PSMS Merugi Hingga Rp500 Juta - Waspada

PSMS Merugi Hingga Rp500 Juta

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): PSSI sudah memutuskan untuk menunda kompetisi Liga 1 dan 2 Indonesia tahun ini hingga November. Keputusan itu diambil usai Mabes Polri tidak memberikan izin keramaian terkait masih meningkatkanya jumlah korban Covid-19.

Sekretaris Umum PSMS, Julius Raja, mengaku dengan keputusan ini maka akan menambah beban tim. Menurutnya, kalau dihitung-hitung, PSMS mengalami kerugian hingga Rp500 juta jika kompetisi ditunda satu bulan ke depan.

“Tadi katanya akan ada tambahan subsidi Rp150 juta. Sementara kebutuhan kami kurang lebih per bulan mencapai Rp650 juta. Kan ini artinya kita tekor Rp500 juta,” ujar pria yang akrab disapa King ini, Selasa (29/9).

Julius pun menyayangkan lanjutan kompetisi ditunda hanya karena masalah izin dari kepolisian. Padahal mestinya masalah izin dari kepolisian harus dibahas lebih awal oleh PSSI dan PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebelum memastikan jadwal kompeti kembali digelar.

Julius Raja menilai pernyataan PSSI terkait pelaksanaan liga ditunda satu bulan hanya untuk cooling down dulu. “Karena kalau pandemi masih terus berlanjut apakah Liga 1 dan Liga 2 tetap akan digelar? Kan ini jadi pertanyaan besar,” katanya.

Lebih lanjut Julius Raja mengatakan, penundaan kompetisi sangat memberatkan klub-klub. Terlebih bagi klub yang sudah jor-joran belanja pemain, termasuk PSMS yang sudah mendatangkan banyak pemain dari klub Liga 1.

Seperti diketahui, PSMS sudah belanja sejumlah pemain dari Liga 1 seperti Ferdinand Sinaga, Paulo Sitanggang, OK John, Imanuel Wanggai, Silvio Escobar, termasuk pelatih asing Gomes De Oliviera agar tim mampu bersaing dan memenuhi target promosi ke Liga 1.

Seperti diketahui, PSSI resmi menunda penyelenggaraan lanjutan Liga 1 dan Liga 2 musim 2020 di tengah pandemi Covid-19 lantaran tidak mendapatkan izin keramaian dari Kepolisian Negara Republik Indonesia.

“Pihak Mabes Polri untuk sementara tidak memberikan izin keramaian karena kasus Covid-19 yang masih tinggi. Kami juga menyadari fakta di lapangan memang demikian. Oleh karena itu, PSSI menghormati dan memahami keputusan tersebut,” ujar Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan dalam konferensi pers daring yang diikuti di Jakarta, Selasa (29/9).

PSSI, Iriawan melanjutkan, mengerti bahwa pertimbangan Polri adalah keselamatan semua pihak dan kemanusiaan. Apalagi, Kapolri Jenderal Polisi Idham Azis telah mengeluarkan maklumat yang melarang jajarannya mengeluarkan izin keramaian di semua tingkatan.

Meski demikian, PSSI berharap penundaan kompetisi itu hanya berlangsung selama satu bulan. Andai lebih, Iriawan menyebut efeknya bisa tidak baik bagi persepakbolaan nasional.

“PSSI memohon ditunda sampai bulan depan karena kalau dimulai November 2020, bisa selesai Maret 2021 sehingga ada waktu untuk persiapan Piala Dunia U-20.

Misalnya dimulai Desember 2020 akan tuntas April dan di sana bulan Ramadhan. Misalnya mundur lagi, sudah sulit karena Mei 2021 ada Piala Dunia U-20,” tutur purnawirawan Polri berpangkat akhir Komisaris Jenderal tersebut.

Sedangkan kalau berandai kompetisi sama sekali tidak bisa bergulir, Iriawan menegaskan bahwa itu dapat memotong satu generasi sepakbola nasional dan berdampak pada keikutsertaan Indonesia di kompetisi-kompetisi AFC serta FIFA.

Meski demikian, PSSI menghormati keputusan dari pemerintah dan Polri. Dia meminta seluruh pemangku kepentingan sepakbola nasional mulai pemain, pelatih, ofisial, klub, suporter sampai elemen lain di ekosistem lapangan hijau untuk menerima dengan lapangan dada.

“Saya mohon tetap semangat, mengikuti dan menghormati putusan pemerintah melalui Polri. Keputusan itu benar-benar mengedepankan alasan kemanusiaan,” ujar Iriawan. (m33)

  • Bagikan