KONI Sumut Evaluasi Pelatda PON - Waspada

KONI Sumut Evaluasi Pelatda PON

  • Bagikan
KETUM KONI Sumut John Ismadi Lubis (2 kiri), didampingi Wakil Ketua I Prof Dr Agung Sunarno, Wakil Ketua II Sakiruddin dan Sekum Chairul Azmi, memimpin rapat pleno evaluasi Pelatda PON, Kamis (30/4). Waspada/Jonny Ramadhan Silalahi

MEDAN (Waspada): KONI Sumut mengevaluasi kembali program Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) PON 2020 Papua yang telah berjalan sejak 1 Februari lalu.

Ketua Umum John Ismadi Lubis dalam rapat pleno pengurus KONI Sumut, Kamis (30/4) menyatakan, alasan utama evaluasi terkait pengunduran setahun pelaksanaan PON Papua dari semula Oktober 2020 menjadi Oktober 2021.

Menurutnya, Gubsu H Edy Rahmayadie dan Wagubsu H Musa Rajekshah meminta Pelatda jangan dibubarkan.

Namun perlu dievaluasi karena masanya diperpanjang sehingga harus disesuaikan lagi dengan ketentuan penyelenggaraan keuangan negara.

“Sumut ini hebat dan bermartabat. Saat provinsi lain anggarannya belum turun dan Pelatda PON bubar sebelum evaluasi, Pelatda kita sudah berjalan tiga bulan,” jelas John Lubis.

John Lubis memimpin rapat pleno didampingi Wakil Ketua I Prof Dr Agung Sunarno, Wakil Ketua II Sakiruddin dan Sekretaris Umum Chairul Azmi.

“Kita bersyukur punya Gubernur dan Wakil Gubernur orang olahraga. Anggaran KONI Sumut sudah cair sekitar 40 miliar rupiah sejak bulan Maret 2020 dan mereka meminta pelatda jalan terus, tetapi tentu dengan evaluasi,” tambahnya.

Evaluasi terutama menyangkut pengetatan anggaran keuangan dalam situasi pandemi virus corona yang sedang berlangsung.

Jhon Lubis mengatakan, KONI Sumut mesti sangat berhemat, supaya bisa mengembalikan sebagian anggarannya untuk mendukung upaya penanganan wabah corona yang dilakukan Pemprovsu bersama jajaran terkait.

“Tahun ini kita mesti sangat ketat, karena perjalanan pelatda tambah panjang. Atlet yang malas latihan, berhentikan saja. Itu nanti tolak ukurnya tes fisik yang akan kita lakukan setelah masa pandemi ini berakhir,” tegas John Lubis.

“Kita juga tidak bisa begitu saja memasukkan cabor polo air yang kabarnya baru lolos. Sebab mereka peringkat tujuh dari tujuh tim peserta kualifikasi PON,” ujarnya lagi.

Penyesuaian  Uang Bulanan

Mengenai uang bulanan yang selama ini ditransfer langsung ke rekening para pelatih dan 184 atlet dari 26 cabor peserta Pelatda PON, KONI Sumut juga akan melakukan penyesuaian sesuai perubahan nomenklatur anggaran.

“Saat SK Pelatda kita buat untuk dimulai 1 Februari lalu, namanya uang transport yang jumlahnya bervariasi dikalikan dengan 40 sesi latihan bersama. Sekarang kan mereka latihan mandiri di rumah, jadi tidak boleh lagi memakai istilah uang transport,” papar John Lubis.

“Kita sudah koordinasi dengan pejabat yang berwenang mengenai pengelolaan dan pengawasan anggaran, maka pelatih dan atlet kita sesuai ketentuan boleh mendapat uang saku, uang puding dan uang pulsa,” katanya menambahkan.

Setelah dikalkulasi lagi, katanya, KONI Sumut terpaksa melakukan penyesuaian dengan mengurangi uang bulanan para pelatih dan atlet Pelatda PON sebesar 25 persen selama dalam program latihan mandiri sekarang ini.

“Tahun 2020 ini kita juga tanpa trainang camp, try-out dan kejurnas. KONI sangat prihatin dengan keuangan Pemprovsu yang sangat terdampak akibat pandemi virus corona,” papar John Lubis.

Menurut Prof Dr Agung Sunarno selaku Komandan Pelatda PON Sumut, pihaknya segera menyurati Pengprov Olahraga tentang kondisi ini lengkap dengan dasar hukumnya.

“Alasan utamanya Surat Ketua Umum KONI Pusat tentang penundaan PON 2020 Papua. Juga amanah pengelolaan anggaran dari Pemerintah Provinsi Sumatera Utara,” tutur Guru Besar FIK Unimed tersebut.

Didampingi Sekretaris Pelatda Mesnan MKes dan Wakil Bendahara TP Sihombing, Prof Agung mengatakan uang transport para pelatih untuk 40 sesi latihan perbulan selama ini sebesar 6 juta rupiah.

Dengan pengurangan 25 persen, pelatih berarti nantinya menerima 4,5 juta rupiah sebulan.

Hal sama berlaku bagi para atlet yang terdiri dari tiga kategori, sesuai kans medali dan kelolosan masing-masing ke PON Papua.

“Atlet level satu selama ini mendapat uang transport 5 juta rupiah, level dua sebesar 4,4 juta rupiah dan level tiga sebesar 4 juta rupiah. Semuanya mengalami penyesuaian, seperti halnya para pelatih,” pungkas Prof Agung.

Ketua Harian Pengprov PBVSI Sumut Drs Basyaruddin Daulay MKes melalui pesan WhatsApp yang disampaikannya kepada Waspada, Jumat (1/5), mendukung kelanjutan program Pelatda PON tersebut.

“Bicara program latihan mandiri memang rumit. Di satu sisi latihan dirancang untuk meningkatkan kondisi fisik, tetapi latihan yang tingkat kelelahannya tinggi menyebabkan daya imunitas tubuh menurun.

Karena itu peran dan bimbingan dari pelatih sangat dibutuhkan, supaya agar atlet bisa mejaga tingkat kebugaran dan imunitasnya di tengah pandemi virus corona sekarang ini,” jelasnya.

Mantan Dekan FIK Unimed dua periode itu lantas menyarankan program latihan lebih difokuskan pada flexibilitas dan kekuatan.

“Prioritasnya adalah core muscle  untuk menjaga keseimbangan dan range of motion. Kenaikan intensitas latihan bertahap sedikit demi sedikit,” beber pria yang akrab disapa Baday itu. (m08)

  • Bagikan