Waspada
Waspada » Derita Batin PSMS Melawan Corona
Olahraga PSMS Medan

Derita Batin PSMS Melawan Corona

SEMUA klub sepakbola di Indonesia mengalami masa suram akibat pandemi Covid-19 yang merebak sejak 20 Maret 2020. Hal yang sama pasti dialami juga oleh ribuan klub di berbagai Negara.

Kompetisi sebagai media pembinaan dan pemasukan dana, plus pelampiasan dahaga sepakbola, terpaksa dihentikan. PSSI menghentikan kompetisi hanya beberapa minggu setelah corona merebak dan diterapkannya kebijakan PSBB (Penanggulangan Sosial Berskala Besar).

Jika di Tanah Air kegiatan semua cabang olahraga langsung dihentikan, di luar negeri, terutama di Eropa, penghentian kompetisinya hanya sekira 2 bulan saja. Setelah itu mulai Juni kompetisi dilaksanakan kembali, meskipun tanpa penonton. Maklum, klub/pemain Eropa profesional murni. Beroperasi tanpa subsidi, berbisnis sesuai tata kerama dagang.

Terkait penghentian kompetisi sepakbola di Indonesia, kita tidak usah mengungkapkan betapa besar kerugian materi yang diderita klub-klub secara menyeluruh, selain kehilangan waktu untuk pembinaan dan mematangkan pola permainan (taktik dan strategi). Cukup kita kemukakan apa yang dialami PSMS saja sebagai contoh kasus.

Sejak Juni lalu, sekira 15 pemain PSMS yang berasal dari Medan dan sekitarnya sudah kembali menghuni pemusatan latihan di Stadion Kebun Bunga Medan tanpa pelatih. Diharapkan pada Juli ini pelatih dan pemain luar Medan sudah menggabungkan diri.

Sebelumnya sepertti digariskan pemerintah, dengan PSBB para pemain berlatih mandiri di kediaman masing-masing. Sudah tentu latihan di rumah, berarti  sekadar menjaga stamina. Baru pada Juli ini diupayakan mengomplitkan semua pemain dan ofisial berlatih.

Meskipun nanti sudah berkumpul kembali, belum tentu training center bisa dikategorikan efektif ditinjau dari sudut pembinaan teknik bersepakbola. Bagi pemain PSMS yang sudah “kenyang” menelan berbagai latihan bersama, jelas tidak perlu belajar mengusahai teknik bersepakbola, seperti teknik menendang, menahan, menggiring dan lain-lain, karena sudah pasti dikuasai para pemain.

Dalam pemusatan latihan pada dasarnya yang dimatangkan adalah penguasaan permainan secara total, terutama yang terkait dengan penentuan pola yang akan dianut dalam pertandingan, selain penguasaan taktik dan strategi yang akan dipraktekkan dalam pertandingan.

Hal itu jelas belum efektif, jika tidak ada pertandingan percobaan (try-out). Inilah yang akan dialami PSMS dalam pemusatan latihan yang dimulai Juli ini, sebagai persiapan untuk beraksi dalam Kompetisi Liga 2 yang kabarnya baru dimulai Oktober.

Laga Ujicoba

Menanti dan berlatih selama tiga bulan, jika tanpa pertandingan percobaan, jelas  membosankan, karena yang dikerjakan hanya itu yang itu juga. Apalagi gaji/honor per bulan yang diterima pemain hanya 25% dari yang seharusnya mereka terima. Secara pasikologis, hal ini mempengaruhi mental pemain.

Oleh karena itu menjadi kewajiban bagi pengurus PSMS dan ofisial tim untuk selama tiga bulan ini mengusahakan mencari lawan tanding yang selevel, bukan dilaga dengan tim kacangan, mengingat meskipun PSMS berada di Liga 2, sebenarnya itu hanya penggelaran belaka. Soal teknik permainan, jelas sama dengan tim-tim Liga 1.

Selain itu, dana yang harus disediakan PSMS selama pemusatan latihan di sela-sela pencegahan penularan corana, cukup tinggi sekira Rp250 juta (gaji/honor pemain, katering dan lain-lain). Subsidi dari PT Liga Indonsia Baru (LIB) seperti dijanjikan Rp.1.150 miliar, dibayar selama 2 tahap, PSMS baru menerimanya untuk Januari hingga Maret Rp.250 juta.

Sisanya Rp.900.00 juta baru akan dibagi selama 9 bulan, berarti per bulannya Rp.100 juta, namun sejak April hingga Juni PT LIB belum mampu melunasinya dengan alasan mengalami pacekelik dana.

Inilah gambaran derita PSMS dan klub-klub Liga 2 lainnya akibat permainan Si Covid-19. Harus banting tulang melancarkan cash flow untuk eksis sebagai klub professional. Semoga kaum sepakbola Sumut mengerti atas penderitaan batin yang dialami PSMS saat ini. ***

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2