Austria, Azzurri Kompak Kritik Isolasi Inggris - Waspada

Austria, Azzurri Kompak Kritik Isolasi Inggris

  • Bagikan
Peter Linden

LONDON (Waspada): Austria dan Italia yang saling berhadapan pada babak 16 besar Euro 2020, kompak mengeritik sistem isolasi 10 hari yang diberlakukan Pemerintah Inggris terhadap para pendatang.

Akibat kebijakan terkait prokes Covid-19 tersebut, laga Austria kontra Gli Azzurri potensial minim dukungan dari fans kedua tim yang bertarung di Stadion Wembley, London, Inggris, Minggu (27/6) dinihari mulai pkl 0200 WIB.

“Kami … sangat menganjurkan Anda tidak melakukan perjalanan ke Inggris untuk menyaksikan laga melawan Italia pada 26 Juni 2021 di Wembley,” pesan Kemenlu Austria, seperti dikutip dari laman resminya, Jumat (25/6).

                                             

Ada lonjakan kasus Covid-19 menyusul persebaran varian Delta yang lebih mudah menular. Karenanya Inggris mewajibkan orang-orang yang datang dari luar negeri segera menjalani karantina 10 hari.

“Dengan keadaan sekarang, tidak akan ada suporter Austria maupun Italia di stadion. Sungguh tidak masuk akal kami harus main di London,” kritik Franco Foda (foto kanan), pelatih Austria berusia 55 tahun asal Jerman.

Keadaan ini menjadi kekecewaan tersendiri bagi suporter Das Team yang harus melewatkan kesempatan negaranya untuk pertama kali berhasil mentas di babak gugur Piala Eropa.

Foda pun berharap Konfederasi Sepakbola Eropa (UEFA) bisa mengintervensi keadaan demikian. Supaya memberi kesempatan suporter negaranya bisa memberi dukungan langsung untuk David Alaba cs.

“Saya harap ada solusi untuk para suporter, salah satunya memindahkan lokasi. Saya harap sebanyak mungkin suporter bisa menyaksikan langsung, itu harapan terdalam saya,” papar mantan pelatih Sturm Graz tersebut.

Di kubu Azzurri, Presiden Federasi Sepakbola Italia (FIGC) Grabiele Gravina berusaha melakukan lobi agar masa isolasi 10 hari itu dapat dikurangi menjadi lima hari saja.

“Kami melakukan segala yang kami bisa untuk mendapatkan pengurangan dari aturan karantina lima hari. Jika tidak, komunikasi dan organisasi dapat terpengaruh,” klaim Gravina.

Hanya saja dia tidak sepakat dengan Foda untuk memindahkan venue laga ke Kota Roma atau Budapest yang menjadi surganya para fans.

“Tidak ada kondisi yang tepat untuk menyelenggarakan acara seperti itu di Roma. Saya ingin menyoroti rasa tanggung jawab yang ditunjukkan negara kami terkait kesehatan para penggemar,” tutur Gravina.

“Fakta bahwa 60.000 penggemar dapat menonton pertandingan di Stadion Budapest dengan tanpa mengenakan masker, tentu menarik perhatian dan ketakutan,” katanya menambahkan.

Sebaliknya Perdana Menteri (PM) Italia Mario Draghi malah menyerukan agar venue final dipindahkan dari Wembley ke Roma, karena infeksi yang semakin cepat di Negeri Ratu Elizabeth II.

Menurutnya, Inggris mencatat peningkatan kasus virus corona akibat penyebaran varian delta yang pertama kali diidentifikasi dari India.

“Saya menganjurkan bahwa pertandingan final jangan berlangsung di negara tempat risiko infeksi sangat besar. Saya ingin memastikan final bukan di negara-negara  tempat virus menyebar dengan cepat,” sindir Draghi.

Pemerintah Inggris merespon kritik itu dengan mengizinkan Stadion Wembley dihadiri lebih dari 60.000 suporter untuk pertandingan semifinal dan final. Itu berarti Wembley bisa dipenuhi 75 persen kapasitasnya untuk tiga laga terakhir Piala Eropa 2020.

Hanya saja Inggris belum mengendurkan ketentuan karantina yang mereka berlakukan bagi para pendatang internasional.

Seluruh calon penonton di Wembley harus memiliki hasil tes negatif Covid-19 atau bukti vaksinasi penuh dengan dua dosis diterima 14 hari sebelum pertandingan.

Sebelumnya, Wembley dibolehkan menampung 22.500 suporter untuk tiga laga di fase Grup D yang dilakoni Three Lions. Untuk laga Italia kontra Austria pada 27 Juni ditingkatkan menjadi 40.000 penonton, begitu pula untak partai Inggris vs Jerman. (m08/rtr/afp)

  • Bagikan