Atlet Balek Perang Pantun - Waspada

Atlet Balek Perang Pantun

  • Bagikan

KALAU di Warung Saonah perdebatan soal dusun ini mendapat peringkat 13 pada pesta olahraga kemarin, sudah reda, bahkan Alang Bobal beberapa pekan ini sudah menegakkan leher dan busung dada.

Tiba tiba pertengkaran marak di warung tangkahan sebelah timur. Pasalnya Uda Ambe merepeti kadus yang terkesan tak peduli lagi dengan olahraga. Gosip yang dilemparkan Uda Ambe antara lain soal keberangkatan si Nur memperkuat Timnas sepakbola ke Piala Benua. Kalau pisang, bahkan hampir gosong digoreng Uda Ambe yang belum lama ini gagal di pemilihan dewan pijat nasional.

Terbaru adalah kepulangan atlet cabang bulu yang sukses meraih juara satu dan dua, tak satupun pejabat dusun dan para tokoh menyambut di tangkahan. “Kamano sajo mereko tuh!” tukas Incek Holil.

Terjadi pro kontra perdebatan menjurus pertengkaran, tapi tak satupun mereka ada yang order minuman atau makanan tambahan.

Pertengkaran sekonyong konyong terhenti oleh suara batuk dari luar warung tangkahan. Ternyata Pakde Tri baru tiba dari perlawatan ke pulau Jawa, di tangkahan disambut Alang Bobal.

“Kisaran ibukotanya Asahan, tempat berkisar para pendekar,jika tuan ingin ke tujuan, jangan-lah pula mengajak bertengkar…,” ujar Pakde Tri berpantun sambil meletakkan koper bawaannya di samping meja, lalu duduk sambil merapikan letak blangkonnya.

“….Asahan tempat para pendekar, pandai berdebat pun berkelakar, biarpun kita saling bertengkar, penambah imun menjadi pintar,” langsung disambut Uda Ambe.

Pakde Tri diam mengembangkan senyum. Dengan lembut dicopotnya blangkon, lalu mengacungkan ke arah Abah Jahid. “Antum kenapa diam? Hayo balas pantun kami,” ujarnya lalu meletakkan blangkon di atas koper.

            “Hang Tuah itu golarnyo pandekar, sakali pukul lawanpun lomah, tak apo apo kito soring batongkar, supayo ilmu jadi batambah…,” tukas Abah Jahid.

“Harus kelen ingat ingat, tak ado guno batongkar dongan emosi balobih lobih. Suaro kelen tadongar sampai ka sampan nun. macam potir manggalogar. Ingat ini yo, karipik bakar si Ubi Rambat, jangan lupo si Kue Dadar, kritik dan tongkar obat asam urat,  jiko dilakukan dongan sadar,”celetuk Alang Bobal.

Seolah tak menghiraukan apa kata dan pantun Alang Bobal, Uda Ambe langsung berpantun: “Kota Kisaran punyo sejarah, tampat batapo si ular Nago, kolok ilmu tuan ondak diasah, Asahan inilah tompatnyo. Sungguh indah bintang di langit, indahnyo sampek bulan purnamo, biar ilmu tuan satinggi langit, kolok bolum ka Asahan tak ado apo aponyo,” seru Uda Ambe bersemangat.

“Sungguh cantik si buku tulis, buku tulisnyo pake sampul. Abah, pakek limpul?” Tiba tiba si Kacan salah satu tokoh pemuda di situ melontarkan pantun jenaka, sedari tadi anak muda ini diam saja, asyik kutak katik Skuternya di halaman warung tangkahan.

Suasana pun semakin mencair dan segar. “Semoga sajo isi pantun kito tadi kono ke duduk soalnyo. Badobat kasi pandapat, rembuk ke, mufakat, selosei lah. Piye toh?” Ujar Pakde Tri dengan logat tempatan campur Jawa Adalas, lalu membuka koper, membagikan cindera mata dari pulau Jawa.

“Izin dulu ambe kasi pantun. Berkisar nage di pinggir silau, kerang mengange lupe merebus, bertengkar sengit ambe pikir seru, terheran sadar eee rupanye margabus! Betul kate Pakde Tri, apalagi soal olahrage tak patut basarabutan. Bicare kan elok elok,” tutur Toke Aruan.

  • Bagikan