Waspada
Waspada » Intensifikasi Latihan Mental Pemain PSMS  
Olahraga PSMS Medan

Intensifikasi Latihan Mental Pemain PSMS  

PADA era kepengurusan PSSI di tahun 1960 hingga 1970-an ada semacam pameo di persepakbolaan nasional yang menyebut pemain-pemain asal Medan suka bermain keras, emosional, apalagi jika kalah di lapangan setiap mengikuti kejuaraan.

Ada lagi yang menggolongkan, bahwa pemain-pemain Medan merupakan pemain yang selalu tidak bisa menerima, bahkan melawan putusan wasit atau pelatihnya.

Sebenarnya sikap emosional di kalangan pemain, bukan hanya dimiliki pemain Medan, terutama PSMS, tapi juga pemain sepakbola secara umum.

Stempel “pemain emosional” terhadap pemain Medan, hanya sekadar permainan mass-media, karena siapa pun tidak bisa membantah, bahwa Ramlan Yatim, Jusuf Siregar, Sunario, Sunarto, Sunardi A, Zulfan, Yuswardi, A Rahman Gurning, Sutrisno dan lain-lain diakui sebagai pemain yang tenang saat bertanding.

Permainan kasar juga milik pemain non PSMS. Buktinya kiper PSMS Miran, patah kakinya, sehingga harus berhenti main bola, akibat dihajar pemain Persija van den Berg dalam satu kejuaraan di tahun 1970-an.

Suatu hal yang pasti, jika kita adalah penonton pertandingan sepakbola yang baik, terutama teliti, bisa mengetahui; mengapa ada pemain yang emosional, suka marah-marah atau ngambek jika ditegur pelatih. Ya, semua itu karena terkait dengan masalah mental pemain.

Kita berusaha untuk mengungkapkan masalah mental ini, terkait dengan sebentar lagi (mulai 1 Dsember) semua pemain PSMS kembali menjalani Pelatnas Kebun Bunga.

Biasanya yang menjadi sasaran masyarakat hanya tertuju pada latihan keterampilan teknik (technical skill) atau keterampilan skill belaka, kurang perhatian pada keterampilan mental (mental skill) pemain.

Padahal “trio ketrampilan” ini tidak bisa dipisahkan. Apalagi bagi PSMS yang dalam Kompetisi 2021-2022 menargetkan; “Harus kembali ke Liga 1”, berarti latihan keterampilan mental  atau penampilan psikologis mutlak menjadi bagian dari program latihan.

Khusus tentang masalah target, kita tertarik pada pola James E Locke yang mengaitkannya dengan masalah mental pemain, dalam bukunya “Mental Toughness Training to Sport” dan tulisan Monty P.Satiadarma; “Dasar-dasar Psikologi Olahraga”

Target hanya bisa dicapai apabila; 1) Perhatian pemain yang serius untuk target tersebut; 2) Memobilisasi usaha semua pemain untuk sadar diri untuk menjadi juara; 3) Semua pemain mempertahankan keteguhan sikap, sehingga berlatih serius dan disiplin; 4) Pemain harus menyadari keberhasilan mencapai target dapat mengangkat derajat dirinya.

Untuk mencapai target kembali ke Liga 1 perlu dilakukan dengan spesifikasi, dapat diukur, memiliki batas waktu dan kemampuan evaluasi, harus ada ketetapan yang pasti; jangka panjang, menengah atau pendek.

Apa yang kita kemukakan di atas, tentunya sangat dipahami oleh Gomes de Olivera, namun kita sengaja menyinggung keterampilan mental pemain, mengingat masalah ini, erat hubungannya dengan kemampuan pelatih melakukan komunikasi dengan pemain, juga komunikasi antar pemain baik saat bertanding maupun dalam keseharian.

Dari apa yang selama ini kita saksikan bukan saja di tubuh PSMS, tapi juga dalam Timnas U-17, U-19 (tahun dapan menjadi U-20), termasuk Timnas Senior, masalah pembinaan mental pemain belum tergarap total, masih selalu fokus pada keterampilan teknik dan fisik.

Karena itu, kita merasa perlu menggugah bukan saja pada pelatih, tapi juga semua pihak yang terlibat dalam pembinaan PSMS, agar selama latihan selama 75 hari akan mulai dilakukan 1 Desember, mental skill skuad Ayam Kinantan, perlu diintensifikasi secara lebih rinci.

Dalam kaitan ini kita salut atas kesediaan Pak Edy Rahmayadi turun ke lapangan dan TC. Tindakan tersebut betapa pun sudah merupakan bagian dari usaha pembinaan mental pemain.

Dalam hal ini jelas peran pelatih memiliki pengaruh besar. Sikap dan tindakan pelatih memberi warna dalam proses kepelatihan, membawa pengaruh terhadap pemain, yang dibina teknik, fisik dan mentalnya. #

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2