Waspada
Waspada » Sampah Nuklir di Batan Indah Bikin Masyarakat Resah, Pakar Energi Minta Kinerja BATAN dan Bapeten Diaudit
Nusantara

Sampah Nuklir di Batan Indah Bikin Masyarakat Resah, Pakar Energi Minta Kinerja BATAN dan Bapeten Diaudit

JAKARTA (Waspada): Ditemukannya limbah radioaktif di Perumahan Batan Indah, Tangerang Selatan, Banten beberapa waktu lalu menandakan masih lemahnya budaya keamanan nuklir di Indonesia. Hal itu seharusnya tidak terjadi jika manajemen pengawasan dan sistem keamanan nuklir yang dikelola Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nasional (BAPETEN) berjalan baik.

“Tidak boleh ada pembiaran, meskipun baru satu kali terjadi. Itu yang dimaksud nol insiden, kita memang agak lemah pada budaya keamanan,”ujar anggota Dewan Energi Nasional periode 2014 hingga 2019, Dwi Hary Soeryadi daalam diskusi bertajuk “Kebocoran Radiasi Nuklir di Serpong, Masihkah akan Membangun PLTN di Indonesia?” di Jakarta, Kamis (27/2).

Ditambahkan Dwi, pengelolaan limbah radioaktif itu sebenarnya sudah punya prosedur operasional standar sendiri supaya memastikan tidak ada insiden. Jadi apa yang terjadi di Komplek Batan Indah seharusnya tidak boleh dibiarkan meskipun baru terjadi pertama kalinya. Dwi juga meminta harus ada sanksi tegas kepada pelaku yang diduga merupakan pegawai BATAN.

Pemerhati Energi, Faby Tumiwa, menilai ada kelemahan dalam sistem pengawasan pengelolaan limbah radioaktif. Karenanya dia mengatakan perlu ada investigasi atau audit kinerja untuk BATAN dan Bapeten.

Audit itu bertujuan untuk memastikan kejadian pembuangan limbah radioaktif di perumahan warga itu tidak terjadi lagi. Setelah diaudit perlu diberikan rekomendasi, agar kasus tersebut tidak terjadi lagi.

“Jadi kasus ini tidak hanya masuk rana pidana lantas selesai setelah diberikan kepada kepolisian. Hal itu tidak akan mengubah budaya keamanannya. Perlu audit kinerja untuk BATAN dan Bapeten,” tambah Faby.

Ketakutan terkait temuan limbah nuklir di Serpong membuat masyarakat di Jepara, Jawa Tengah yang tergabung dalam Masyarakat Reksa Bumi (Marem), terusik. Seperti diketahui, Jepara adalah daerah yang sempat digasang-gadang akan dijadikan sebagai salah satu lokasi pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

Ketua Marem, Lilo Sunaryo menilai, masyarakat Jepara semakin resah melihat adanya kegagalan pengawasan limbah radioaktif. Masyarakat Jepara memang sejak lama menolak uji tapak PLTN di daerahnya.

“Masyarakat Jepara menentang keras agar tidak ada PLTN di Jepara. Masyarakat resah dan tidak percaya lagi Batan bisa menyimpan limbah radioaktif,” katanya dalam duskusi.

Dalam rencana umum energi nasional, PLTN menjadi opsi terakhir penyediaan energi di Indonesia. Kebijakan bauran energi 23% hingga 2025 mendorong pengoptimalan energi baru terbarukan seperti surya (matahari), panas bumi, angin dan biomassa (salah satunya limbah kelapa sawit).

Sejak dekade 1950an hingga 2011, lima kecelakaan nuklir besar pernah terjadi dan menyebabkan paparan radiasi tinggi. Bahkan wilayah yang terpapar radiasi berubah menjadi kota mati tanpa penghuni. Masyarakat pun menjadi korban paparan radiasi.

Pada 1957, kecelakaan reaktor nuklir terjadi Windscale Fire, Inggris. Di tahun yang sama terjadi juga kecelakaan di Kyshtym Rusia. Lalu pada 1979 kecelakaan nuklir terjadi di Three Mile Island Amerika Serikat, pada 1986 kecelakaan nuklir terjadi di Chernobyl, Ukraina, dan pada 2011 kecelakaan nuklir terjadi di Fukushima Daiichi.

Sikap negara-negara di dunia yang mengoperasikan dan merencanakan pembangunan PLTN juga berubah seiring sejumlah catatan kecelakaan itu.

Jerman secara bertahap menutup PLTN sampai dengan 2022. Prancis menurunkan pasokan listrik dari PLTN, dari 95% pasokan listrik dari PLTN lalu berkurang menjadi 75% pada 2015, dan 50% pada 2030. Korea Selatan juga akan menyetop pembangunan PLTN dan secara bertahap menutup PLTN yang ada sampai dengan tahun 2030.

Filipina, Vietnam, dan Thailand juga mempertimbangkan opsi PLTN. Malaysia juga tidak berniat membangun PLTN sampai ada cara aman untuk membuang limbah radioaktifnya.

Badan Tenaga Atom Dunia (IAEA) mencatat hingga tahun 2014 ada 435 unit PLTN beroperasi di 31 negara di seluruh dunia.

Saat ini Indonesia punya tiga reaktor untuk skala riset. Pengaplikasiannya pada tiga bidang yakni kesehatan, pangan, pertanian dan lingkungan. Tiga reaktor itu berada di Pusat Penelitian Iptek di Serpong Tangerang Selatan, Bandung, dan Yogyakarta. (dianw)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2