Waspada
Waspada » Dua Perang Menunda Olympiade
Olahraga

Dua Perang Menunda Olympiade

PRESIDEN International Olympic Committee (IOC) Thomas Bach dan Presiden Komite Olympiade Tokyo Yoshio Mori sekira 4 tahun lalu, telah menetapkan, bahwa Olympiade Tokyo akan dilaksanakan tahun 2020 yang kemudian ditetapkan Jepang 24 Juli– 9 Agustus.

Namun setelah virus corona (Covid-19) merambah dunia dan menulari ribuan orang sampai merenggang nyawa, kedua Presiden tersebut akhirnya menyepakati; Pelaksanaan Olympic Games 2020 diundurkan setahun yakni  23 Juli-8 Agustus 2021 tetap di Tokyo.

Sungguh suatu kesepakatan sangat tepat, mengingat umumnya Negara-negara sejagat raya ini sedang melakukan “perang” melawan pademi virus yang tidak kasat mata tersebut. Yang namanya manusia, tanpa memlilih laki-laki atau perempuan dan siapapun dan apapun jabatannya, jika ditulari virus tersebut jika tidak segera diatasi, dipastikan menemui ajalnya.

Mengantisipasi pencegahan menyebarnya virus yang berasal dari Wuhan (RR China) itu, Pemerintah Jepang telah mengambil kebijaksanaan yang terperinci.

Di tahun 1945 (Perang Dunia II), akibat dijatuhkannya bom atom oleh Amerika Serikat di Nagasaki dan Hiroshima, sekira 80.000 orang Jepang plus orang asing yang menjadi pekerja atau tenaga ahli di pabrik senjata Mitsubishi Nagasaki tewas atau cacat seumur hidup.

Sehingga Negara Matahari tersebut itu bertekuk lutut pada Pasukan Sekutu. Selanjutnya dalam kaitannya dengan Perang Dunia II itupun usai, mengantar Soekarno-Hatta memproklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agusus 1945.

Perang berikutnya yang saat ini sedang berlangsung adalah “Perang Frontal”  terhadap  “musuh luar biasa” oleh hampir semua Negara di dunia, termasuk Indonesia. Diperkirakan korban yang akan jatuh melebihi jumlah PD II.

Negara-negara yang terlibat “Perang vs Covid-19” melakukan kebijakan “Lockdown” menyebabkan berbagai kegiatan dan aktivitas di macam-macam instansi resmi dan swasta mengalami stagnasi.

Itulah dasar yang dijadikan Pemerintah Jepang untuk menunda Olympic Games, apalagi Kanada dan Australia sudah menyatakan mengundurkan diri. Tentunya Tokyo sadar, bahwa pengalaman Nagasaki dan Hiroshima jangan terulang lagi.

Tak heran keputusan bersama IOC dan OC Olympiade Tokyo tersebut sangat dihargai pemerintah Indonesia, meskipun berkonsekuensi persiapan para atlet terkendala, selain masalah dana yang harus dikaji ulang.

Boikot Olympiade

Menghadapi Olympiade di Jepang, Indonesia punya catatan “sejarah khusus”. Indonesia pernah “memboikot” Olympiade yang dilaksanakan Jepang pada l964, meskipun Kontingen Indonesia sempat datang di Tokyo.

Indonesia menolak bertanding, akibat Federasi Renang  dan Atletik Internasional, melarang atlet-atlet Indonesia yang sebelumnya aktif dalam Ganefo I di Jakarta l963. Keputusan dua Federasi Cabor Internasional itu ditentang Jakarta, sehingga Presiden Sukarno memerintahkan Kontingen Indonesia kembali ke Tanah Air.

Bagi Bung Karno, apa yang dilakukan Federasi Renang dan Atletik Internasional tersebut sebagai penghinaan terhadap Indonesia. Rupanya IOC yang menskors Indonesia karena melaksanakan Ganefo “dendam”, karena Indonesia melaksanakan Ganefo sebagai rivalitas Olympic Games.

Sebelum menyelenggarakan Olimpiade tahun 1964, Jepang “membujuk” Indonesia jangan sampai memengaruhi Negara-negara Arab, Asia dan Afrika untuk memboikot Olympic Games Tokyo yang pertama kali dilaksanakan di Negara tersebut.

Jepang sadar betul, Indonesia mampu mencegah Negara-negara peserta Ganefo untuk tidak datang ke Tokyo. Tapi Tokyo sangat menghargai sikap Indonesia yang sama sekali tidak melarang negara peserta Ganefo untuk boikot Olimpiade. Bahkan dengan jiwa besar datang ke Tokyo, meskipun kemudian pulang.

Menurut catatan sejarah partisipasi Indonesia dalam Olympic Games sudah 15 kali, sejak tahun 1952 di Helsinki dengan mengirim 3 atlet. Medali pertama yang berhasil direbut atlet Indonesia adalah Olympic Games Seoul (Koresel) 1988, saat mana pemanah putri Nurfitriana Saiman, Kusuma Wardhani, Lilies Hadayani merebut medali perak.

Sementara medali emas pertama yang direbut atlet kita terjadi dalam Olimpiade Barcelona 1992 dalam bulutangkis oleh Susi Susanti dan Alan Budi Kusuma. Ya, hanya bulutangkis yang mampu merebut emas di Olimpiade. Apakah di Olympic Games Tokyo 2021, atlet Indonesia dapat merebut medali emas lagi? Entahlah! *

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2