Waspada
Waspada » Virus Corona Iblis Bagi Dunia Olahraga
Olahraga

Virus Corona Iblis Bagi Dunia Olahraga

TAK terbantahkan, bahwa virus corona Covid-l9 yang saat ini menyerang sekira l52 negara di berbagai belahan dunia, dampaknya lebih dahsyat dari bom nuklir.

Nuklir dipastikan mampu membunuh ratusan ribu manusia di tempat atau negara di mana “benda pembunuh” tersebut dijatuhkan atau disebarkan, juga dapat mengancurkan fisik kawasan.

Tak heran jika nuklir bertahun-tahun dikhawatirkan masyarakat dunia. Berbagai negara,  memperdebatkannya. Pantas jika Amerika Serikat masih saja “sewot” terhadap Iran dan Korea Utara, karena kedua negara tersebut dicurigai masih memproduksi senjata nuklir.

Di saat-saat Washington DC masih saja repot tentang senjata nuklir, tiba-tiba dari Provinsi Wuhan, RRC telah tersebar virus corona menjalari dunia tanpa ada ledakan atau bahkan letusan ssenjata.

Ribuan manusia sudah menemui ajalnya di berbagai negara. Virus yang tidak terlihat secara kasat mata tersebut, tak memilih siapa yang dihinggapinya. Rakyat jelata, orang biasa, kaum bisnis, politikus, bahkan pejabat negara dirabanya, selanjutnya harus diisolasi. Lebih dahsyat lagi, dokter atau mereka yang bertugas menangani kesehatan pun dijabaninya.

Covid-l9 tersebut bagaikan iblis. Tak terlihat, tapi ia ada dan bersuka ria hinggap pada semua jenis dan golongan manusia. Jika kaum iblis diciptakan untuk menggoda manusia, sebaliknya corona langsung menjadi pembunuh, jika mereka yang dirabanya tidak siap menghadapinya. Rabaan maut tersebut ternyata tak memilih komunitas olahragawan.

Pemain sepakbola, basket AS sudah ada yang terjangkiti, sehingga terpaksa diisolasi selama l4 hari. Dampaknya;  sembuh atau tewas.

Aktivitas “sang iblis” di dunia olahraga itu, jelas membawa dampak yang luar biasa dalam percaturan olahraga di berbagai negara. Jika di bidang olahraga Covid-l9 lebih berperan sebagai “iblis”, sebaliknya terhadap para atlet/olahragawannya, corona siap membunuh.

Godaan yang dilakukan “iblis or” tersebut, telah mengantar kompetisi di Inggris, Italia serta negara lain di Eropa, bahkan Amerika Latin dihentikan dan menunda berbagai pertandingan yang menapaki jajaran dunia.

Jelas berdampak pada tataran ekonomi yang selama ini menjadi hak komunitas olahraga,  akan sangat terasa. Selain menghentikan kompetisi, meskipun ada juga “berani” melakukan pertandingan sepakbola tanpa penonton. Hal ini jelas sangat merugikan klub, karena di Eropa atau Amerika Latin, penonton adalah modal utama demi menghidupan klub.

Pokoknya dari sudut olahraga, corona menjadi “iblis perusak”, sebagai dampak “hobby” Sang Virus meraba kaum atlet atau kelompok penonton yang selama ini biasa berkerumun dan memenuhi stadion.

Jadwal berbagai pertandingan yang dari sudut ekonomi adalah menyawai dan menjiwai para aktivator  kegiatan olahraga, sekaligus bagi kaum olahragawan sebagai sarana meningkatkan prestasi demi kepentingan pribadi masing-masing, kehadiran corono sangat jelas membawa dampak yang sangat negatif.

Terkait masalah serangan frontalistis Covid-l9, Indonesia juga menerima bagiannya. Yang terkena rabaan corona sudah mencapai ratusan. Sekian banyak tempat hiburan ditutup.

Demikian juga sekolah-sekolah diliburkan selama 2 minggu, sebagai antisipasi terhadap kebiasaan Covid-l9 yang suka “menclok” pada kerumunan orang banyak. Beberapa aktivitas olahraga ikut dihentikan sebagaimana yang dilakukan Liga Bola Voli.

Kompetisi sepakbola Liga I dan Liga 2 juga terpengaruh. Kompetisi yang dilaksanakan PT Liga Indonesia Baru (LIB) dihentikan sejak pekan lalu.

Klub-klub sepakbola sebaiknya juga ikut berpartisipasi mencegah menyebarnya virus corona, demi kemanusiaan, bukan hanya kepentingan ekonomi. *

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2