Waspada
Waspada » Ada Sajadah Di Pemuda Pancasila Oleh Ibrahim Gultom
Opini

Ada Sajadah Di Pemuda Pancasila Oleh Ibrahim Gultom

Penulis adalah Guru Besar Unimed.

 

 

Fenomena ini adalah dimensi baru dari perjalanan sejarah PP yang mulai mengarah ke paradigma baru. PP ingin bukan hanya berkiprah dalam kepentingan dunia semata, melainkan ingin mengabdi kepada Allah SWT…

Momen Ramadan tahun 2021 ini ada yang menarik dari kegiatan kepengurusan Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila Sumut. Mereka membagikan 2000 lebih sajadah ke masjid-masjid dan sejumlah elemen masyarakat.

Sajadah ini dibagikan simbolis pada buka puasa bersama Kamis, 24 Ramadhan di kediaman ketua MPW-Pemuda Pancasila, Kodrat Shah, dihadiri sejumlah MPC se-Sumatera Utara beserta organisasi sayap dan undangan lainnya. Ada juga sejumlah paket Sembako yang diberikan terutama kepada kaum duafa keluarga besar Pemuda Pancasila (PP).

Pembagian sajadah ini merupakan salah satu program bidang keagamaan dan kerohanian Majelis Pimpinan Pusat (MPP) PP yang wajib dilaksanakan di tingkat wilayah dan cabang seluruh Indonesia. Kamis 11/3/2021 telah diluncurkan gerakan nasional sejuta sajadah yang diinisiasi MPP-PP yang langsung diresmikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin secara virtual.

Sejuta sajadah ini akan didistribusikan ke 275 masjid di seluruh Indonesia. Di bungkusan sajadah yang dibagikan itu tertulis pesan religius yang berbunyi ”Sujud itu indah, kau berbisik di bumi didengarkan di langit”.

Berbicara sajadah berarti asosiasi pikiran tertuju kepada sebuah benda yang fungsinya tempat sujud kepada sang Khaliq. Tahun 80-an kelompok Bimbo melukiskan makna sajadah dalam lagunya berjudul “Sajadah Panjang”, bermakna tempat sujud tak pernah tergulung karena tak hentinya digunakan sebagai alas muka untuk bersujud kepada Allah SWT.

Namun bagi PP, bersujud di atas sajadah dimaknai sebagai wujud penghambaan diri kepada Allah melalui shalat dan sebagai wadah berbisik lewat doa kepada Allah. Sekaligus meyakinkan, sujud itu indah jika khusyuk dan tawaduk serta percaya segala doa dikabulkan di atas Arsy (langit) meski dilakukan di atas bumi sebagaimana terdapat dalam firman-Nya (QS. 2: 186).

Lain lagi kiprah PAC-PP Cileduk, Tangerang Banten yang menyantuni puluhan anak yatim dan mengajak mereka ke pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian Hari Raya Idulfitri dengan cara memilih sendiri. Budi baik PAC-PP Cileduk bersama dengan Srikandinya ini tampaknya diilhami oleh himbauan Allah dalam Al Qur’an yang berbunyi:

Apabila mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang anak yatim, katakanlah: ”Mengurus mereka (anak yatim) secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, maka mereka adalah saudaramu” (QS. 2: 220).

PP Cileduk seolah tampil sebagai pengganti orang tua anak yatim dalam urusan baju lebaran. Meski mungkin tak seberapa dari segi nilai, namun amalan itu patut diajungkan jempol alias terpuji yang wajib ditiru oleh anggota PP lainnya.

Makna mendalam dari amal “berbagi sesama” apalagi kepada anak yatim merupakan perwujudan pengamalan keagamaan yang sejati yang lahir dari lubuk hati yang mendalam serta wujud kepatuhan kepada perintah Allah. Artinya, PP Cileduk telah berusaha menghindar dari ancaman Allah jika mereka menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin (QS. 107: 2-3).

Kedua fenomena di atas adalah dimensi baru dari perjalanan sejarah PP yang mulai mengarah ke paradigma baru. PP ingin bukan hanya berkiprah dalam kepentingan dunia semata, melainkan ingin mengabdi kepada Allah SWT di atas sajadah yang baru diluncurkannya, beramal jariah dan berbuat baik kepada umat tanpa memandang apa agama dan sukunya.

Tampaknya PP secara lembaga maupun individu sudah mulai mengintip adanya kebahagiaan Akhirat yang selama ini terlupakan akibat glamornya dunia—disebabkan situasi yang memaksa. Selain itu semakin pandai memaknai arti keseimbangan antara urusan dunia dan Akhirat sebagaimana pesan Allah dalam kalam-Nya (QS. 28: 77). Yang apabila urusan dunia dikedepankan maka yang akan didapatnya hanyalah kerugian (QS. 103: 2).

Yang paling sedih adalah jika amal masih minus sementara hidup sudah menghampiri kematian. Tentu timbul perasaan takut jika terus-menerus mendustakan nikmat pemberian Allah apalagi jika sudah melimpah ruah (QS. 55: 16).

Jika sedekah sajadah serta menyantuni anak yatim ini dilakukan Ormas pemuda berbasis Islam mungkin tidaklah begitu asing dipandang orang banyak. Karena gerakan amal semacam itu sudah bagian dari program perjuangannya.

Tetapi karena ini diamalkan oleh Ormas PP yang dipandang sebagai organisasi preman membuat anggota masyarakat harus mengevaluasi ulang sikap dan pandangannya yang terkesan miring selama ini. Bukan tidak mungkin suatu ketika angota PP bisa tampil sebagai imam dan khatib di masjid dan demikian juga tampil sebagai rohaniawan yang mampu berkhotbah di gereja bagi yang beragama Kristen.

Membangun sikap dan prilaku religius bukan berarti harus keluar dari habitat lama yang dicirikan memiliki keberanian dalam bertindak seperti halnya menghadapi anggota PKI pada masa lalu. Namun setiap bertindak tentu tidak boleh lari dari koridor hukum. Dalam konteks ini boleh jugalah meminjam semboyan seni bela diri tarung derajat yang berbunyi “Aku ramah bukan berarti takut. Aku tunduk bukan berarti takluk”.

PP adalah Ormas yang roh dan khittah perjuangannya berkomitmen mempertahankan Pancasila, menjaga keutuhan NKRI dan menjunjung tinggi semangat Bhinneka Tunggal Ika. Keberadaannya tentu diperlukan guna mengikuti perjalanan bangsa dan negara ke depan sekaligus mengontrol kadar pengamalan ideologi bangsa dari masa ke masa.

Jadi bukan organisasi hura-hura apalagi preman sebagaimana dituduhkan selama ini. Hanya sejarah yang membuat mereka bernasib sial yang takdirnya lebih populer dan dikenal sebagai Ormas preman daripada Ormas yang setia mengawal Pancasila.

Perlu diketahui bahwa sebutan preman pada organisasi kepemudaan pada tahun 40-an hingga awal kemerdekaan terutama di kota Medan belum begitu familiar di telinga masyarakat. Bahkan istilah preman dalam bahasa Melayu pada awalnya hanya dua arti; “bukan tentera” dan “milik sendiri”.

Jika kita menyebut orang preman, itu berarti orang yang bukan pasukan bersenjata (tentara) alias warga sipil. Jika menyebut pakaian preman berarti memakai pakaian biasa atau bukan baju dinas atau seragam. Selanjutnya mobil preman berarti mobil sendiri yang bukan diperuntukkan untuk kepentingan orang ramai atau umum.

Tidak satupun artinya yang mengarah pada konotasi negatif apalagi sebutan kepada organisasi pemuda apapun. Jika diperiksa dalam kamus lama bahasa Indonesia karangan Poerwadarminta terbitan Balai Pustaka tahun 1987 maupun kamus Melayu, kata “preman” belum ada dimasukkan sebagai arti yang negatif.

Itu baru ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang bermakna orang jahat (penodong, perampok dan pemeras). Jika ditelusuri tentu tidak lepas dari dinamika masyarakat Medan itu sendiri. Kata preman berasal dari kata vrij man dalam bahasa Belanda yang berarti orang bebas.

Orang bebas dimaksud adalah orang yang sering membela buruh kebun yang teraniaya oleh mandor pada zaman kolonial Belanda. Pada masa kemerdekaan vrij man berperan menjaga keamanan dan ketertiban serta mempertahankan kemerdekaan.

Hingga di sini makna preman masih berkonotasi positif hingga tahun 70-an. Lahirnya makna konotasi negatif pada kata preman tidak bisa terlepas dari sosok yang bernama Olo Panggabean.

Sang godfather ini pada awalnya bergabung di MPW-PP pada masa kepemimpinan Efendi Nasution (Pendi Keling). Namun keluar dari PP dan mendirikan Ormas pemuda yang diberi nama Ikatan Pemuda Karya (IPK) pada tahun 1967.

Olo Panggabean lebih menekuni bisnis judi beromzet besar yang berpotensi menyuburkan premanisme karena mengawal bisnis haramnya. Tidak jarang berbenturan dengan orang lain terutama anggota PP yang juga punya “lahan” di lapangan.

Terkadang bentrok fisik tidak bisa dielakkan sehingga menimbulkan korban jiwa. Sejak itulah muncul gelar preman menjadi suatu kebanggaan meski berkonotasi negatif dan lama kelamaan semakin mantap dan akrab di telinga orang Medan.

Berarti preman Medan punya andil besar mempopulerkan dan menguatkan istilah preman berkonotasi negatif ini dalam KBBI. Belakangan muncul pula istilah “preman lontong” yang menghunjuk pada preman yang lemah, penakut dan pengecut yang sifatnya berpura-pura preman dan sok preman yang sumbernya juga belum jelas diketahui.

Terlepas dari riwayat PP yang sudah terlanjur dilabelkan sebagian anggota masyarakat sebagai ormas preman bukan berarti surut untuk berbuat kebaikan. Teruslah menebar kebaikan serta berkiprah dengan karya amal yang bisa manfaatnya dirasakan masyarakat luas apalagi amalan yang berbasis keagamaan.

Walaupun masih ada anggota masyarakat memandang miring kepada dirimu tetaplah istiqamah dalam kesabaran dan menjadikan Ormas PP ini jembatan menuju surga yang diidam-idamkan. Tunjukkanlah dirimu secara perlahan sebagai anggota masyarakat yang berguna hingga suatu ketika mereka mencintai dirimu.

Ingatlah bahwa Umar bin Khattab saja pada awalnya bajingan tengik alias preman

Besar. Namun Allah membuka pintu hidayah kepadanya sehingga dia menjadi ulamasekaligus khalifah di zamannya.

Ingatlah kata Tuhan dalam kitabnya: ”Belum tentu orang yang memperolok-olok suatu kaum – baik laki-laki maupun perempuan – lebih baik dari kaum yang diperolok-olok atau yang direndahkannya. (QS: 49:11).

Mengakhiri tulisan ini serta berhubung masih suasana lebaran, saya ingin menyapa teman-teman anggota Pemuda Pancasila serta masyarakat luas dengan ucapan: ’”Selamat Idulfitri 1 Syawal 1442 H. Mohon maaf lahir dan batin, taqobbalallohu minnaa waminkum”.

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2