Total Restruk Kredit BNI Dampak Covid-19 Turun Signifikan

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Total restrukturisasi kredit PT Bank Negara Indonesia/BNI (Persero) Tbk., terdampat Covid-19 sudah menurun sangat signifikan dengan posisi akhir tahun 2021 senilai Rp72,12 triliun. 

“Sedangkan untuk kredit restrukturisasi non Covid mencapai Rp50,8 triliun, dan pemupukan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) BNI sejauh ini telah mencapai Rp50,29 triliun,” kata Direktur Manajemen Risiko BNI David Pirzada, Rabu (26/1). 

Sampai dengan akhir 2021, rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) BNI sudah berada pada level 3,7 persen, turun signifikan dari sekitar 60 basis point (bps). 

“Bagi BNI, berakhirnya masa relaksasi restrukturisasi kredit bukan menjadi perihal yang dikhawatirkan. Justru pada 2022, kami akan terus berupaya memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi untuk meningkatkan kualitas kredit,” ujar David. 

Selain itu, lanjutnya, akan dibarengi dengan  ekspansi kredir dan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian yang menjadi pertimbangan utama pihaknya. 

David menambahkan, untuk tahun 2022 posisi rasio kredit bermasalah emiten bersandi BBNI ini akan ditekan di bawah 3 persen dengan memperkuat manajemen risiko.

Dalam laporan kinerja keuangan 2021, BNI mencatat laba bersih 2021 sebesar Rp10,89 triliun, tumbuh 232,2 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). 

“Angka laba ini mengalami pertumbuhan tiga kali lipat dari profit tahun 2020;” jelas Direktur Utama BNI, Royke Tumilaar. 

 Pencapaian laba bersih ini ditopang dari Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) yang tumbuh 14,8 persen (yoy) sehingga mencapai Rp31,06 triliun. 

“Pencapaian ini bahkan menjadi yang tertinggi yang pernah dihasilkan BNI, lebih tinggi dari pendapatan operasional sebelum pandemi,” terang Royke. 

Selain itu, upaya perbaikan kualitas kredit melalui monitoring, penanganan, dan kebijakan yang efektif membuat cost of credit membaik menjadi 3,3 persen. 

Menurutnya, pendorong utama kredit selama 2021 berasal dari penyaluran di sektor business banking. Secara keseluruhan, kredit di sektor business banking tumbuh 4,5 persen yoy menjadi Rp482,4 triliun.  

Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari pembiayaan ke segmen korporasi swasta yang tumbuh 7,6 persen yoy menjadi Rp180,4 triliun. 

Lebih lanjut, segmen large commercial juga tumbuh 10,4 persen yoy menjadi Rp40,9 triliun dan segmen kecil tumbuh 12,9 persen yoy dengan nilai kredit Rp95,8 triliun. 

Di sektor konsumer, BNI mencatat kredit terbesar yang tumbuh adalah kredit payroll yang naik 18,3 persen yoy menjadi Rp35,8 triliun. 

Sementara untuk kredit kepemilikan rumah (mortgage) juga mengalami pertumbuhan 7,7 persen yoy menjadi Rp49,6 triliun. Sehingga kredit konsumer BNI mengalami pertumbuhan sebesar 10,1 persen yoy menjadi Rp99 triliun. (J03) 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.