Waspada
Waspada » Turnamen Usia Dini Harusnya Terkoordinasi PSSI
Olahraga

Turnamen Usia Dini Harusnya Terkoordinasi PSSI

Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Banyaknya festival atau turnamen sepakbola usia dini merupakan hal positif bagi persepakbolaan Indonesia. Namun sayangnya turnamen-turnamen usia dini yang digelar pihak-pihak di luar federasi kurang tertata dan terkoordinasi dengan PSSI.

“Dulu wadah pembinaan atau turnamen itu sedikit, tapi terkoordinasi (dengan federasi). Sekarang banyak, tapi tidak terkoordinasi. Tentu baiknya yang banyak ini bisa dikoordinasikan (dengan PSSI),” ujar mantan Ketua Umum PSMS Medan, Idris SE MAP, Senin (22/2).

Dikatakan, menjadi tugas PSSI merangkul pihak-pihak penyelenggara turnamen dengan bisa terkoordinasi denga baik. Menurutnya, pembinaan pemain muda harus dilakukan dengan sinergitas. Tidak hanya berjenjang, pembinaan melalui turnamen usia muda seharusnya diintegrasikan dengan PSSI agar jadwalnya tidak tumpang-tindih.

“Masyarakat dan dunia usaha juga ikut bergerak dan mereka perlu dibimbing. Jadwalnya diatur, jangan sampai tabrakan. Kalau tidak ada koordinasi, latihan terus tapi tidak ada kejuaraannya. Pas di momen tertentu turnamennya yang padat, tidak sempat latihan,” kata Idris.

Di sisi lain, penerapan kurikulum sepakbola nasional dalam filosofi sepakbola Indonesia (Filanesia) mulai menyentuh turnamen-turnamen yang diinisiasi swasta. Dan saat ini hampir semua kelompok umur sejak U-9 hingga U-18 sudah ada kompetisinya.

“Namun sebarannya belum merata dan terlalu terpusat. Menjadi tugas bidang pembinaan usia muda PSSI untuk menggairahkan kompetisi kelompok umur di luar Jawa karena potensi pemain cukup banyak di sana,” kata pemerhati sepakbola ini.

Dirinya juga menyarankan agar PSSI berfokus pada kompetisi usia muda yang mendekati senior. Sementara usia muda di bawahnya, termasuk usia dini, digarap stakeholder yang lain.

“Di kelompok usia bawah ini, PSSI fokus sosialisasi Filanesia, memperbanyak pelatih muda berlisensi, dan aktif menggandeng Pemerintah Pusat maupun Daerah untuk pengembangan sarana bermain bola yang layak. Sekarang ini, masih sangat terbatas lapangan latihan,” katanya.

Selanjutnya, kata Idris, yang paling penting dalam pembinaan sepakbola usia dini harus mempergunakan teori sepakbola. Hampir semua sekolah sepakbola di Indonesia tidak satu pun memiliki pelatih yang menguasai teori sepakbola yang benar.

“Sehingga pemain yang lahir adalah pesepakbola otodidak sehingga di sini peran PSSI untuk mengirim pelatih muda kita belajar sepakbola yang benar, bagaimana menahan bola yang benar, bagaimana cara passing bola yang benar. Dan banyak lagi teori-teorinya,” tegasnya.

“Saya pernah melihat di Seoul, Korea Selatan, anak-anak di sana dilatih teori dulu. Setelah benar baru masuk ke bagaimana bertahan dan menyerang serta game-game yang lain. Inilah yang dilakukan negara-negara Eropa maupun Asia,” ucapnya. (m33)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2