Nurhayati Menghilang Ke Mana?

  • Bagikan

DI tengah kesibukan warga menyiapkan acara peringatan Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober, Alang Bobal pun tersadar bahwa salah satu remaja putri yang paling aktif tak nampak batang hidungnya.

Sesungguhnya tak ada persiapan khusus, akan tetapi karena aturan protokol kesehatan semakin ketat menyusul makin menurunnya angka Covid19, prosesnya jadi nampak tegang dan ribet.

“Kamano si Nur? Apo tak kelen ajak si Nurhayati, hahhhh!?” Hardik Alang Bobal ke arah Incek Ofik Ketua Panitia yang lagi sibuk mengarahkan warga remaja membuat hiasan aula, mengatur jarak kursi, tempat cuci tangan dan sebagainya.

“Udah Alang, tapi si Nur masih mancuci pakaian di tangkahan,” jawab Incek Ofik santai tanpa melihat Alang Bobal.

Seketika naik tensi Alang dengan gaya menjawab Incek Ofik tapi tercegah karena Ajo Makne menggamit bahu Alang lalu berbisik: “Bongak si Ofik tuh Lang. Tak ado orang di tangkahan.”

Amarah yang tercegah spontan menggumpal jadi ledakan bak gunung berapi meletus. “Syaiiiiiton kono razzzam ko yo Ofik!!! Baraninyo ko mambongak ke odan yo!?” Jerit Alang sambil menggebrak meja.

Pertengkaran tak terelakkan. Incek Ofik tak menerima sikap Alang Bobal. Para remaja berusaha melerai.

Sekonyong konyong muncul Koko Chiepit. “Hoiiii lu olang semua apa apaan haiyyaaaa! Tiam lah Tiam! Ini ada libut libut?” Kata Chiepit sambil menyerahkan tiga kardus minuman kaleng kepada Ajo Makne untuk dibagi ke para remaja.

Tiba tiba Koko Chiepit tertawa terbahak bahak setelah diberitahu persoalannya. “Heeee dengal baek baek ya…! Lu punya olang punya hape, baca kolan, nonton tipi dan yutub… Tapi lu olang bo pakek kaliaou looo! Lu olang tak tau atau tak mau ikut itu pelkembangan walga belplestasi. Nulhayati punya olang pigi lual negeli lo. Talitistan. Apa lu olang tak tau? Haiyyaaaaa lu olang bo pakek! ” Repet Koko Chiepit.

“Ngapain Nurhayati ke luar negeri ko? Talitistan di mana itu ko, maksudnya negara mana?” Tanya Ajo Makne

“Itu lah lu olang cali luit saja! Semua cuan. Lu olang takut dagang lugi. Lu olang takut jabatan mandol bongkal muat lewat. Sampek tak tau kolok walga Nulhayati pelkuat negala Indonesia pigi tanding sepakbola wanita lo! Haiyyyaaaa wa pun bo tau Talilistan negala mana, ” Seringai Koko Chiepit.

Dimulai Incek Ofik browsing, akhirnya semua browsing dan ketahuanlah Nurhayati memperkuat Tim Nasional Sepakbola Putri ke Piala Benua. “Lual biasa looo,” tukas Chiepit acungkan dua jempolnya.

“Masuk final timnas kita! Maafkan bongak odan yo Alang,” Teriak Incek Ofik lalu menyalami Alang Bobal.

Merasa bersalah ikut menyulut keributan Ajo Makne terus browsing mendalami keterlibatan Nurhayati warga dusun ini di Timnas, akhirnya Ajo Makne mendapat sesuatu tergambar dari wajahnya.

“Kalian pun hanyo tapaku soal Nurhayati. Baco ini haaaa…. Harris dan Juwita raih

emas dari cabor Wushu,  Khadafi dan Nayra dapat medali perak cabor sepatu roda…,” teriak Ajo Makne.

Seketika aula hiruk pikuk merayakan keberhasilan putra putra yang mengharumkan nama dusun Alang Bobal. Koko Chiepit langsung order mie goreng untuk semua hadirin

“Bakali kali odan bilang, kadang babuih muncung odan ini. Kito pakuat olahrago! Tabukti olahrago mambawo kabaikan, apolagi kabaikan manfaat manjago parsatuan dan kasutuan macam Hari Kesaktian Pancasila ini…,” ujar Alang Bobal lalu menyeruput kopinya.

Minuman kaleng dari Koko Chiepit tak disentuhnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.