Waspada
Waspada » Balada Sepakbola Nasional
Olahraga

Balada Sepakbola Nasional

DALAM sejarah persepakbolaan Indonesia, bisa dicatat, bahwa cabang olahraga yang terbanyak mendapat jamahan tangan rakyat dan pemerintah adalah sepakbola.

Jelas karena sepakbola terlibat berperan aktif dalam menentang pendudukan penjajahan Belanda, karena PSSI (Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia) dibentuk 9 April l930 di Yogyakarta. Berarti PSSI merupakan organisasi olahraga tertua di Indonesia.

Saat itu kaum penjajah menyebut Indonesia sebagai Nederlands Indische, diterjemahkan sebagai “Hindia Belanda”. Bukti bahwa PSSI terlibat dalam kegiatan menentang penjajahan Belanda secara diam-diam, dengan tidak menggunakan kata “sepakbola”, tapi “sepakraga”.

Itu dilakukan karena jika kata “sepakbola” yang dipakai, pasti akan dilarang Sang Penjajah, karena mereka telah memiliki organisasi sepakbola disebut Nederlands Indische Voetbal Bond (NIVB), yakni organisasi sepakbola yang membawahi klub-klub Perserikatan di beberapa kota di Palau Jawa.

Nama Persatuan Sepakraga Seluruh Indonesia, diubah menjadi Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), setelah organisasi cabang sepakbola itu berusia 20 tahun yakni setelah Republik Indonesia berdiri.

Dalam Kongres PSSI di Solo l950, saat mana terpilih sebagai Ketua Umum PSSI Maladi, selain mengubah  kata “sepakraga” menjadi “sepakbola”, juga di dalam Anggaran Dasar (AD) dan Anggaran Rumah (ART) ditambahkan “Mukadimah” atau “Preambule” mengacu pada Konstitusi RI yaitu Undang-Undang Dasar l945.

Mukadimah merupakan meta law (pra hukum) yang mengandung hal-hal yang sangat mendasar bagi RI, merupakan bagian dari UUD yang tertinggi tingkatannya yang mendasari sistem konstitusi dan struktur bangunan negara RI. Demikian juga Mukadimah PSSI.

Dalam buku Statuta PSSI dan Tata Tertib Kongres, Edisi 20l4 yang ditanda-tangani Ketua Umum Djohar Arifin Husin dan Sekjen Hadiyandra, “Mukadimah” sudah dihapus. Tidak diketahui apa dasar dan alasannya, karena tidak pernah ada penjelasan.

Namun bisa disebut, bahwa sesuai dengan Keputusan FIFA (The Federation Internationale de Football Association – Federasi Sepak Bola Internasional), semua Asosiasi Sepakbola di setiap negara harus menyesuaikan statutanya dengan Statuta FIFA. Artinya Statuta PSSI merupakan adopsi dari Statuta FIFA. Seperti tercatat Indonesia (baca; PSSI) sudah terdaftar sebagai Anggota FIFA sejak tahun l95l.

Statuta (Anggaran Dasar) tanpa “Mukadimah”, sama artinya dengan PSSI tidak lagi memiliki khitah sebagai dasar perjuangan. Apalagi dalam “Mukadimah” tertera kata Undang-Undang Dasar l945 dan Pancasila.

Hal itu sama sekali tanpa disadari oleh Pengurus PSSI semasa era Djohar Arifin dan seterusnya, karena lebih berkutat pada kompetisi (baca: pembinaan –ed) yang mengarah ke program bisnis. Dengan demikian ciri khas sejarah persepakbolaan Indonesia yang sangat berbeda dengan negara-negara lain, dengan sendirinya menjadi sirna.

Usaha mengombinasikan gerakan pembinaan dengan bisnis, sudah tentu tidak  mudah dilakukan oleh tokoh-tokoh sepak bola Indonesia.

Bukan saja karena belum punya pengalaman dalam dunia bisnis sepakbola, juga karena integritas para pengelola persepakbolaan nasional terhadap sepakbola umumnya sangat tipis.

Bahkan cenderung tidak murni, akibat sikap yang hanya sekedar hobi (senang sepak bola) atau sekedar cari panggung atau bahkan “numpang hidup”.

PSSI Bukan Organisasi Pertama Catatan khusus yang perlu dinukilkan dalam sejarah persepakbolaan nasional, bahwa sebenarnya PSSI bukanlah organisasi sepakbola pertama yang lahir.

Sebelumnya sudah ada sebuah organisasi sepakbola di Surabaya bernama Indonesische Voetbal Bond (IVB) yang didirikan oleh dua tokoh pergerakan Mr. Tjindarboemi dan Soeroto.

IVB yang pembentukannya dimaksudkan untuk mengimbangi NIVB, ternyata tidak dapat berjalan, karena seperti disampaikan Pamoedji wakil dari Surabaya pada saat pembentukan PSSI, IVB lebih banyak melakukan pertemuan bernuansa politik, daripada membahas masalah persepakbolaan. IVB dibubarkan secara resmi saat PSSI terbentuk di Yogyakarta.

Jangan heran jika sepakbola Indonesia sampai saat ini prestasinya belum juga beranjak dari kategori “anak bawang” dalam percaturan  internasional dan bisnisnya masih saja serba digeluti oleh berbagai masalah seperti mafia suap, atur skor, sepakbola gajah, pasar taruhan, kerusuhan antarpendukung dan noda-noda lainnya, termasuk berkali-kali turbulensi di tubuh kepengurusan, mengantar organisasi olahraga tertua Republik ini, tidak punya stadion sendiri, termasuk juga kantor.

Sungguh memprihatinkan, PSSI yang usianya mendekati 90 tahun (9 April 2020), tapi kondisinya masih saja bagaikan “numpang hidup” di dalam percaturan pembangunan nasional.*

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2