Waspada
Waspada » Reswandi, Mantan Bek PSMS Bertipikal Keras
Olahraga PSMS Medan

Reswandi, Mantan Bek PSMS Bertipikal Keras

Waspada/Arianda Tanjung

MEDAN (Waspada): Reswandi adalah satu dari sederet mantan pemain PSMS yang kiprahnya ditakuti para pemain depan lawan di era tahun 1990-an hingga 2000-an.

Pasalnya, saat berhadapan satu lawan satu dengan striker lawan, Reswandi tidak segan-segan melakukan tekel keras, bahkan beberapa kali berujung keributan dengan pemain yang ditekelnya.

Reswandi pun mengakui bila dalam sepakbola, seorang pemain memang harus memiliki karakter agar bisa dikenal masyarakat khususnya suporter. Dan dirinya menilai bila karakter yang cocok untuk pemain belakang adalah bertipikal keras.

“Saya memilih bertipikal keras, tapi tidak ada niat untuk bermain kasar terlebih hingga menyakiti lawan. Menurut saya ketika satu atau dua kali pemain lawan kita kerasi, maka yang ketiga kalinya dia akan berpikir berulang-ulang untuk melewati saya,” ujarnya, Jumat (15/1).

“Apalagi inikan PSMS yang memang terkenal dengan permainan keras dan rap-rapnya. Kalau sudah berseragam PSMS, berjibaku di lapangan hingga kaki terluka, bahkan patah sekalipun tidak akan terasa,” tegas pemain yang membela PSMS di tahun 1999-2001, 2004-2006, dan 2010-2011.

Dikatakan, pemain bertipikal keras yang dialamatkan kepadanya itu hanya saat berada di dalam lapangan saja. Kalau di luar lapangan, dirinya mengaku tipe yang ramah dan lembut.

“Saya keras kan kalau di lapangan saja. Kalau di luar, bisa tanya sama kawan-kawanlah, saya ini ramah dan seneng bercanda. Intinya kalau baru kenal saya bakal bingung, saat dulu saya sebagai pemain sepakbola,” tambah pria yang juga pelatih tim PPLP Sumut ini.

Diakui pria berusia 41 tahun ini, selain berseragam Ayam Kinantan, dirinya juga sempat membela tim sepakbola profesional lainnya seperti Persijatim (Sriwijaya FC) tahun 2002, PSIS tahun 2003, Persikota tahun 2007, Sriwijaya FC tahun 2008, dan Persik Kediri tahun 2009.

“Hanya saja memang bermain bersama PSMS menjadi suatu pengalaman yang paling berharga, meski hanya mampu membawa PSMS ke semifinal Divisi Utama tahun 2000 dan menjadi juara Piala Bang Yos tiga kali berturut (2004, 2005, dan 2006). Mungkin karena bermain di kampung sendiri,” katanya.

Sedikit bercerita, Reswandi mengatakan untuk masuk PSMS bukan sesuatu yang mudah. Dirinya pada tahun 1999 yang merupakan pemain PS Putra Buana (klub naungan PSMS) mencoba peruntungan ikut seleksi PSMS yang saat itu tim pelatih dikepalai Suimin Diharja.

“Ingat betul saya, waktu itu kebetulan PSMS latihannya di Putra Buana, makanya Bang Suimin minta beberapa pemain Putra Buana ikut seleksi dan dari delapan pemain ada empat pemain lolos. Itulah saya, Slamet Riyadi, Syahbani, dan lainnya,” kata

“Alhamdulillah, saya terpilih. Karena masuknya melalui seleksi ketat, jadi ketika sudah bermain di PSMS performa kita harus konsisten. Kalau angina-anginan atau kadang bagus kadang tidak, kemungkinan besar akan dicoret pelatih,” tegas Reswandi.

Tak lupa dirinya sedikit berkomentar seputar PSMS saat ini. Reswandi berharap ke depan PSMS bisa lebih baik lagi, mengingat masyarakat Sumut sangat rindu dengan prestasi PSMS.

“Selain itu, pengurus PSMS juga harus melakukan pembinaan usia muda, mengingat tim sekelas Barcelona saja melakukan pembinaan pemain muda. Karena nantinya pemain usia muda itulah yang akan menjadi regenerasi dari pemain senior,” ucap Reswandi. (m33)

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2