Fans Pahlawan Frankfurt Sebenarnya

  • Bagikan
PARA pemain, pelatih dan ofisial Eintracht Frankfurt merayakan sukses menjuarai Liga Europa 20201/2022 di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla, Spanyol. UEFA

MADRID (Waspada): Kiper Kevin Trapp dan pelatih Oliver Glasner menegaskan, fans merupakan pahlawan sebenarnya dalam sukses Eintracht Frankfurt menjuarai Liga Europa 2021/2022.

Saat menang adu penalti 5-4 (1-1) atas Glasgow Rangers pada laga final di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Sevilla, Spanyol, Rabu (Kamis WIB), dukungan militan kembali diperlihatkan fans Frankfurt.

“Kami semua pahlawan, tetapi tanpa para penggemar kami tidak akan berhasil. Rasanya dukungan mereka begitu luar biasa,” ucap Trapp, seperti dikutip dari AFP, Kamis (19/5).

“Untuk Frankfurt, untuk wilayah ini, untuk seluruh Jerman, saya pikir sukses ini sungguh luar luar biasa,” tambah penjaga gawang berumur 31 tahun tersebut.

Trapp sempat tak berdaya menghentikan aksi Joe Aribo mencetak gol pembuka keunggulan Rangers menit 57. Namun dia tampil gemilang sekaligus konsisten setelah Rafael Borre membuat kedudukan menjadi 1-1 dengan golnya menit 69.

Mantan kiper Paris SG itu mementahkan peluang emas Ryan Kent yang menembak bola dari umpan silang Kamal Roofe. Trapp kembali menjadi pahlawan ketika kaki kirinya menggagalkan tembakan penalti Aaron Ramsey untuk memastikan gelar juara bagi Frankfurt.

“Ini bukan malam saya, ini malam semua orang. Itu tidak untuk satu pemain saja, itu untuk seluruh tim,” tegas Trapp.

“Musim ini di liga mengecewakan, karena kami tidak lolos ke Eropa. Lantas euforia besar menanti kami di Liga Champions musim depan, sulit untuk berkata-kata,” ujarnya lagi.

Ramsey yang menjadi pemain pengganti dan masuk lapangan dalam tiga menit tersisa babak perpanjangan waktu, menjadi satu-satunya pemain yang gagal mencetak gol dalam drama 12 pas di Sevilla. Rangers kalah setelah Rafael Borre menjadi penentu kemenangan sebagai eksekutor kelima Frankfurt.

Itu trofi Eropa pertama Frankfurt dalam kurun waktu 42 tahun terakhir. Kedua finalis saling mengincar gelar Eropa kedua dalam sejarah mereka. Rangers merebut Piala Winners pada 1972 dan Frankfurt mengangkat Piala UEFA 1980.

“Semangat tim benar-benar berkembang. Semua orang selalu positif, bahkan mereka yang gagal masuk ke dalam skuad,” beber Glasner.

“Fans tidak pernah berhenti mendukung tim. Anda membutuhkan semua orang untuk memenangi pertandingan seperti ini,” papar pelatih asli Jerman berumur 47 tahun tersebut.

Frankfurt selalu mendapat dukungan maksimal dari fansnya dalam laga kandang dan tandang ketika mengalahkan Real Betis, Barcelona dan West Ham dalam perjalanan ke final.

Mereka memboyong sekitar 60.000 penggemarnya ke Spanyol. Rangers tak kalah militan dengan membawa lebih dari 100.000 suporter. Padahal Stadion Ramon Sanchez Pizjuan hanya berkapasitas 43.000 penonton.

Dalam drama adu penalti, James Tavernier, Steven Davis dan Scott Arfield, semuanya mencetak gol untuk Rangers. Begitu pula dengan Christopher Lenz, Ajdin Hrustic dan Kamada sebagai tiga penendang pertama Frankfurt.

Ramsey selaku algojo keempat Rangers kemudian melepaskan tembakan terlalu lurus, sehingga mengenai kaki kiri Trapp. Kostic sempat membuat Frankfurt unggul, tetapi disamakan lagi oleh Kemar Roofe, sebelum Borre menjadi penentu.

“Ini jenis pertandingan yang kami perkirakan. Rangers memang tangguh untuk dihadapi, kuat secara fisik dan bermain banyak bola panjang,” jelas Glasner.

“Itu pertandingan ke-13 kami di Liga Europa dan kami tidak kalah sekalipun. Kami bangkit dari ketertinggalan, jadi saya tidak dapat menemukan kata-kata untuk menggambarkan apa yang dilakukan para pemain hari ini dan musim ini,” pungkasnya. (m08/uefa/rtr)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.