Waspada
Waspada » Sepakbola; Menabur Dana Menciutkan Prestasi
Olahraga

Sepakbola; Menabur Dana Menciutkan Prestasi

APA yang kita prediksi menjadi kenyataan (Wsp 17/10), bahwa tidak mungkin Kompetisi Liga 1 dilaksanakan tanggal 1 November dan Liga 2 November 2020, memenuhi kesepakatan bersama klub, PT LIB, dan PSSI dalam Rapat Luar Biasa di Yogyakarta (13 Oktober 2020).

Pihak Kepolisian ternyata masih belum berani menerbitkan Surat Izin Keramaian. Mau tidak mau PSSI melalui suratnya yang ditunjukan kepada klub-klub Liga 1 dan 2 tertanggal 29 Oktober 2020, memberitahukan tentang ditundanya kompetisi hingga tahun depan.

Penundaan yang untuk ketiga kalinya ini, merupakan implikasi dari “corona war” yang dilancarkan pemerintah. Maklum, setelah  hampir 8 bulan, peredaran Covid-19 masih belum dapat diatasi. Bukan saja oleh Indonesia, tapi ratusan negara mengalami nasib yang sama.

Hanya saja negara-negara Eropa yang kondisi pertempurannya melawan corona tidak banyak berbeda dengan Indonesia, kompetisi sepakbolanya tetap dilaksanakan meski tanpa penonton dan ada pemain yang tertular Covid-19.

PSSI terkesan ingin meniru Eropa, dibuktikan dengan telah disiapkannya beberapa alternatif yang disusun PT LIB sebagai operator kompetisi, namun selalu terganjal pihak Kepolisian, sehingga tak sulit dibayangkan, betapa kerugian yang diderita LIB dan klub-klub.

Kerugian materi sudah pasti, bukan saja dialami LIB, tapi juga klub. Coba hitung, PSMS misalnya, selama periode “lockdown” telah mengeluarkan dana sekira Rp7,5 miliar. Jumlah tersebut tentu tidak berbeda dengan 23 klub Liga 2 lainnya. Sehingga jika dihitung secara kasar 23 x 7,5 m = Rp172,5 miliar.

Klub Liga 1, jumlah dana yang sudah dilepaskan pasti lebih besar, mengingat ada tambahan untuk kontrak pemain asing. Dimisalkan setiap klub Liga 1 harus mengeluarkan dana Rp10 miliar, berarti dana yang tersebar mencapai 18 x 10 miliar = Rp.180 miliar.

Dana yang sudah terlempar ke luar, karena nihil pemasukan adalah Rp172,5 miliar + Rp180 miliar = Rp352,5 miliar. Bukankah dana sebesar itu terbuang percuma? Padahal di sepakbola sebenarnya pengangguran nihil!

Bagi PSSI mungkin kerugian materi meskipun terasa, tapi berdampak tipis pada cashflow, namun dampak yang sangat dirasakan adalah menciutnya prestasi sepakbola nasional, terutama Timnas Senior yang selama ini menjadi tumpuan harapan seluruh rakyat, demi martabat dan harga diri bangsa Indonesia.

Di semua manca negara yang bergelut dalam sepakbola, kompetisi adalah  batu loncatan mengembangkan industri/bisnis sepakbola dan merupakan dinamo penggerak pembinaan prestasi. Inilah yang selama delapan bulan sirna di Bumi Ibu Pertiwi ini. Menyedihkan!

Meskipun klub-klub menderita kerugian materi dan prestasi, sewajarnya pemerintah/negara mengucapkan terima kasih. Betapa tidak? Klub-klub selama tidak ada kompetisi, tetap harus membayar honor/gaji pemain dan perangkat pertandingan sebagai konsekuensi adanya kontrak.

Berarti sepakbola telah berbakti mengurangi pegangguran akibat serangan corona.      Coba saja hitung; klub Liga 1 dan 2 biasanya mengontrak 30 pemain + minimal 5 perangkat pertandingan (pelatih, asisten pelatih, pelatih kiper, pelatih fisik dan pembantu), berarti 18 klub Liga 1 + Liga 2 (18 + 24 = 42 klub), dapat menghimpun pemain/perangkat pertandingan 42 x 35, sehingga terserap 1.470 pemain (dibulatkan 1.500 pemain).

Selain itu, sekian ribu pula insan lain (pedagang kaki lima, penjaja makanan, pendukung pembeli tiket pertandingan, pembuat kaos dan lain-lain. Apakah semua ini tidak menyentuh benak Kepolisian? Belum lagi jika dihitung betapa rakyat terpaksa harus kehilangan hiburan bermafaat terkait pendidikan mental bangsa.

Jika memang tidak terdapat solusi, di sektor persepakbolaan, kita pantas “angkat tangan”/salut kepada Kepolisian untuk tidak menerbitkan Surat Izin Keramaian.

Namun kita bisa melihat jelas ada alternatif yang dapat ditempuh dalam wadah sepakbola, yakni tanpa penonton plus diharuskannya pihak televisi menyiarkan semua pertandingan, dengan menurunkan tarif hak siar.

Hal ini sebaiknya dimatangkan pihak Kepolisian, jangan hanya mengkhawatirkan berkumpulnya orang/suporter! Jika Eropa bisa, kita pun pasti bisa, karena sama-sama sedang bertempur melawan corona.#

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2