Waspada
Waspada » Sepakbola Tak Pernah Mati Atau Dimatikan
Olahraga

Sepakbola Tak Pernah Mati Atau Dimatikan

KOMPETISI Liga 1 dan 2 oleh PSSI telah diputuskan dihentikan sampai Juli 2020, sebagai amal bakti Federasi Sepakbola Nasional dalam mendukung program/kebijakan pemerintah menanggulangi penularan virus corona (Covid-19)

Keputusan PSSI tersebut  jelas menjamah anggotanya, yakni klub-klub yang bertabur di berbagai daerah Nusantara, termasuk PSMS. Pasukan Ayam Kinantan diistirahatkan sampai akhir Mei 2020, dipersilakan kembali ke rumah berkumpul dengan keluarga.masing-masing.

Pulang kampung atau kembali ke rumah, bukan berarti para pemain dibebaskan untuk berleha-leha, karena mereka tetap menerima gaji bulanannya, meskipun hanya 25 persen. Sebagai seorang atlet professional, tentu di urat nadinya mengalir sikap sportivitas dan kesatrsia. Berarti mereka tentu sadar, bahwa kewajiban untuk tetap berlatih di kediaman masing-masing, adalah tuntutan keprofesionalannya, terutama demi kebugaran fisik.

Kesempatan belajar sendiri, wajib hukumnya bagi siapa pun yang memfungsikan dirinya sebagai atlet pro, bahkan mereka yang amatir, karena hal ini tidak terlepas dari masalah kesehatan seseorang.

Apalagi dengan revolusi teknologi yang telah merambah sudut-sudut belahan dunia, belajar atau bekerja sendiri bukan berarti “alone man”. Semua pemain bisa belajar dengan tuntunan online, baik menjaga atau  meningkatkan kebugaran fisik, tapi juga dapat mendalami teknik atau strategi, yang selama ini diterima dari pelatih.

Tak Pernah Mati

Pada dasarnya di Bumi Pertiwi ini sepakbola tidak akan mati ataupun dimatikan. Sepakbola di Tanah Air pernah dicoba dimatikan kolonial Belanda yang mengangkangi Nusantara selama 350 tahun.

Caranya sepakbola dijadikan isu politik; organisasi sepakbola dilarang, karena diidentivikasi sebagai melawan Belanda, sehingga pribadi yang suka bermain bola harus berada di paying NIVB (Nederlandsche Indische Voetbal Bond).

Sedangkan ketika Bumi Pertiwi dijajah Jepang, kegiatan sepakbola dimandulkan dengan hanya dijadikan bagian dari  “taiso” (senam gerak badan).

Kedua penjajah tersebut sema sekali buta, bahwa sepakbola sudah dikenal sejak zaman baheula dikaitkan dengan kegiatan kanuraga, sehingga di berbagai daerah namanya macam-macam. Di Sulawesi Selatan atau Riau misalnya disebut sepakraga dengan bola dari rotan, kemudian berkembang menjadi cabor sepak takraw.

Di era saat berkembangkan kerajaan Majapahit di abad ke-13 dan 14, semua prajurit kerajaan berlatih diri dengan bola untuk menjaga dan meningkatkan kebugaran tubuh.

Pada zaman kuno di Jepang orang sudah main bola yang disebut kemari, di Tiongkok dengan sebutan tsu chiu, bahkan orang Romawi kuno sudah memainkannya dengan nama episkyros, orang Yunani kuno menyebutnya  harpastum.

Di beberapa Negara Eropa zaman dulu sepakbola dikenal sebagai permainan “kejantanan”, sehingga terkesan buas. Tak heran  jika Raja Edward III (Inggris) melarang sepakbola, demi menghapus sifat “kebinatangan” pemainnya, warisan yang mereka terima dari orang Viking.

Di Amerika Latin, Mexico menjadi pelopornya. Sementara di Jazirah Arab, sepakbola sempat dilarang, karena di zaman  jahiliah kaum laki-lakinya menjadikan kepala orang sebagai bolanya, setelah dipenggal. Negara-negara Arab baru menghidupakan dan mengembangkan sepakbola sesuai dengan dorongan era modernisasi.

Kenapa sepakbola tidak bisa mati atau dimatikan? Ya, karena sepakbola mampu mengombinasikan 8 “jiwa” yakni; Kepahlawanan, Pendidikan, Demokratisasi, Idealisme, Seni. Magistis, Industrialisasi dan Hiburan.

Semoga usaha dan perjuangan berbagai pihak, diantaranya para agamawan, termasuk pula diantaranya komunitas persepakbolaan, pemerintah dan bangsa Indonesia dapat dengan cepat dan cermat berhasil mencegah penularan “the new killers” tersebut, sehingga aktivitas sepakbola bangkit kembali.*

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2