Waspada
Waspada » PSSI Menggantung, PSMS Terkatung-katung
Olahraga PSMS Medan

PSSI Menggantung, PSMS Terkatung-katung

Kolom Olahraga Eddi Elison

PENGURUS PSSI  sampai saat ini belum berani memutuskan, kapan kompetisi Liga 1 dan 2 dimulai, sehingga 48 klub menjadi terkatung-katung nasihnya. Terutama 24 klub yang tergabung dalam Liga 2 bagaikan “krekot tumbuh di batu, hidup segan mati tak mau”.

Sedangkan 18 klub Liga 1 masih bernafas dengan terengah-engah. Bisa dimengerti mengapa klub Liga 2 “hidup segan mati tak mau”, karena ke-24 klub itu  umumnya merupakan klub yang minus sponsor, sehingga tergantung penuh pada kemampuan PT yang menjadi pemilik dan pengelolanya, termasuk tentunya PSMS Medan.

Bayangkan, dengan tergantungnya nasib klub-klub tersebut, berarti saat ini di Indonesia sedang “terkapar” 48 perusahaan khusus sepakbola yang mengantar pula industri olahraga khusus bidang sepakbola hanya “rancak” tertulis di dalam bab dan pasal-pasal UU Sistem Keokagaraan Nasional, tapi sama sekali tidak bermakna. Pantas jika ada yang bertanya: “Apa gunanya UU SKN tersebut?”

Terkait masalah ini kita mencoba menakar kondisi skuad Ayam Kinantan yang  saat ini seakan-akan terlentok, karena PT Kinantan Medan Indonesia mau tidak mau harus tetap eksis mengelola dan membina klub tersebut.

Padahal dasarnya sudah bertentangan dengan prinsip berusaha. Siapa pun yang membangun sebuah perusahaan, dipastikan berusaha menjadikan perusahaan itu eksis total dan sehat, bukan eksis-eksisan atau harus merugi seperti sekarang.

Apalagi perusahaan yang bertemali dengan olahraga, bukan saja punya misi “cari duit”, tapi juga mengemban misi nasionalisme, demi perjuangan meningkatkan harkat dan martabat bangsa dan negara.

Bayangkan, sejak Januari hingga Desember 2020 kas PSMS sudah “bolong” sekira Rp7,5 miliar tanpa pemasukan sama sekali, kecuali subsidi yang diberikan PT Liga Indonesia Baru sebagai operator kompetisi Liga 1 dan 2 senilai Rp150 juta.

Jumlah miliaran itu, diperuntukkan untuk TC, bayar gaji pelatih, asisten pelatih, pemain dan kelengkapan lainnya, sehingga tidak ada lagi klub yang mampu membayar penuh gaji pelatih, asisten pelatih dan pemainnya. Ada yang 50%, 40%, bahkan ada hanya 25% saja.

Karena hanya berlatih, tapi tak tahu kapan bertanding, saat ini beberapa pemain yang berasal dari daerah lain sudah ada yang meninggalkan Pelatnas Kebun Bunga. Bahkan pemain eks Papua sudah pulang kampung, sambil menyampaikan pernyataan belum tentu kembali.

Suatu hal yang membuat pengurus PSMS agak “pusing” adalah semua kontrak pemain, pelatih dan petugas klub habis di bulan Desember 2020 ini. Berarti setiap klub, harus melakukan kontrak baru di bulan Januari 2021. Umumnya kontrak baru berarti harga pasti naik, padahal kapan dimulai kompetisinya masih kabur.

Kita bisa membayangkan betapa beratnya beban yang dipikul setiap klub sepakbola di bumi Nusantara ini. Tak usahlah mengangkat harkat dan martabal bangsa seperti yang dibebankan UU SKN No.3/2005 dan Permenpora No.010/2015, untuk mengangkat diri sendiri saja klub sudah megap-megap.

Ada lagi hal yang perlu ditanyakan pada pengurus PSSI, yakni apakah para “pakar bola” di jajaran PSSI itu sudah mengantisipasi masuknya sekian juta vaksin anti Covid-19 yang akan disalurkan kepada rakyat secara gratis?

Seharusnya PSSI sudah waktunya berkonsultasi dengan semua pihak yang kelak menguasai vaksin tersebut untuk mendapatkan kepastian penyalurannya ke komunitas persepakbolaan nasional.

Sudah waktunya pemain, pelatih dan ofisial sepakbola di dahulukan penyuntikan vaksin tersebut, lantas dievaluasi hasilnya. Jika menggambarkan kepositifannya, bukan mustahil PSSI memberi gambaran yang pasti tentang jadwal yang pasti dapat dimulainya kompetisi. Ayo, segera berinisiatiflah, agar persepakbolaan nasional tidak terus terkapar seperti saat ini. *

 

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2