Waspada
Waspada » Industrialisasi Klub Belum Matang
Olahraga

Industrialisasi Klub Belum Matang

MESKIPUN cabang sepakbola profesional melalui apa yang dinamakan Galatama (Liga Sepakbola Utama) di Indonesia sudah diperkenalkan sejak tahun l980, sampai saat ini kita belum meyakini, bahwa klub sepakbola di Tanah Air sudah benar-benar berkiprah sebagai salah satu dari bagian kelompok industri.

Menurut kaidah-kaidah perindustrian, klub sepakbola Indonesia yang sejak beberapa tahun lalu menyebut dirinya sebagai klub profesional, seharusnya nilai-nilai dan ketentuan keindustrian sudah menyatu/melekat pada klub.

Ada 6 poin terkait dengan masalah industrialisasi klub sepakbola yang mestinya telah dimiliki oleh setiap klub yang umumnya sudah berbentuk Perusahaan Terbatas, yakni; PertamatTiket harus merupakan sumber pendapatan.

Kedua, sponsor merupakan bagian dari pemasukan/pendapatan. Ketiga, merchandise mestinya sudah dimiliki asetiap klub (diantaranya memiliki toko sendiri). Keempat, klub mematenkan hak intelektual klub, seperti logo klub, nama klub dan warna khas klub.

Kelima, klub membina dan mengembangkan kerjasama sponsor, sebagai usaha         peningkatan sumber pemasukan klub. Keenam, memiliki dan mendalami deskripsi pemasukan dibanding biaya yang dikeluarkan dalam setiap pertandingan.

Dari ke-enam “jiwa” dan sumber dana tersebut di atas untuk menghidupi klub, faktanya rata-rata klub belum menguasai atau memilikinya.

Poin l hanya beberapa klub yang mampu mengendalikan penjualan dan penyeberan tiket, sehingga dapat menjadi pemasukan/pendapatan utama, yaitu; Persib, Persebaya, Arema Malang, Bali United FC yang plus, selebihnya belum mampu menyadikan tiket/karcis sebagai pendapatan utama, sehingga hasil setiap pertandingan selalu minus.

Penyebabnya sudah tentu karena belum ada satu klub pun yang punya stadion sendiri, sehingga harus bayar sewa stadion, listrik (jika pertandingan malam hari), keamanan yang nilainya selalu tertinggi dari semua pengeluaran. Klub-klub Liga 2 umumnya setiap pertandingan mengalami kondisi minus.

Sponsor

Demikian juga dengan masalah sponsor, tidak banyak perusahaan yang tertarik untuk menjadi sponsor (kecuali perusahaan rokok, tapi dibatasi), karena beberapa hal penyebabnya; di antaranya keributan antar suporter atur skor (jual beli gol), sepakbola gajah, wasit dan aparat pertandingan yang belum matang dan lain-lain.

Merchandise hanya beberapa klub sudah punya, di antaranya yang terbaik pengelolaannya Bali United di Denpasar, Arema Malang, Persib dan Persebaya. Sriwijaya FC sudah punya (merangkap kantor), tapi itupun pengelolaannya belum sempurna.

Pembinaan, pengembangan dan kerjasama (joint ventrures) antara klub dan sponsor belum dapat dilaksanakan secara konsekuean. Biasanya hanya “coba-coba” atau lebih banyak untuk sementara waktu saja, bahkan tergantung pada events tertentu saja.

Terbanyak sudah dilakukan adalah pematenan logo dan bentuk/warna kostum, namun mengelami kendala, karena hampir semua klub berasal dari Perserikatan yang dibentuk oleh klub-klub di daerah.

Sehingga Perserikatan yang selalu mengakui, bahwa logo dan kostum adalah milik mereka. Padahal sesuai ketentuan AFC/FIFA yang diadopsi oleh PSSI, semua klub harus profesional yang berada di bawah payung perusahaan.

Perusahaan “pemilik” klub-lah yang  kemudian mematenkan logo atau bentuk/warna kostum, sehingga Perserikatakan dengan sekian banyak klubn-klub anggotanya, secara hukum tidak lagi dapat menjadi pemilik logo/kostum. Celakanya, jika mereka masih menggunakan logo tersebut, bukan mustahil bisa digugat oleh PT pemilik klub anggota Liga.

Bisa dipastikan, bahwa industrialisasi klub sepakbola di Indonesia, masih berlangsung setengah hati, karena masih sangat tergantung pada subsidi PT Liga Indonesia Baru yang ditunjuk PSSI secara sepihak (tanpa lelang) menjadi operator Kompetisi Liga I, II, dan III.

Banyak yang menafsirkan dengan kondisi klub sepakbola kita yang “serba tanggung” itu, betapapun pasti sulit melahirkan Timnas yang dapat meningkatkan martabat Merah Putih di forum dunia. *

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2