Agama Dalam Hukum 3 Tahap - Waspada

Agama Dalam Hukum 3 Tahap
Oleh M Ridwan Lubis

  • Bagikan

Hukum tahap ketiga, pikiran manusia tidak lagi mencari ide absolut yang asli yang menakdirkan alam semesta tetapi mulai mencari hukum yang dapat menemukan fenomena yaitu menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah dan memiliki kesamaan

Apabila diikuti pendekatan soiologis terhadap perkembangan alam pikiran manusia, August Comte merumuskannya menjadi hukum tiga tahap. Tahap pertama disebut dengan teologis merupakan periode paling lama dalam sejarah kehidupan umat manusia.

Pada masa itu, dipercayai manusia diciptakan oleh zat adikodrati yang ditandai dengan kepercayaan manusia terhadap jimat. Periode ini kemudian dibagi menjadi tiga yaitu fetishisme, politheisme dan monotheisme.

Adanya pandangan tentang tiga tahap yaitu teologi, menunjukkan bahwa manusia tidak mampu menjelaskan asal muasal terbentuknya model kepercayaan dalam kehidupan umat manusia.

Manusia secara historis, dipahami baru mampu menjelaskan tentang bentuk kepercayaan umat manusia ketika dimulai zaman pra sejarah. Padahal jauh sebelum itu, umat manusia sesungguhnya telah mencapai derajat perkembangan kehidupan yang cukup penting.

Pada masa Nabi Idris diutus ke dunia Beliau dengan semangat belajarnya yang tinggi telah memiliki kemampuan menulis dengan pena, menjahit pakaian sementara manusia pada waktu itu baru mengetahui cara membalut diri manusia dengan kulit.

Demikian pula telah memiliki pengetahuan dalam hal belajar berhitung. Hal itu menunjukkan bahwa dalam hitungan ribuan tahun yang lalu manusia sesungguhnya telah memiliki potensi kecerdasan.

Tetapi sayang karena manusia lebih dipengaruhi oleh tradisi dan adat istiadat, potensi kecerdasan itu menjadi hilang sampai kemudian datang masa sejarah. Lebih dari itu, Nabi Adam AS telah memperoleh pengetahuan tentang keesaan Tuhan dan bagaimana cara mendekatklan diri kepadaNya.

Atas dasar itu, konsep tentang monotheisme tidak bisa dipersamakan dengan akidah tauhid karena untuk mencapai tauhid tidak perlu melalui proses animisme, dinamisme, politeisme, henoteisme kemudian baru sampai kepada monotheisme.

Karena itu asal muasal kepercayaan manusia terhadap hakikat yang Ada adalah diciptakan oleh Yang Mahapencipta.

Konsep keesaan yang disebut tauhid tidak memerlukan proses melalui jenjang pengamatan dan pengalaman tersebut tetapi berbekal pengetahuan yang ditanamkan Allah pada diri manusia yang disebut fitrah, manusia bisa langsung kepada tauhid.

Cuma memang dalam perjalanan kehidupan manusia sering terjadi pembelokan kepercayaan akibat dari pengaruh pemahaman, penghayatan dan fakta kehidupan yang menghasilkan tradisi sehingga manusia berubah menyembah berhala.

Sejarah kehidupan umat Nabi Musa yang sudah diberi pelajaran tentang tauhid. Namun karena kepandaian Samiri berhasil mengalihkan pemikiran masyarakat tentang Tuhan. Dari yang semula Maha Esa kemudian berubah keyakinan menjadi musyrik dengan menyembah berhala sebagai hasil rekayasa seorang bernama Samiri.

Hukum tahap kedua adalah metafisik yang merupakan tahap transisi dari teologis ke positivistik.Tahap ini ditandai dengan terbentuknya pengetahuan manusia terhadap adanya hukum-hukum alam yang asasi yang dapat ditemukan dalam akal budi.

Pada tahap ini, manusia percaya bahwa pikiran bukanlah ciptaan adikodrati akan tetapi merupakan kekuatan abstrak yaitu sesuatu yang betul-betul dianggap ada dan mampu menciptakan semua fenomena (Nanang Martono, Sosiologi Perubahan Sosial, 2011:35).

Pada tahap ini sesungguhnya, satu langkah manusia sudah sampai kepada tahap pengetahuan tentang Absolut yaitu Tuhan. Tetapi karena kekuatan rasio lebih kuat mendorong manusia kepada yang inderawi maka manusia memadakan hanya sampai pada kekuatan abstrak tanpa menjelaskan yang dimaksud kekuatan abstrak itu.

Hukum tahap ketiga, pikiran manusia tidak lagi mencari ide-ide absolut yang asli yang menakdirkan alam semesta tetapi akal manusia mulai mencari hukum-hukum yang dapat menemukan fenomena-fenomena yaitu menemukan rangkaian hubungan yang tidak berubah dan memiliki kesamaan.

Pikiran manusia memadakan pengetahuan terhadap gejala alam dan itulah yang mendasari pikiran positivistik. Sejalan dengan bentuk pengetahuan yang hanya memadakan pada hal-al yang rasionalitas-inderawi.

Maka manusia mengabaikan adanya kekuatan absolut yang menjadi pemilik dan pengatur alam semesta yaitu Yang Mahamencipta, Mahamengatur yaitu Tuhan Yang Maha Esa.

Akibatnya, pemikiran yang memadakan pada fenomena alam semesta yang diperoleh melalui data empiris dan eksperimen akan memungkinkan manusia memperoleh hukum yang bersifat uniformitas yang dioperilkeh melalui dasar pembuktian (evidence base).

Padahal dalam sejarah kehidupan umat manusia, sering ditemukan terjadinya penyimpangan terhadap uniformitas atau keseragaman alam semesta.

Atas dasar itu, pada hakikatnya, manusia tidak bisa memastikan akibat dari perbuatannya akan diperoleh keseragaman dengan yang lalu karena setiap perbuatan dipengaruhi berbagai faktor lain dan titik kulminasi dari faktor adalah ketentuan Tuhan nyang disebut Qada dan Qadar.

Karena pada dasarnya, setiap benda di alam semesta khususnya manusia memiliki sifat dan karakter masing-masing yang tidak bisa dilakukan generalisasi. Sebagai contoh, seorang yang berusaha sekuat tenaga melakukan usaha ternyata hasil yang diperolehnya tidak sama dengan yang diperoleh orang lain.

Dalam pandangan agama, setiap keberhasilan atau kegagalan manusia selalu mengandung hikmah. Dan melalui kesadaran terhadap hikmah ilahi manusia akan berupaya mendekatkan diri kepadaNya.

Melalui kesadaran terhadap hikmah ilahi, setiap orang akan menghindari munculnya sikap fatalistik ketika datang kegagalan dan sikap arogansi ketika datang keberhasilan.

Penulis adalah Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

  • Bagikan
Search and Recover