Waspada
Waspada » Anomali Artidjo
Headlines Opini

Anomali Artidjo

Oleh Suryo Adi Sahfutra

Bagaimana anomali Artidjo mampu menjadi sesuatu gerakan baru tidak hanya pada tataran bidang yang almarhum geluti, melainkan meluas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat? Kita perlu melakukan gerakan politik pembeda dengan konsep anomali Artidjo

Indonesia kehilangan satu sosok panutan, tokoh yang sulit untuk dicari ganti dalam dunia hukum. Ia seperti telaga di tengah gurun pasir, sosoknya langka dan nyaris publik kesulitan mencari nama yang sepadan untuk kapasitas, integritas dan totalitasnya pada bidang yang ia tekuni, yaitu pengacara, hakim dan praktisi hukum. Dunai profesi yang dari orang kampung sampai orang kota tahu rahasia umum kalau mau kaya ya jadilah pengacara. Tapi tidak dengan sang legenda.

Orbituari paling lengkap dan mendalam saat sang hakim mangkat ditulis oleh Hamid Basyaib, seorang esais dan penulis populer tentang berbagai isu. Ia mengenal jejak dan kehidupan Artidjo sehingga apa yang ditulisnya bagi saya adalah sebuah anomali. Saya paham bahwa untuk mengatakan ia adalah sebuah anomali terhadap fenomena yang ada bisa jadi kurang tepat, apalagi dimaknai secara normatif dan tekstual.

Sebelum sampai kenapa Artidjo bisa disebut sebagai anomali, maka kita perlu memahami apa realitas dari dunia profesi yang ia tekuni. Dalam salah satu talk show Najwa Shihab, seorang pengacara kondang mengatakan bahwa dengan profesinya untuk mendapatkan uang miliaran itu tidak terlalu sulit, seorang klien akan rela mengeluarkan uang demi memenangkan kasusnya di pengadilan. Pernyataan itu seperti gunung es saja, pasalnya, banyak orang akan menghindar kalau sudah berurusan dengan hukum, alasannya karena membutuhkan dana yang tidak sedikit.

Situasi dan pemahaman yang demikian, sudah menjadi norma, aturan main dan praktik yang dianggap lazim, bahkan akan dianggap ganjil kalau yang terjadi kebalikannya. Hal ini karena sudah dianggap bertentangan dengan norma umum, maka dari itu, Artidjo adalah anomali.

Di mana anomalinya, Hamid Basyaib menyebutnya dengan Artidjo Alkostar sebagai kitab keadilan. Apa makna dari pernyataan itu, Basyaib memang tidak menguraikan dalam tulisannya, namun ia memberikan makna pada perjalanan hidup sang tokoh. Ia adalah antitesa dari publik figur yang berprofesi sama, di mana orang lain bergelimang kemewahan dan posisi, tapi tidak bagi Artidjo. Harta yang ia tinggalkan sebagai seorang yang pernah menjabat Hakim Agung tidak sampai angka Rp1miliar, ini benar-benar ironis, bukan?

Anomali Sosial

Anomali dapat diartikan dengan istilah keganjilan, keanehan atau bahkan penyimpangan dari kebiasaan, keluar dari keadaan normal yang dilakukan oleh mayoritas. Setidaknya begitu arti harfiah dari Webster’s New Dictionary of Synonyms (1984) kamus psikologi (1989).

Sebagai contoh, di negara maju, kalau ada orang yang membuang sampah sembarangan, tidak tertib lalu lintas, menyerobot antrian orang lain, maka itu dapat disebut anomali. Namun sebaliknya kalau ada anak muda yang mengendarai motor, lengkap dengan dua spion, helm dan taat pada aturan lalu lintas, bagi kelompok seusianya bisa saja itu dianggap anomali, karena yang umum terjadi justru sebaliknya.

Anomali Artidjo adalah gejala sosial masyarakat kita, sosoknya langka, dan tipe manusia seperti itu cukup mencolok di masyarakat. Karena kehadirannya sering dianggap tidak sama dengan gejala pada umumnya.

Lantas bagaimana anomali Artidjo mampu menjadi sesuatu gerakan baru tidak hanya pada tataran bidang yang almarhum geluti, melainkan meluas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Maka dari itu, kita perlu melakukan gerakan politik pembeda dengan konsep anomali Artidjo.

Gerakan politik pembeda adalah gagasan yang mengedepankan alternatif sikap, pandangan dan perilaku yang secara normatif adalah hal yang seharusnya. Namun pada praktiknya ia sudah jauh dari yang diharapkan, justru yang terjadi malah sebaliknya. Sebagai analogi misalnya, jika melawan arus lalu lintas sudah dianggap hal wajar oleh pengendara motor, maka harus ada satu sosok yang berani melawan dengan menghadangnya.

Kalau ada yang tidak mau antri, maka harus muncul sosok yang berani menegurnya. Kalau ada orang yang tepat waktu sesuai jadwal acara maka cara menghormatinya adalah dengan memulai acara tanpa harus menunggu lainnya dan begitu seterusnya.

Di kehidupan masyarakat, banyak hal yang sebenarnya tidak sesuai tapi dianggap sebagai hal yang lumrah dan biasa karena sudah mendarahdaging dan membudaya dalam alam berpikir serta perilaku keseharian. Hal sederhana seperti tidak mau antri, mentalitas menerabas, membuang sampah sembarangan, tidak tepat waktu dan begitu seterusnya sudah menjadi hal lumrah dan mendapatkan pemakluman dari masyarakat.

Maka untuk menyadarkan masyarakat dibutuhkan tindakan yang anomalistik. Harus ada pembeda dari kebiasaan dan mentalitas buruk seperti itu. Resikonya tentu kita tahu sendiri, anggapan sok paten, dan sok yang lainnya akan mudah dilemparkan oleh publik, tapi menjadi sebuah anomali memang mensyaratkan menerima resiko tersebut.

Implikasi dari gerakan anomali sosial akan menciptakan budaya unggul, orang akan malu kalau menerabas lampu merah, membuang sampah sembarangan dan tidak mau antri. Hal yang paling jauh akan membangun budaya integritas dan profesionalitas dalam bidang pekerjaan.

Orang akan malu kalau KKN, tidak seperti kebalikannya, masih bisa tertawa dan tersenyum, padahal tangan sudah diborgol dan menggunakan rompi orange. Bukankah itu fenomena yang sudah biasa kita saksikan?

Salah satu warisan dari Artidjo Alkostar adalah tentang bersikap dan bertindak anomali dalam konteks kehidupan sosial yang tatanannya sudah sedemikian semrawut tidakkaruan. Hal-hal yang tidak baik mendapatkan pemakluman, menjadi hal biasa padahal merusak sendi-sendiri kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dan tentu nilai-nilai agama. Adigium terkenal dari judul novel yang mengkisahkannya ‘Sogok Aku, Kau kutangkap’ adalah cerminan bagaimana ia sesungguhnya.  WASPADA

Penulis adalah Dosen Departemen Ilmu Filsafat Universitas Pembangunan Panca Budi

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2