Waspada
Waspada » Bini Kudeta Lakik
Olahraga

Bini Kudeta Lakik

KALAU ado orang lain nan mampu mangasi solusi kepada waang, silakan waang lah, odan mungkin sudah tiado baguno bagi waang,” ajuk Alang Bobal, kali ini dengan suara datar bahkan cenderung melemah.

“Bah!? Apa ini Alang? Ambo batanyo, Alang jawab terserah, ambo bilang ondak batanyo ke kawan lain lah, alang marah. Paniang kapalo ambo caliak waang oh Alang,” sergah Makne geleng gelang kepala.

“Mana pulak marah suara lemah. Kolok waang simak tadi sudah odan sampaikan solusi lantas di akhir odan bilang terserah waang, tak mungkin terserah ambo, Ki Untet, Saonah, atau lainnya,” ucap Alang Bobal lamat lamat memandang ke arah pantai melihat sekelompok anak muda bermain surfing.

Ya, pekan ini desa Alang Bobal dihebohkan dengan mainan baru di laut. Beberapa masalah pun timbul sejak dari desa sebelah, mulai uang masuk gerbang desa, parkir, keamanan, kebersihan.

Kepala desa Ki Untet merokok pun sudah tak normal, beberapa kali isap, buang, pasang lagi. Hari ini saja sudah dua kali menggelar rapat desa dengan Kaur, lembaga musyawarah desa, tokoh masyarakat, pemuda dan pemuka agama.

Yang tak kalah sibuk adalah Makne, ke sana ke mari cari tahu dan akhirnya menggiringnya ke peluang usaha.

“Tolonglah Alang beri masukan, mana duluan membentuk pengurus cabang olahraga surfing atau membuka usaha seperti yang ambo sampaikan tadi,” ulang Makne.

“Sudahlah Makne, lantak waang lah situ!” Ujar Alang dengan nada agak tinggi.

Gubrak!!! Makne memukul meja sambil berdiri tegas. “Baiklah Alang! Jangan waang tanyo kamano denai melangkah!”kata Makne dan berlalu meninggalkan warung.

“Tak pala odan tanyo, langkah waang ya ka dopan lah,”ujar Alang Bobal tanpa melihat Makne. Saonah senyum simpul melihat peristiwa yang bukan hal baru antara Alang Bobal dan Makne seperti tadi.

“Si Makne itu tak tahu kalau ombak dan gelombang musim ini berbeda. Sepanjang hidup odan baru sekali ini bisa main selancar. Kasihan nanti modalnya tetanam, selancar pun tak ado lagi,” keluh Alang Bobal.

“Antahlah Alang, pusing. Lakik odan pun gilo katuo, entah haponyo. Sejak pandemi ne susah pendapatan,” sambut Saonah sambil menyuguhkan kopi kepada tamu lain.

“Kok lakikmu apa pulak susah pendapatan. Hasil tangkap laut bagus. Penjualan seperti biaso. Kamano duitnyo?” Ujar Alang mulai memberi suntikan jitu.

“Cakap Alang ni macam vaksin yo. Menghebohkan!” Sergah Saonah.

“Vaksin baguslah Saonah. Tapi cubo kau ingat ingat, mana bosaran setoran si Widuran sejak jadi ketuo cabor atau sesudahnya,” lanjut Alang memandang Saonah dengan serius.

Saonah yang lagi memetik sayuran tertegun. Dilihatnya Alang sejenak yang langsung mengembangkan senyum seperti mengejek, lantas Saonah mengambil buku catatan.

Seketika wajah Saonah memancarkan kegelisahan. “Odan paksa mundur dio dari ketuo,”kata Saonah tegas.

“Ini baru bini yang bijak tak hanya pande memasak,”ujar Alang. “Hei ondak kamano ko Saonah?! ” Tiba tiba Alang berteriak ke arah Saonah yang berlari anjing ke arah balai desa.

“Kok tak mau mundur dio, cerai lah pilihannyo!” Teriak Saonah, hampir tubrukan dengan Makne yang tergopoh datang ke warung.

“Mengapo Saonah Alang?” Tanya Makne ke Alang.

“Ondak dikudeta nya si Widuran lakiknyo dari ketua cabor,” jawab Alang singkat. “Kok balek lagi waang? Adonyo solusi dari kawan waang yang lain? ”

“Hah! Udah gilo si Saonah???! ” Gumam Makne.

“Botul lah, manggilo semuo,” kata Alang tenang, dalam hatinya tertawa.

“Mokasih Alang bah. Botul. Anak anak selancar udah bongkar tenda. Kata mereka ombak di sini tak memadai,” kata Makne mengelus pundak Alang Bobal.

“Makanyo jangan bobal waang,” ujar Alang.

“Bah!! Tebalik, Alang lah nan bobal,” gerutu Makne tertawa.

Di tempat lain, Saonah menggemparkan balai desa. “Harus odan kudeta lakik odan!” antara lain begitu bunyi orasinya. Hijabnya sudah tak beraturan karena histeria dan terpaan angin pantai.

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2