Waspada
Waspada » Abrasi Nasionalisme Dalam Sepakbola
Olahraga

Abrasi Nasionalisme Dalam Sepakbola

AMANDEMEN Anggaran Dasar PSSI menjadi Pedoman Dasar pada tahun 2003. Selanjutnya berubah lagi menjadi Statuta PSSI tahun 2009 yang mengadopsi Statuta FIFA.

Namun tidak tuntas, mengantar Persepakbolaan Nasional yang didirikan pada 19 April 1930 di Yogyakarta menghadapi ancaman terjadinya abrasi terhadap nasionalisme.

Silakan dalami jiwa, spirit dan nilai  Mukadimah Statuta PSSI yang dilahirkan dalam Kongres PSSI 1950 di Semarang. Ada empat alinea bunyi mukadimah tersebut sbb:

Bahwa sesungguhnya Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dilahirkan di Yogyakarta pada tanggal 19 April 1930 sebagai wujud tuntutan pergerakan kebangsaan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia.

Oleh karena itu, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia merupakan salah satu Organisasi Perjuangan Bangsa dan Negara yang dilakukan melalui sepakbola.

Bahwa sepakbola telah menjadi salah satu olahraga rakyat yang sangat popular, dan sepakbola merupakan sarana yang sangat penting untuk menunjang pembangunan bangsa, baik di bidang fisik, mental maupun spiritual dalam rangka mewujudkan masyarakat adil dan makmur secara merata dan berimbang, berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945.

Bahwa keberhasilan pembinaan sepakbola diukur dari prestasi yang dicapai, sebab tingginya prestasi sepakbola menimbulkan kebanggaan nasional. Dengan demikian keberhasilan pembinaan harus dilakukan secara terorganisir untuk meningkatkan prestasi sepakbola nasional.

Menyadari hal tersebut di atas, dengan Rakhmat Tuhan yang Maha Esa dan didorong oleh keinginan luhur untuk mengabdikan diri kepada Bangsa dan Negara, maka Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia berupaya meningkatkan pembinaan organisasi persepakbolaan nasional yang kuat dan teratur serta menyelenggarakan kegiatan-kegiatan persepakbolaan dengan memperhatikan seluruh ketentuan dan peraturan organisasi Internasional khususnya organisasi sepakbola.

Untuk dapat melaksanakan tujuan tersebut dengan sebaik-baiknya, maka dengan ini disusunlah landasan organisasi yang ditetapkan dalam Statuta.

Kita melihat kenyataan, bahwa Pengurus PSSI tidak lagi menggubris Mukadimah tersebut. Perhatikan Mukadimah tersebut bentuknya mirip UUD 1945, karena dalam Kongres 1950, acuan yang dipakai untuk menyusun Mukadimah tersebut adalah UUD 1945.

Karena tidak  menganggap, apalagi mendalam jiwa, spirit dan nilai Mukadimah tersebut, terjadilah abrasi terhadap nasionalisme. Buktinya; Timnas sebagai puncak pembinaan, prestasi internasionalnya nihil. Belum lagi soal mafia terkait dengan bisnis gol, bentrokan antar suporter dan lain-lain.

Bayangkan jika pengurus saja mensirnakan cahaya nasionalisme, bahkan kabarnya sudah dihapus, terlukis betapa dahsyatnya abrasi nasinalisme melanda persepakbolaan nasional.

Lihat saja abrasi air laut terhadap pantai, bisa menyebabkan pantai rontok, konon pula sepakbola nasional, yang setiap Kongres/KLB mengutak-atik statuta, hanya karena pengabdian luar biasa terhadap ”kolonial” FIFA, dengan menepikan Mukadimah sebagai GPPN (Gerakan Pembangunan Persepakbolaan Nasional.

Cobalah hitung berapa pemain nasional yang hafal Pancasila. Maklum, kebanyakan pemain, di benaknya lebih tergambar lembaran-lembaran rupiah, sebagai konsekuensi ketidak-mampuan PSSI  mengelola asiapa yang diharuskan FIFA yakni profesionalisme sejati.

Sepakbola bayaran yang sudah dilaksanakan selama 40 tahun dimulai tahun 1980 oleh Kepengurusan Ali Sadikin, sampai saat ini belum bisa terlaksana sesuai dengan kaidah-kaidah profesionalisme  sejati.

Negara-negara tetangga seperti Jepang, Korsel, Malaysia, Vietnam, Thailand, Singapura, yang sempat ”sempat” belajar pro di Indonesia, telah melangkahi Indonesia. *

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2