Waspada
Waspada » Nihil Tokoh Olahraga Sebagai Pahlawan Nasional  
Olahraga

Nihil Tokoh Olahraga Sebagai Pahlawan Nasional  

BERTEPATAN Peringatan Hari Pahlawan 10 November 2020 lalu, Presiden Joko Widodo atas nama Pemerintah, menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional untuk 7 tokoh bangsa dari berbagai daerah.

Termasuk dari Sumatera Utara yang dianugerahi  gelar Pahlawan Nasional adalah Mr. S.M. Amin Nasution, Gubernur Sumut ke-5 (23 Oktober 1953 s/d 12 Maret 1956).

Dengan tambahan 7 Pahlawan Nasional baru tersebut, saat ini Indonesia memiliki 191 Pahlawan Nasional terdiri atas 176 pria dan 15 orang wanita. Dari jumlah tersebut tidak seorangpun yang berasal dari kalangan olahraga.

Pantas jika komunitas olahraga mempertanyakan; Apakah tidak ada tokoh olahraga kita yang pantas dianugerahi Pahlawan Nasional? Tentu hal ini menyedihkan, setelah 75 tahun merdeka, tidak satupun tokoh olahraga bangsa ini bergelar Pahlawan Nasional?

Tidak heran jika pakar sejarah dari LIPI Prof. DR. Asvi Warman Adam menulis dalam buku tentang Ir. Soeratin Sosrosoegondo, bahkan dalam seminar yang dilaksanakan Kemenpora  di Yogyakarta 15 September 2013, menyinggung bahwa pemerintah telah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional bagi tokoh yang berjuang di bidang sastra/budaya dan kesenian (W.R.Soeprapman, Ismail Marzuki), namun di bidang olahraga nihil.

Hanya sampai tahap bintang jasa seperti Mahaputra dan lain-lain. Ada kesan seakan-akan mayoritas pahlawan itu hanya untuk orang yang  berjuang secara fisik, tokoh yang mengangkat senjata atau militer.

Pada dasarnya  tujuan pengangkatan seorang menjadi Pahlawan Nasional adalah; menghargai jasa, menumbuhkan semangat kepahlawanan,  menciptakan keteladanan.

UU Prps 33 Tahun 1964 menentukan orang diberi gelar Pahlawan Nasional adalah  warga Negara RI gugur dalam perjuangan dalam membela bangsa dan negara; warga negara RI,  yang berjasa membela bangsa dan negara, tidak ternoda perbuatan yang membuat cacat perjuangannya.

Sedangkan UU No.20 Thn 2009 menentukan gelar Pahlawan Nasional diberikan kepada: Warga Negara Indonesia, Bermoral, Berjasa, Berkelakuan baik, Setia, Tidak pernah dipidana.

Syarat khusus yang harus dipenuhi berjuang untuk kemerdekaan, tidak pernah menyerah, sepanjang hayat melebihi tugasnya, gagasan atau karya besar, jangkauan luas, berdampak nasional.

Terkait dengan masalah kepahlawanan, kita menyampaikan salut pada PSSI yang tahun 2005 telah memajukan Pendiri/Ketua pertama PSSI Ir. Soeratin Sosrosoegondo untuk memperoleh gelar Pahlawan Nasional.

Pengurus PSSI menilai Soeratin yang mendirikan/membangun PSSI 1930 di Yogyakarta (15 tahun lebih tua dari RI) memenuhi semua persyaratan.  Apalagi PSSI didirikan sebagai perlawanan terhadap dominasi penjajah Belanda dalam sepakbola.

PSSI kemudian melaksanakan seminar (23/1- 2005), menyimpulkan Soeratin wajar sebagai Pahlawan Nasional. Namun perjuangan itu dinilai  oleh Departemen Sosial melalui Badan Pembina Pahlawan Pusat (BPPP), bahwa masih diperlukan pendalaman dan surat rekomendasi dari Menpora dan Rumusan hasil seminar tentang riwayat perjuangan almarhum belum ada, seolah-olah dukungan berbagai pihak dan tokoh bangsa mubazsir.

Itulah sebabnya pada tahun 2013,  Menpora Roy Suryo setelah mengumpulkan cucu-cucu Soeratin, kemudian menerbitkan rekomndasi dan melaksanakan seminar khusus, selain menjadikan buku yang ditulis Eddi Elison “Soeratin Sosrosoegondo, Menantang Penjajagan Belanda dengan Sepakbola Kebangsaan” yang mengungkapkan riwayat hidup dan perjuangan Soeratin, sebagai rujukan dalam Seminar 15 September 2013 di Yogyakarta.

Kesimpulan akhir seminar yang menampilkan pembicara DR. Asvi Warman Adam, Prof. DR. Djoko Suryo, Prof. DR.Harsuki M.A, DR. Rumpis Agus Sudarto, Drs. Untung Sukarysdi MM adalah: “Merekomendasikan dan mendukung pemerintah, agar segera menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada pendiri/Ketua PSSI yang pertama Ir. Soeratin Sosrosoegondo, mengingat persyaratan yang diminta UU dan Peraturan Pemerintah lainnya telah dipenuhi.”

Sangat disayangkan, rekomendasi Menpora dan seminar, sampai saat ini belum direalisasikan Depsos, padahal  dukungan melimpah dari tokoh bangsa seperti Try Sutrisno, Maladi, M. Saelan dan Pemda melalui Kepala Daerahnya, seperti Gubernur Jabar Setiawam, Gub.DIY Sultan Hamengku Buwono X, Walikota Yogya, DPRD Sukarkarta, DPRD Yogya, DHN 45, KONI Pusat, Yayasan Bung Karno dan Pengda PSSI seluruh Indonesia.

Karena itu pantas jika bukan hanya slagorde sepakbola, pastilah komunitas olahraga secara menyeluruh, akan terus bertanya, apalah setelah Indonesia merdeka lebih dari 75 tahun dari jutaan olahragawannya, tidak ada yang pantas diberi gelar Pahlawan Nasional?  Seharusnya pemerintah hanya terkungkung oleh birokrasi yang bertele-tele, tapi lihatlah faktanya. #

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2