Waspadai Kekerasan Berbasis Gender Di Ranah Online

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Masyarakat diminta untuk sadar dan mewaspadai adanya kekerasan berbasis gender (KBG) dimanapun, termasuk di ranah online.

“Saat ini kekerasan berbasis gender tidah hanya terjadi dalam ruang fisik, di tengah perkembangan dan pengguna teknologi KBG juga marak terjadi di ranah online,” ujar Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Rumah Tangga dan Rentan Kemen PPPA Valentina Gintings, Selasa (30/11) saat berbicara pada workshop Dare To Speak Up bertajuk ‘lawan Kekerasan Berbasis Gender Online untuk mendorong peningkatan literasi digital masyarakat’, yang digelar
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bekerja sama dengan SAFENet dan Asah Digital. Kegiatan itu digelar dalam rangka Hari Anti Kekerasan terhadap Perempuan dan menjelang Peringatan Hari Ibu (PHI). 

Dari data catatan akhir tahun (catahu) Komnas Perempuan Tahun 2021 bahwa perempuan dalam himpitan pandemi ini justru banyak sekali mengalami kekerasan berbasis online. Lonjakan kekerasan berbasis online ini terjadi seperti pengambilan foto atau video porno tanpa izin, mengirimkan foto atau video berkonten porno, dan ancaman-ancaman penyebaran terhadap video porno tersebut yang disalahgunakan oleh orang tertentu,”

Valentina menambahkan istilah KBG seringkali dipergunakan secara bersamaan dengan istilah kekerasan terhadap perempuan, karena korban yang paling banyak mengalami kekerasan yaitu perempuan, namun tidak menutup juga dialami laki-laki.

 “Paling banyak korban (saat ini) pinjaman online ya. Melalui pinjaman online tersebut data orang yang pernah berhubungan dengan agennya kemudian disalahgunakan dan ini paling banyak korban adalah perempuan. Biasanya berupa pencemaran nama baik, pelanggaran privasi dan lainnya tentunya ini termasuk bentuk-bentuk kekerasan gender berbasis online. Krangnya literasi digital individu terutama perempuan dan anak sangat mempengaruhi sehingga mereka menjadi korban,” jelas Valentina.

 Ellen Kusuma, Kepala Sub Divisi Digital At-Risks, SAFENet menjelaskan bahwa kekerasan berbasis online itu bukan hanya ketika bentuk kekerasan yang terhubung dengan internet atau hanya terjadi di media sosial saja.

“Kekerasan termasuk kekerasan berbasis gender online itu sebuah kekerasan yang sudah difasilitasi oleh teknologi digital berupa perangkat keras seperti handphone  maupun perangkat lunak seperti aplikasi, website atau media sosial,”

Dijelaskan Ellen, para pelaku memiliki beragam motivasi seperti balas dendam, cemburu, agenda politik, kemarahan, agenda ideologi, kekerasan seksual, menjaga status sosial, kebutuhan keuanga. Begitu pula dengan tujuan mereka juga bisa bermacam-macam seperti ingin sengaja menyakiti psikologis korban atau tujuan lebih besar selanjutnya.

“Teknologi digital inilah yang memungkinkan frekuensi serangan kepada korban itu bisa bertubi-tubi, bisa lama, jangka panjang. Pelaku tidak cuma mengintimidasi sekarang, tapi setahun kemudian dia mengintimidasi kembali korban karena dia masih memiliki konten atau jejak digital korban yang masih bisa dieksploitasi lebih lanjut,” tutur Ellen.

Manajer Program Kebijakan Publik Facebook/Meta, Desy Sukendar menyebut faktor keamanan digital atau siber harus menjadi perhatian pertama dan utama bagi para pengguna internet. Desy mengingatkan agar para pengguna internet khususnya dalam bermedia sosial dapat terliterasi atau memahami mengenai privasi dan jejak digital mereka di dunia maya.

 “Kita semua tidak ada bedanya, punya kerentanan yang kurang lebih sama terkait risiko menjadi korban kejahatan maunpun kekerasan berbasis gender. Sebisa mungkin cek dan ganti secara reguler untuk pengaturan privasi pribadi seperti password di tiap akun-akun kita,” ujar Desy.

Desy juga membagikan tips dan trickuntuk menghindari ancaman bahaya di ruang maya, diantaranya selidiki informasi yang tampaknya sulit dipercaya; Pahami ketika suatu pesan diteruskan; Jangan langsung percaya informasi yang tidak dapat dipercaya; Amati bila ada format pesan yang terlihat janggal;Cek foto, video, dan audio dengan lebih dekat; Perhatikan alamat URL berita sebelum membukanya; Lihat laporan lainnya dan bijaklah dalam berbagi info. (J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *