Waspada
Waspada » Tingkat Kepuasan Publik Pada Pemerintah Jokowi 58 Persen
Nusantara

Tingkat Kepuasan Publik Pada Pemerintah Jokowi 58 Persen

Diskusi Dialektika di Media Center DPR RI, Jakarta, Kamis, (22/4). Dari kiri ke kanan anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Eriko Sutarduga, Direktur Eksekutif Voxpol Indonesia Pangi Syarwi Chaniago dan anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar , Misbakhun ( Waspada/ Ist).

JAKARTA (Waspada): Direktur Eksekutif Voxpol Indonesia Pangi Syarwi Chaniago hasil riset lembaganya tentang kepuasan terhadap pemerintahan Jokowi sejak Maret hingga 2 April, itu 51,8% puas, ditambah sangat puas itu 6%, jadi total itu 58 %. Sedangkan tidak puas 33,6%, sangat tidak puas 5%. Menurut Pangi kalau bicara tentang kepuasan, yang paling ideal mestinya di angka 80% keatas. Tetapi 70% pun sudah cukup bagus. “Masih menjadi penting, apakah penting reshuffle atau tidak,” ujarnya dalam Diskusi Dialektika bersama anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar, Misbakhun dan anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan Eriko Sutarduga di Media Center DPR RI di Jakarta Kamis (22/4).
Soal reshuffle Pangi menyebut Jokowi punya karakter tersendiri. “Harus kita akui, saya nggak tahu beliau punya ilmu apa di situ, kemampuan beliau untuk mengakomodir lawan-lawan politiknya. Partai-partai semua takluk saya lihat satu persatu, ini realitas, bahwa kalau dalam teori diatas agak sulit itu yang dialami oleh periode sebelumnya SBY agak repot menghadapinya. “Saya nggak tahu PAN (maksudnya Partai Amanat Nasional) akan menjadi penting lagi sama beliau atau tidak. Kalau ditanya kapan? saya bilang saya nggak tahu,” ujar Pangi.
Bahkan hingga kini belum ada satupun orang dekat Presiden Joko Widodo mengetahui jadwal pasti reshuffle jilid II, termasuk tenaga ahli Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin.
“Kedua adalah kalau diceritakan tadi, cerita resuffle ini kapan, ini sebenarnya yang tahu Pak Jokowi dan Tuhan yang tahu,” kata Pangi.
Jika waktu rehuffle ini diketahui oleh Ngabalin maka sudah dipastikan hal tersebut tidak terjadi. Pasalnya, dua hari kemarin Ngabalin mengklaim akan terjadi reshuffle pada minggu ini, namun hal tersebut tidak terjadi.
Menurut Direktur Voxpol Center ini, Presiden Jokowi adalah tipikal pemimpin yang tidak suka bising, hingga prediksi-prediksi yang disampaikan oleh Ngabalin dan orang dekat Presiden salah semua.
“Jadi Bang Ngabalin yang membuat masalah sebetulnya, akhirnya nggak jadi, karena memang Presiden selama ini ga suka bising, ga tenang bahkan ketika survei mengatakan ada Menteri yang berkinerja baik, mana Menteri yang ga bekerja dengan baik, maka semakin lama lagi reshuffle itu,” jelasnya.
Sementara itu Misbakhun menegaskan dalam situasi saat ini reshuffle sebuah keniscayaan politik dari sebuah sistem politik presidensial dimana presiden sebagai kepala pemerintahan dia secara konstitusional mendapatkan mandat untuk membentuk kabinet.
Menurut Misbakhun dalam situasi pandemi saat ini, ada situasi-situasi sehingga publik bisa membaca, publik bisa melihat apa saja prestasi, hasil kerja, capaian, termasuk citra termasuk persepsi terhadap semua anggota kabinet.
Menurut Misbakhun kita tidak bicara tentang orang, kita tidak bicara tentang posisi, tapi kita bicara tentang bagaimana presiden ketemu orang yang bisa membaca getaran hatinya dan kemudian menterjemahkan menjadi kerja-kerja yang nyata, karena Pak Jokowi itu bahasanya simpel, kerja, kerja, kerja , terus apa hasilnya, rakyat yang merasakan.
Dalam hubungan itu
Eriko Sutarduga menyatakan, tidak ada yang salah dalam reshuffle. “Justru kalau tidak ada reshuffle, itu yang kita harus bertanya-tanya, dalam situasi seperti saat ini, ” ujarnya.
Sedangkan perkara orangnya siapa, kata Eriko, monggo saja Pak Jokowi menunjuk, tidak ada yang keliru kalau mau dituju dari profesional boleh, apakah juga orang politik atau dari partai politik beda partai.
“Apakah sudah ada komunikasi soal siapa dan bagaimana, saya harus jujur menjawab, seminggu lebih yang lalu, beliau Pak Jokowi bertemu dengan ibu ketua umum kami. Tapi apakah sudah membicarakan itu, tentu pasti ada pembicaraan pembicaraan yang baik, namanya antara apa presiden ke-7 dengan presiden ke-5, antara kakak beradik kalau kita katakan sebagai silaturahmi, “ujarnya.(j04)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2