Waspada
Waspada » Efek ESL Landa Liverpool
Olahraga

Efek ESL Landa Liverpool

BEK Leeds Luke Ayling membayangi penyerang Liverpool Sadio Mane di Elland Road. Liverpool Echo

LONDON (Waspada): Efek negatif sebagai salah satu inisiator Europa Super League (ESL) alias Liga Super Eropa langsung melanda Liverpool dalam lawatannya ke markas Leeds United.

Sebelum melakoni laga putaran 32 Liga Premier yang berakhir seri 1-1 di Elland Road itu, Senin (Selasa WIB), berbagai aksi protes anti ESL seakan berusaha menekan Si Merah.

Satu pesawat kecil terbang di atas Elland Road beberapa jam sebelum sepak mula dengan membawa spanduk bertuliskan #SayNoToSuperLeague. Bus yang mengangkut para pemain dan staf tim tamu disambut gabungan suporter Liverpool dan Leeds yang melancarkan aksi protes ESL.

“Ini pukulan berat, wajar banyak orang marah. Tapi saya tidak bisa mengatakan apapun lebih dari ini,” ucap Jurgen Klopp, manajer Liverpool asal Jerman, seperti dikutip dari Sky Sports, Selasa (20/4).

“Kami tidak terlibat dalam prosesnya, saya tidak, pemain tidak. Sekarang ini pernyataan sudah keluar, kita lihat bagaiamana keadaan akan berkembang,” tambah Klopp.

Di tribun stadion Elland Road, Si Putih memasang spanduk besar  bertuliskan “UEFA CHAMPIONS LEAGUE: EARN IT. FOOTBALL IS FOR THE FANS”.   Pesan serupa juga tertulis pada kaus yang dipakai tim asuhan Marcelo Bielsa saat menjalani pemanasan.

Lantas sekira 15 menit pertandingan berjalan, terdengar suara trombone yang memainkan lagu “Money, Money, Money” milik ABBA dari luar stadion.

Liverpool merupakan 12 klub inisiator ESL bersama Manchester United, Manchester City, Chelsea, Arsenal, Tottenham Hotspur, AC Milan, Inter Milan, Juventus, Atletico Madrid, Barcelona dan Real Madrid.

Klopp sendiri sejak tahun 2019 silam sudah menentang wacana Liga Super Eropa. “Perasaan saya tidak berubah, pendapat saya tidak berubah,” klaim mantan pelatih FSV Mainz dan Borussia Dortmund tersebut.

“Tentu saja saya baru mendengar soal ini kemarin dan saya disibukkan dengan persiapan laga sulit melawan Leeds. Tak banyak informasi yang saya tahu soal ini, kecuali dari apa yang saya baca di surat kabar dan media,” papar Klopp.

Wakil kapten James Milner sependapat dengan sang gaffer. “Ini pendapat saya sendiri, saya tidak menyukainya dan semoga saja itu tidak terjadi,” tutur winger veteran Inggris berumur 35 tahun itu.

“Kami sebagai pemain sibuk mempersiapkan pertandingan. Saya bisa membayangkan apa yang dikatakan soal ini dan saya sepakat atas sebagian besar kritik,” ujar Milner.

Kendati ditekan demo anti ESL, Liverpool masih mampu memimpin lebih dulu lewat gol Sadio Mane pada babak pertama. Leeds gantian mendominasi babak kedua yang membuahkan gol balasan Diego Llorente.

Mane mudah saja menceploskan bola ke gawang tak bertuan tim tuan rumah. Dia sukses menyambut umpan tarik bek sayap Trent Alexander-Arnold yang sudah memancing kiper Illan Meslier keluar dari sarangnya  menit 31.

Itu gol pertama Mane dalam 10 pertandingan terakhirnya bersama The Reds, salah satu paceklik terpanjangnya sejak hijrah ke Anfield.

Pasukan Klopp menebar ancaman lagi selepas turun minum antara lain melalui tembakan keras Roberto Firmino yang masih bisa ditepis Meslier.

Setelah itu The Whites mengambil alih kendali permainan. Menit 75 Patrick Bamford hampir menyamakan kedudukan jika saja tembakannya tidak membentur mistar gawang.

Dua menit berselang kiper Alisson Becker dipaksa berjibaku mementahkan tembakan Tyler Roberts. Baru di menit 87 tim tuan rumah berhasil menyamakan kedudukan melalui Llorente dengan menanduk bola sepak pojok.

Hasil itu membuat Liverpool tertahan di urutan keenam dengan raihan 53 poin, tertinggal dua angka dari posisi empat besar. Sedangkan Leeds tak beranjak dari peringkat 10 klasemen dengan 46 poin.

Patrick Bamford mendukung aksi penolakan ESL, namun menyayangkan hebatnya respon penolakan seperti itu  tidak terlihat saat sepakbola dinodai rasisme.

“Saya pikir, sepakbola pada akhirnya tentang penggemarnya, tanpa suporter semua klub tidak ada artinya. Maka penting bagi kami untuk memperlihatkan pendirian bahwa sepakbola adalah untuk penggemarnya dan kami ingin itu tetap terjaga,” tegas Bamford.

“Begitu luar biasa kemarahan yang terjadi di sekitar olahraga ini ketika kantung seseorang terancam. Sayangnya itu tidak berlaku sama untuk banyak masalah di sekitar olahraga ini, seperti rasisme,” sesalnya. (m08/sky/espn)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2