Binsar Ritonga Petinju Legendaris Yang Terlupakan

  • Bagikan

PETINJU legendaris yang terlupakan Binsar Ritonga, 69, kini hanya sebuah kisah yang seolah terlupakan. Meski dimasa mudanya pernah mengharumkan nama Tapanuli Selatan kini Tapanuli Bagian Selatan (Tabagsel) pada kejuaraan Tinju Nasional kelas Welter di Medan tahun 1969 dengan memperoleh medali perak.

Putra kelahiran P. Sidimpuan ini juga pernah mengkanvaskan petinju Filipina pada ronde ke empat dalam pertandingan profesional di Kota Dumai, Provinsi Riau yang saat itu diselenggarakan dalam merayakan ulang tahun Pertamina.

Bahkan dia pernah memukul KO petinju P. Sidimpuan yang memperoleh juara pertama kelas Welter Ringan di Roma, Itali pada pertandingan yang berlangsung di Lapangan Basket Kodim P. Sidimpuan. Katanya saat pertandingan itu dia tidak mempunyai lawan tanding, namun oleh panitia menawarkan Rudi Siregar yang baru pulang dari Roma.

Sedangkan Juara Pertama kelas Welter Tingkat Sumatra Utara dia peroleh tahun 1968 yang juga berlangsung di Medan. Katanya saat itu dia masih duduk di bangku kelas 2 Sekolah Guru Olah Raga (SGO) di P. Sidimpuan.

Pertandingan yang tak terlupakannya pada perebutan kejuaraan itu saat mendapat lawan tanding dari Pertina Pangkalan Brandan. Binsar Ritonga menang KO ronde ke 3, namun resiko yang dia terima tidak sadarkan diri selama 24 jam dan dirawat di RS Putri Hijau Medan.

Katanya, saat itu sebenarnya dia sudah babak belur dan hampir kalah pada ronde ke 3, akibat dihajar terus menerus oleh lawannya Erwinsyah, namun sisa tenaga yang ada dia gunakan sebagai pukulan terakhir dan berhasil mengkanvaskan lawannya. Pada saat penghitungan setelah lawannya tumbang, kata Binsarn, dia sudah tidak kuat lagi namun tetap berdiri karena bersandar pada sudut ring.

Saat dijumpai di Warung Kopi dekat Kantor Pos P. Sidimpuan, Jumat (10/1) sore, Binsar Ritonga yang kini menggunakan tongkat sebagai penopang untuk membantunya berjalan, mengatakan setelah menggantungkan sarung tinju, dia menjadi pelatih tinju di Sasana Asia Pekan Baru, Riau hingga 1982. Sedangkan sertifikat pelatih dan Wasit Hakim dia peroleh tahun 1980.

Dia berharap pemerintah di Tabagsel memperhatikan para atlet tinju agar generasi penerus olah raga tinju berkembang di daerah itu. Dia juga berharap agar pemerintah memberi kesejahteraan kepada para atlet berprestasi khususnya tinju.

Kata Binsar, di daerah lain sejumlah atlet tinju berprestasi telah diangkat Pemda setempat menjadi PNS, namun di Tabagsel, sepengetahuannya belum ada. Katanya dia menyampaikan hal itu agar nasib petinju jangan seperti dirinya yang terpaksa menjadi sopir selama 18 tahun, karena peminat oleh raga tinju berkurang saat itu.

Seangkatan dengan Binsar, petinju legendaris yang terlupakan dan masih hidup di daerah itu adalah Torang Batu Bara. Katanya nasib mereka dalam menjalani hari tua hampir sama dan sama-sama tidak pernah memperoleh perhatian dari pemerintah daerah.(a34)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.