Waspada
Waspada » MMA Merusak Nilai Silat
Olahraga

MMA Merusak Nilai Silat

CABANG olahraga yang lagi “ngetren” saat ini adalah “Tarung Bebas” yang lebih dikenal dengan nama MMA (Match Material Arts). Atletnya pun disebut petarung.

Seorang petarung biasanya menguasai beberapa cabang olahraga bela diri, seperti petinju, taekwondo, muay thai, gulat, judo, karate, bahkan silat.

Menonton para petarung berkelahi di dalam ring baik secara langsung maupun melalui layar televisi, kita bisa menyaksikan terjadinya baku tinju, baku tendang, banting membanting, lalu bergulat di lantai/kanvas.

Pokoknya ada kebebasan untuk saling mengalahkan. Soal babak belur, wajah mengalirkan darah, bahkan sampai ada yang  pingsan di dalam ring, merupakan hal yang biasa.

MMA ini ternyata sudah pula merambah ke dunia wanita. Kaum perempuan  yang selalu berdalih sebagai kaum yang lemah, begitu mendalami MMA langsung berubah menjadi perempuan yang beringas.

Meskipun ada ketentuan dan peraturan yang harus dituruti oleh setiap petarung apakah dia pria atau perempuan, sulit bagi mereka untuk mengelak dari apa yang digolongkan sebagai kekerasan atau kekasaran.

Ternyata dari rating televisi, diketahui bahwa acara tarung bebas termasuk acara yang disukai pemirsa, tidak saja pemirsa anak-anak muda/pria, tapi juga pemirsa perempuan.

Sehingga tidak mengherankan ada orang yang bertanya; sudahkah watak kebanyakan orang Indonesia berubah menjadi kasar dan beringas begitu?

Tentu saja memerlukan penelitian, untuk menentukannya. Ternyata sampai sekarang belum ada pihak yang melakukan riset khusus tentang hal tersebut.

Perubahan Sikap

Namun berbagai pihak terutama komunitas guru, ada yang menyebutkan bahwa jika saat ini terjadi tawuran antar siswa sekolah atau antar kelompok, bahkan antar penduduk kampung/desa, penyebabnya antara lain adalah akibat terjadinya perubahan sikap masyarakat kita.

Lantas perubahan sikap tersebut  kemungkinan besar disebabkan terpengaruh oleh acara berbagai bentuk kekerasan yang ditayangkan televisi, meskipun KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) membatasi, acara tarung bebas atau bentuk kekerasan lainnya, hanya boleh disiarkan setelah pukul 22.00. Maksudnya agar tidak menjadi tontonan anak-anak.

Apakah larangan KPI itu efektif. Ternyata tidak! Para orangtua kebanyakan tidak dapat mendisiplin putra-putrinya untuk tidak menonton acara kekerasan tersebut.

Apalagi saat ini tidak hanya televisi yang aktif menayangkan acara tarung bebas dan sejenisnya, tapi juga anak-anak dan siapa saja yang punya ponsel dapat menontonnya dengan gampang di layar “tv super mini” tersebut. Untuk anak tersedia berbagai jenis game, tapi yang terbanyak juga game yang menampilkan kekerasan.

Suatu hal yang kita nilai tidak wajar atas cabor tarung bebas ini adalah dimasukkannya silat ke dalam MMA. Bagi bangsa Indonesia, terutama di berbagai daerah, apalagi di desa atau kampung sejak zaman dahulu, silat adalah bagian dari seni atau budaya.

Hampir semua suku di Nusantaran ini, memiliki gaya silat yang diturunikan nenek moyang masing-masing, sehingga silat bukan dianggap sebagai olahraga, tapi seni.

Dalam MMA seni yang dikandung silat sudah tidak dihiraukan lagi, karena digabung dengan cabor lainnya yang bukan berasal dari bumi Pertiwi, tapi dari Negara lain.

Misalnya silat dipadukan dengan judo atau kungfu, bahkan gulat, sehingga keindahan gaya atau gerak yang indah yang ditampilkan silat, terbuang sama sekali.

Hal inilah yang sangat menyesalkan, apalagi kita melihat sendiri di Thailand, silat gaya Negara  tersebut- ”muang thai” memang dipertandingkan, tapi sebelum bertanding pesertanya lebih dulu bersimpuh demi penghormatan terhadap yang Maha Kuasa dan namanya pun tidak diubah; tetap muang thai.

Semoga para pecinta silat tetap berusaha keras mempertahankan nilai-nilai silat sejati, tidak terpengaruh oleh iming-iming duit, karena cabor tarung bebas adalah cabor profesional yang mementingkan gelar, karena di balik gelar itu ada hadiah uang. #

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2