Regulasi Liga Harus Tegas, Pasti - Waspada

Regulasi Liga Harus Tegas, Pasti

  • Bagikan

BANDA ACEH (Waspada): Koordinator Save Our Soccer (SOS) Akmal Marhali (foto) memberikan pernilaiannya terhadap pelaksanaan kompetisi Liga 1 musim 2021/2022.

Kata dia, pelaksanaan protokol kesehatan yang menjadi Standard Oerating Procedure (SOP) di tengah pandemi Covid-19 sudah berjalan bagus.

                                             

“Catatan khusus ada di sisi teknis dan regulasi. Di sisi teknis wasit banyak melakukan blunder,” kata dia ketika dihubungi Waspada, Kamis (2/9) dari Banda Aceh.

Pengamat sepakbola itu menilai, kini operator kompetisi PT Liga Indonesia Baru (LIB) dan federasi (PSSI) dengan sigap melakkukan penyegaran wasit di Bogor dari 29 Agustus hingga 1 September 2021.

“Catatan lain yang harus dibenahi adalah pelaksanaan regulasi. Jangan lagi ada celah negosiasi seperti kompetisi sebelumnya yang akhirnya memunculkan kontroversi dan masalah. Regulasi harus tegas dan pasti karena ini kunci suksesnya kompetisi,” tukas dia.

Dia memberi contoh, soal penyebutan nama klub misalnya. Kata dia, di regulasi pasal 5  disebutkan peserta, jadwal dan sistem kompetisi, semua klub harus memperhatikan aspek terkait sporting merit dan lisensi klub. “Maka semua harus patuh. Termasuk media bahwa penulisan nama klub. PS Tira, misalnya. Bukan @officialpersikabo,” tukas dia.

Lalu, Akmal juga menyinggung lisensi pelatih kepala berdasarkan regulasi pasal 32 AFC Pro. Dengan begitu, lanjut dia, tak ada dispensasi bagi klub yang pelatih kepalanya tidak memenuhi syarat.

“Bali United memposisikan Stefano Cugurra sebagai manajer dan pelatih kepala diberikan ke Yogi Nugraha. Tapi, Persiraja Banda Aceh masih memakai Hendri Susilo meski lisensinya baru A AFC. Karena itu, LIB elaku operator harus tegas,” tukas dia.

Hal lain, sambung Akmal adalah soal jersey. Saat laga Persipura Jayapura versus Persita Tangerang, jersey kiper sama dengan wasit, kuning. Padahal, di regulasi pasal 43 hal itu tak dibenarkan.

“Lalu, Match Coordination Meeting H-1 tidak boleh lagi asal digelar sehingga terjadi pelanggaran yang harusnya didenda Rp 5 juta. Kasus ini beberapa kali terjadi di Piala Menpora karena kelalaian,” sebut Akmal.

“Kini, tak boleh lagi terulang. Soal laga digelar tanpa penonton dan hanya 299 yang boleh ada di stadion. PSSI dan LIB harus menindak tegas bila ada oknum yang memaksa datang ke stadion. Ingat, regulasi dibuat untuk dilaksanakan, bukan dilanggari,” tukas dia.

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator liga yakin Liga 1 2021/2022 akan selesai pada April tahun depan. Meski, pelaksanaan kompetisi kasta teratas sepakbola nasional tersebut sempat mengalami pemunduran jadwal.

Semula Liga 1 2021/2022 dilaksanakan pada 20 Agustus. Akan tetapi, terpaksa diundur ke 27 Agustus sesuai kesepakatan antara pemerintah dan Kepolisian Republik Indonesia (Polri).

Format Liga 1 musim ini berbeda dibanding musim-musim sebelumnya. PT LIB terpaksa melakukan perubahan karena dampak pandemi virus corona. Seluruh pertandingan Liga 1 digelar di Pulau Jawa dengan menggunakan sistem bubble to bubble. Semua laga dilangsungkan tanpa penonton dan menerapkan protokol kesehatan ketat.

“Sampai saat ini, skema liga masih sesuai jalan sehingga kita bisa rampung pada April 2022. PT LIB optimistis,” kata Direktur Operasional PT LIB, Sudjarno.

Kendati begitu, PT LIB memiliki tantangan tersendiri dalam menyusun jadwal pertandingan. Berdasarkan Instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 38 Tahun 2021, laga Liga 1 bisa digelar di wilayah yang PPKM Level 3 dan 2.

Selain itu, maksimal setiap pekannya Liga 1 2021/2022 digelar sembilan pertandingan. Kondisi tersebut membuat PT LIB harus memutar otak dalam menyusun jadwal.

“Sebisa mungkin nantinya kami lakukan akselerasi. Kami memakai jeda-jeda waktu di sela kompetisi dengan mempertimbangkan agenda internasional timnas Indonesia seperti SEA Games,” ujarnya. (b04/C)

  • Bagikan