Waspada
Waspada » Medali Emas Olimpiade Tokyo Di Pundak Bulutangkis
Olahraga

Medali Emas Olimpiade Tokyo Di Pundak Bulutangkis

Catatan Olahraga Eddi Elison

KEIKUTSERTAAN Indonesia dalam Olympiade, terutama yang dilaksanakan di Jepang memiliki catatan tersendiri dibanding negara lain.

Ketika Jepang pertama kali diberi kesempatan IOC (International  Organization Committee) menyelenggarakan Olympiade tahun 1964, Indonesia yang baru saja menghelat GANEFO (Games of the New Emerjing Forces) 1963, yakni Pesta Olahraga Negara-negara Kekuatan Baru (Non Block) yang tidak disetujui IOC, Indonesia tetap menjadi peserta Olympiade Tokyo, karena  memenuhi undangan OC Olympic Games Japang tersebut.

Konsekuensi pelaksanaan Ganefo sebagai usaha pemerintah RI dan Negara-negara Non Block menyaingi Olimpiade, beberapa Federasi Olahraga Internasional seperti IAAF (atletik), FINA (renang) Iinternational Weightlifting Federation (IWF/angkat besi) mengancam para olahragawan nasional, tidak dibenarkan ikut pertandingan internasional, termasuk IAAF dan FINA menolak berlaga dengan atlet dan perenang Indonesia di Olympiade Tokyo 1964.

Demi menghargai Komitmen RI-Jepang selama Ganefo, saat mana Jepang ikut ambil bagian, Presiden Suekarno langsung memerintahkan Kontingen Garuda kembali ke Tanah Air, setelah pamit baik-baik pada OC Olympiade yang saat itu lebih dikenal sebagai Olimpiade Musim Panas. Tak lama setelah itu jatuhlah skorsing oleh IOC.

Dalam catatan sejarah keolahragaan Indonesia, Negara kita sudah lama berkenalan dengan Olimpiade. Tahun 1952 (64 tahun lalu) pada Olimpiade Helsinki (Finlandia), Indonesia mengirim 3 atlet: Maram Sudarmodjo (atletik/loncat tinggi) menduduki posisi 20, Habib Sunarko (renang 200 m/tersisih babak pertama) dan Thio Ging Hwie (angkat besi posisi 8).

Menghadapi Olympiade Tokyo yang mempertangkan 33 cabor dan akan dimulai 24 Juli-10 Agustus, Presiden Joko Widodo melepas Kontongen Merah Putih dalam suasana PPKM terhadap ancaman covid-19 di Kompleks Istana Negara Kamis lalu, Presiden Joko Widodo menyatakan agar atlet fokus pada pertandingan dan prestasi.

Sehingga ketika pulang dapat membawa kebanggaan bagi rakyat, bangsa dan negara. Sementara Menpora Zainudin Amali hanya menyebut memperbaiki klasemen Garuda dalam Pesta Olahraga Dunia itu.

Pernyataan Presiden dan Menpora tersebut mengandung makna yang dalam bagi semua anggota kontingen, terutama ke 28 atlet dari 8 cabang olahraga plus 17 ofisial yakni: Bulutangkis (11 atlet), Angkat Besi (5 lifter), Panahan (2 pemanah putri), Atletik (2 atlet), Menembak (1 penembak putri), Dayung (1 pendayung putri), Silancar (1 pesilancar). Jumlah atlet putra 17 orang 12 putri.

Perjuangan meningkatkan ranking, betapa pun tidak dapat dilepaskan dari keharusan merebut medali emas, karena nilainya jauh dibanding medali perak. Oleh karena itu seperti juga pada Olimpiade yang diikuti Indonesia sejak tahun 1982 di Barcelona, bulutangkis dijadikan alat tempur yang paling diharapkan.

Catat; Cabang olahraga ini baru disetujui IOC dipertandingkan dalam Olimpiade, setelah 20 tahun lamanya dibahas dan diujicoba. Cabor ini didemonstrasikan pertama kali dalam Olimpiade Munchen 1972, saat mana Indonesia mengirim Rudy Hartono, Christian Hadinata, Ade Chandra dan Utami Dewi (adik Rudy)  bertarung lawan pebulutangkis dari Inggris, Denmak, Jepang dan lain-lain.

Saat itu yang juara single putra Rudy Hartono. Sayang hasil demonstrasi tersebut, tenggelam dalam pers, akibat terjadi “Black September”, saat mana Pejuang Palestina berhasil menyerbu kompleks asrama menewaskan 11 atlet Israel.

Bulutangkis yang baru dipertandingkan pertama kali dalam Olympiade Barcelona tahun 1992 mengantar Kontingen Merah Putih merebut dua emas atas nama Susi Susanti dan Alan Budi Kesuma, 2 medali perak oleh Ardi Wiranata dan Eddy Hartono/Rudy Gunawan (ganda putra).

Setelah itu setiap kali Indonesia mengikuti Olimpiade, bulutangkis selalu mejadi tumpuan harapan sebagai penambang emas, termasuk pada Tokyo Olimpic Games tahun ini. Dibuktikan ke-11 pebulutangkis plus ofisial diberangkan dua minggu sebelum Kontingen RI resmi bertolak, agar Anthony Ginting dkk dapat beradaptasi dengan cuaca Tokyo yang juga diserang corona.

Beberapa jagoan “laga bulu” produk Asrama Cipayumg itu ada yang sudah mengenal lantai Gedung Masashino Forest Sport Plaza, tempat pertandingan bulutangkis. Bahkan ganda putra Kevin Sanjaya/Marcus Gedeon pernah menjadi juara dalam Japan Open 2018 dan 2019.

Harapan lain untuk merebut medali dipasrahkan kepada lifter asal Lampung Eko Yuli Irawan  (62 kg). Ia pernah merebut perunggu dalam Olimpic Games 2008 Beijing,  lantas dalam Olympiade 2012 London meraih perak, yang diulanginya di Olympiade Rio Jenairo/Brazil 2016.

Cabor panahan oleh duet putri Riau Eka Agatha/Dian Anda Chairunia, bisa diharapkan jika mengacu pada perak yang direbut trio pemanah putri Nurfitriana Saiman, Kesuma Wardani dan Lies Handayani dalam Olympiade Seoul 1988. Sementara cabor lainnya cukup jika berhasil memperbaiki rekor nasional. Maklum mereka ke Tokyo setelah lulus wild card belaka.*

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2