Fuad Pertahankan Tradisi Emas 400 M - Waspada

Fuad Pertahankan Tradisi Emas 400 M

  • Bagikan
FUAD Ramadhan menjatuhkan diri didepan garis finis usai memastikan medali emas 400 meter putra PON XX Papua. Waspada/ist

TIMIKA (Waspada): Fuad Ramadhan, 24, berhasil mempertahankan tradisi medali emas nomor lari 400 meter putra di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua, dengan catatan waktu terbaik 47, 63. Pada PON Jabar 2016, Fuad juga jawaranya.

Dalam partai final 400 meter putra di Mimika Sport Center, Selasa (12/10) sore, medali perak dan perunggu diraih atlet lari Jawa Timur, Radika Sya Dewa dengan catatan waktu 47,72 dan Jawa Tengah atas nama Nur Ikhsan Hadi dengan waktu 48.06.

Keberhasilan Fuad Ramadhan mempertahankan tradisi emas PON untuk nomor spesialisnya 400 meter putra seperti PON Jabar 2016, disambut antusias dan suka cita oleh petinggi KONI Aceh.

Petinggi KONI Aceh antara lain Ketua Harian Kamaruddin Abubakar (Abu Razak), Ketua Pelatda PON yang juga Ketua PASI Aceh Bachtiar Hasan, Tgk Anwar selaku Ketua Tim PON Aceh Zaini Yusuf, Kenedi Husein, pendamping cabor atletik Aldin NL, Herri Laksana, Said Zulhasri dan pendukung lainnya.

Ketua Harian KONI Aceh, Kamaruddin Abubakar, mengungkapkan rasa bangganya kepada Fuad Ramadhan yang mampu mempertahankan tradisi emas lari 400 meter putra.

“Fuad atlet andalan cabor atletik kita dan telah dua kali mengharumkan dunia olahraga Aceh di ajang PON,” kata Abu Razak didampingi Bachtiar Hasan selaku Ketua PASI Aceh.

Bachtiar menambahkan, sebelumnya Fuad sempat cedera saat mengikuti kejuaraan di Aceh. Sejak itu, kata dia, banyak pihak meragukan Fuad karena kondisinya itu.

Tidak ingin berlarut dalam cedera, Bachtiar Hasan meminta bantuan seorang pelatih nasional dari Jakarta, Veri Itiningrum. “Hasil hari ini (PON Papua) saudara Fuad dapat pecahkan rekor atas namanya sendiri di PON. Sebelumnya catatan waktu Fuad 48,22,” jelas Bachtiar.

Sukses ini tidak lepas deri dukungan semua pihak, KONI Aceh, pengurus PASI dan masyarakat umum lainnya. “Emas Fuad ini kita persembahkan untuk masyarakat Aceh,” jelas Bachtiar Hasan.

Seperti di babak semifinal, Fuad Ramadhan di final juga tampil mengesankan dan mencatatkan waktu tercepat di nomor tersebut.

Ini tidak terlepas dari motivasi yang diberikan pimpinan KONI Aceh yang hadir langsung menyaksikan babak final di MSC tersebut. Atas suskes Fuad mempertahankan medali emas, diungkapkan pelatih nasional Veri Atiningrum.

“Ini memang golden age (usia emas) bagi seorang pelari di usia 25 tahun,” ujar pelatih teknik level nasional Veri Atiningrum kepada Waspada di arena Mimika Sport Center.

Didampingi pelatih Firman Fachruddin, Veri Atiningrum sebelum tanding selalu mengingatkan Fuad untuk terus berjuang sampai finish. “Saya instruksikan jangan menyerah sebelum garis finish,” kata pelatih nasional yang menimba ilmu kepelatihan di Jerman ini.

Menurut Veri, lari 400 meter itu bagi atlet, saat yang genting itu berada pada lintas 30 meter terakhir. “Tadi Fuad saya lihat sudah kehabisan tenaga, tapi karena mental juara, Fuad tidak mau menyerah sampai garis finis,” bebernya.

Fuad Ramadhan, lanjuthya, masih bisa mewakili Aceh untuk PON yang akan datang, apalagi Aceh sebagai tuan rumah. Sementara Fuad Ramadhan merendah atas suksesnya dia mempertahankan tradisi emas lari 400 meter putra.

Dia pun mengaku PON Papua ini karir terakhirnya di lari 400 meter. “Saya sebenarnya paling benci nomor ini. Latihannya sangat melelahkan. Tapi karena instruksi pelatih saya tetap bertahan di nomor ini,” kata Fuad yang tercatat sebagai pegawai honor Dispora Aceh itu.

Fuad Ramadhan, salah satu atlet KONI Aceh yang mendapat prioritas satu, karena mendapat emas pada PON Jawa Barat. Karena itu, usai PON Jabar, Fuad masuk Pelatda mandiri lalu dilanjutkan Pelatda sentral selama dua tahun.

Soal karir Fuad Ramadhan sebagai atlet, Firman menyarankan untuk PON yang akan dilaksanakan di Aceh, disarankan untuk terjun di nomor Dasa Lomba. (b01/C)

  • Bagikan