Waspada
Waspada » Hakikat Olahraga Tidak Pernah Berubah
Olahraga

Hakikat Olahraga Tidak Pernah Berubah

OLAHRAGA  pada hakikatnya merupakan bagian atau salah satu segi perikehidupan manusia yang beradab, sepanjang masa atau dari masa ke masa.

Dari masa ke masa itu menunjukkan bahwa fungsi olahraga dan penilaian terhadapnya tidak selalu sama, senantiasa berubah-ubah.

Perubahan itu disebabkan oleh berbagai kondisi obyektif dan subyektif yang ada pada suatu masa, pandangan hidup dan moralitas yang berbeda, baik yang berlaku suatu masa, bangsa dan negara, namun hakikatnya tetap tidak berubah.

Hal ini jelas terkait dengan hakikat olahraga secara menyeluruh. Suatu hal yang pasti, bahwa hakikat olahraga tidak pernah berubah di masa dulu maupun di zaman sopthisticated dunia modern saat ini, yaitu olahraga dilakukan manusia dengan kekuatan sendiri seutuhnya.

Olahragawan adalah pelaku utama menjadi subyek dalam kegiatan-kegiatan olahraga untuk mencapai prestasi tertinggi, tentu karena adanya dorongan tertentu untuk membangkitkan semangat dan kemauannya.

Inilah gambaran yang bisa digarisbawahi dari penguraian tentang catatan sejarah perjuangan bangsa dan negara Indonesia, termasuk di dalamnya masalah olahraga. Sementara sejarah olahraga, terutama pada dasarnya mempersoalkan fungsi dan kedudukan olahraga tersebut dan berbagai penilaian terhadapnya.

Demikian juga hakikat sejarah olahraga, jelas terkait erat dengan fungsi dan kedudukan olahraga yang memiliki kaidah universal; yakni olahraga memiliki fungsi fisik mengantar fisiologis dan anatomis; sementara fungsi psikis bernilai pendidikan dan sosial.

Selain itu, bagi bangsa Indonesia fungsi olahraga seiring sejalan dan sama sekali tidak dapat dipisahkan dari “gejolak” kemerdekaan atau Revolusi Indonesia.

Khususnya yang merangkum dan mengikutsertakan semua bidang  kehidupan negara dan bangsa, yaitu bidang ideologi, politik, eknomi. sosial dan militer (Ipoleksom).

Trilogi Keolahragaan

Bung Karno menyatakan: “Revolusi adalah suatu ikhtiar untuk menjebol, menanam, menjebol dan menanam.”

Khusus di bidang olahraga gerakan revolusi  bisa dirasakan, ketika pemerintah dan bangsa Indonesia menyelenggarakan PON I di Solo tahun l948, Asian Games IV di Jakarta l962 dan Ganefo I (Games of the New Emerging Forces) di Jakarta l963.

Sejarah perjuangan bangsa Indonesia mengenal dan mengalami beberapa periodesasi, terutama yang meliputi saling bergantinya kaum penjajah dan perebutan kemerdekaan.

Dewasa ini banyak di antara rakyat Indonesia, terutama komunitas kaum milinial, yang sama sekali tidak merasakan, bahkan mengenal periode pergerakan revolusi, terutama yang terkait dengan keolahragaan nasional.

Pada saat Presiden Sukarno mencetuskan dan  melaksanakaan Revolusi Olahraga, semuanya saling bertaut  dengan perjuangan demi kepentingan nasional.

Kepentingan nasional itu mengisyaratkan agar bangsa Indonesia memiliki daya dan ketahanan di segala bidang, sehingga mampu menghadapi setiap tantangan dari manapun datangnya.

Tekad itulah yang sebenarnya ditanamkan Bung Karno kepada seluruh bangsa Indonesia dan khusus kepada para olahragawan pada saat berjuang di setiap gelanggang, sehingga nama bangsa dan negara Indonesia bermartabat di persada global.

Ada yang mempertanyakan, apakah yang ditanamkan Bung Karno pada saat melaksanakan Trilogi Keolahragaan Nasional (Tri-Ornas) yaitu PON I, AG-IV dan Ganefo-I, saat ini telah benar-nar bersemi di benak para olahragawan nasional, khususnya dan komunitas olahragawan umumnya?

Terus terang masih diragukan, sehingga untuk mengimplementasikan “cita-cita” Bung Karno itu,  pemerintah terpaksa mengiming-imingnya dengan hadiah uang, baru dapat dicapai keberhasilan mencapai prestasi terbaik. Itu dibuktikan dalam Asian Games XVIII 20l8 yang lalu.

Hal ini tampaknya akan mentradisi, sebagai konsekuensi terjadinya perubahan hakikat keolahragaan, sesuai dengan menjalarnya virus liberalisasi yang melanda bulatan dunia dan tidak mungkin dielakkan Indonesia. *

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2