telah ditentukan, lalu menyerahkan diri dengan mengangkat tangan di atas kepala”.

Batas ultimatum Mansergh adalah jam 6.00 pagi tanggal 10 November 1945. Ultimatum tersebut ditolak para pejuang dan pemuda Surabaya dengan alasan, Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) juga telah dibentuk sebagai pasukan negara.

Dengan batas ultimatum, tentara Inggris mulai melancarkan serangan berskala besar yang diawali pengeboman gedung-gedung pemerintahan. Misi peyerangan melibatkan lebih kurang 30.000 pasukan infanteri, sejumlah pesawat terbang, tank, dan kapal perang. Pada serangan hari pertama, pasukan Inggris membombardir kota Surabaya dengan meriam dari laut dan darat. Menghadapi gempuran tentara Inggris, tidak membuat nyali arek Suroboyo surut, sebaliknya memicu semangat perlawanan di seluruh kota, dengan bantuan aktif dari seluruh penduduk. Dengan terlibatnya penduduk dalam pertempuran mengakibatkan ribuan penduduk sipil turut menjadi korban, baik meninggal dunia maupun terluka akibat terkena peluru.

Sebelum memulai serangannya, pasukan Inggris memperkirakan, perlawanan pejuang arek Suroboyo dapat diselesaikan dalam tempo tiga hari. Perkiraan ini meleset, karena tokoh masyarakat seperti Bung Tomo yang berpengaruh besar di Surabaya terus menggerakkan semangat juang sehingga perlawanan terus berlanjut di tengah serangan skala besar Inggris. Tidak ketinggalan tokoh agama dari kalangan ulama dan para kyai pondok Jawa seperti KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya turut mengerahkan para santrinya termasuk masyarakat sipil menjadi milisi untuk melakukan perlawanan atas serangan Inggris.

Pola pergerakan yang awalnya dilakukan secara spontan dan tidak terkoordinasi, kian hari semakin teratur. Sehingga pertempuran dapat berlangsung hingga tiga minggu, meski akhirnya seluruh kota Surabaya jatuh ke tangan Inggris di bawah pimpinan Mansergh. Berdasarkan data sejarah, atas peristiwa ini lebih kurang 6.000 – 16.000 pejuang arek Suroboyo gugur di medan pertempuran, sedangkan rakyat sipil yang mengungsi diperkirakan mencapai 200.000 orang. Sementara korban dari pasukan Inggris dan India lebih kurang 600 – 2000 tentara.

Penutup

Presiden Soekarno pernah berkata, Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah (Jasmerah ), karena para pahlawan atau kesuma bangsa telah mengantarkan kita ke depan pintu gerbang kemerdekaan. Karenanya pada peringatan Hari Pahlawan yang ke 75 bertepatan 10 November 2020 ini, mari kita tingkatkan kewaspadaan untuk mempertahankan, mengisi kemerdekaan, dan siap menghadapi setiap ancaman terhadap keutuhan NKRI baik dalam bentuk intervensi politik, intervensi ekonomi maupun sosial-budaya. Untuk menjajah suatu bangsa, kini bukan lagi semata dengan melakukan serangan bersenjata. Alat paling ampuh untuk itu adalah dengan boikot, embargo politik, embargo ekonomi atau persenjataan. Karenanya, kemerdekaan harus diisi kekuatan bangsa sendiri agar segala ancaman dapat diatasi baik yang datang dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Sekali Merdeka Tetap Merdeka..! Waspada

Penulis adalah Dosen Fisipol-UMA, Mahasiswa Program Doktoral Studi Pembangunan USU.

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2