Panglima Perang XIII Patah Leher - Waspada

Panglima Perang XIII Patah Leher

  • Bagikan

PESTA olahraga besar bagaikan perang Badar usai sudah dengan gegap gempita. Pasukan Alang Bobal pun bertahap undur menyeberang sembilan selat melewati tigapuluh sembilan teluk.

Alang Bobal sebagai “Panglima Perang” pulang dengan kepala tertunduk bagaikan cedera berat patah leher. Tidak ada jemputan ikhlas ramai sorak sorai. Tiada elu elu di sela semarak rebana. Tak ada pengalungan bunga, tepak sirih tepung tawar.

Tangkahan sunyi senyap. Pasukan Alang Bobal bagaikan tentara intelijen mendarat lunak dengan payung di tengah malam yang lembab. Lantas melipat payung perlahan dengan mata awas sekeliling, memasukkan payung ke ransel besar, satu persatu berjalan gontai menjurus lunglai ke titik tujuan masing masing.

Tiada yang ditakutkan Alang Bobal untuk dilihat atau melihat siapapun, apatah lagi kuatir dilihat petinggi kerajaan yang tatapannya menuntut tanggungjawab moral.

“Odan harus tunduk malangkah, manyukuri tanah ini masih menerimo kapulangan kami. Meski kami gagal mamonangkan samuo paporangan akan tatapi kami bukan kalah! Bukan!!!” Keluh Alang Bobal lirih kepada Koko Chiepit yang datang menjenguknya.

Koko Chiepit orang pertama yang bermuhibah ke rumah Alang Bobal sejak pasukannya pulang dari tanah emas peperangan nun jauh di seberang lautan. Beberapa menit Chiepit duduk, menyusul datang Ajo Maknee.

“Lu olang sabal, banyak maklum lo. Wa sepakat lu olang bo salah laaa. Lu olang jendelal pelang. Kolok di lestolan lu olang plamusaji lo. Masakan bo enak yang salah koki di dapul bukan lu olang punya plamusaji. Haiyyaaa po patok itu olang kolok menyalahkan lu punya missi kontengen,” celoteh Koko Chiepit.

“Kolok tetanggo paro wargo marah kepado odan, odan tarimo. Masyarakat butuh hasil. Tapi kolok karajaan manyalahkan odan, takutuk lah mereko itu,” tukas Alang Bobal.

“Bo lah. Bo eneng lo kelajaan menyalahkan lu punya olang. Kelajaan maklum kesanggupannya membiayai pelang. Lu olang jendelal tempul, panglima pelang. Lu olang bukan jendelal padepokan yang membangun plajulit. Itu padepokan masing masing halus tanggungjawab. Tapi wa yakin pepelangan kali ini di tanah emas bo sepelti pelang pelang sebelumnya. Pemilik tanah emas sudah tentu tidak lela kasi lu punya pasukan memang semua haiyyaaaa bo patok lo,” Koko Chiepit terus menghibur.

“Betul kata Koko Chiepit itu Lang. Kelajaan pasti bela waang. Hulubalang kelajaan juga campur tangan saat persiapan perang sampai ke pertempuran, gagal berhasilnya kan pengaruh peran hulubalang juga. Istana pasti bekap Alang lah,” ujar Ajo Maknee seolah memberi petuah.

Angkatan Perang XIII yang dipimpin Alang Bobal memang lagi apes, terlempar dari Zona Dasa. Padahal di pertempuran sebelumnya pasukan Alang Bobal meraih Zona Siwa.

Sulitnya tanah pertempuran dengan topografi gunung, lembah, ngarai, kota melewati hutan, sungai kadang lewat udara sama dan sebangun lelahnya saat perjalanan melewati sembilan selat dan tigapuluh sembilan teluk, pergi dan kembali.

“Odan pasrah. Kolok pun di partompuran mandatang di tanoh kito ini odan tak tapakai lagi, odan siap. Biarlah odan mangurusi panjat kalapo, angkat karanjang dan lain lain. Nyuci sampan di tangkahan pun odan siap,” seringai Alang Bobal.

Rokok daun yang baru terpasang dicucukkan lagi ke asbak. Menurut perhitungan Ajo Maknee Alang Bobal sampai 13 kali melakukan hal itu. Merokok pun seperti pahit dan hambar ibarat patah tulang leher minumpun tak sedap.

“Alang Bobal lu olang halus ingat. Hidup ini tanggungjawab. Tiap sikap ada lesiko lo. Lu olang besok ke tangkahan halus tegakkan lu olang punya lehel,” hibur Koko Chiepit.

“Tiru leher ayam kalkun lah Alang. Tegak lurus berdiri! Jangan pala dipikirin kenapa pasukan Alang pulang tanpa sambutan. Memang,harusnya,mau kalah atau menang,pasukan pulang dari perang wajib disambut karena kalian sudah berjuang dengan gagah perkasa membela kerajaan Angin Di Atas Awan ini,” tambah Ajo Maknee.

  • Bagikan