Waspada
Waspada » Saleh Daulay: Segera Selesaikan Uji Klinis Dan Beri EUA Pada Ivermectin
Nusantara

Saleh Daulay: Segera Selesaikan Uji Klinis Dan Beri EUA Pada Ivermectin

Saleh Partaonan Daulay,(Dok)

JAKARTA (Waspada): Pemerintah didorong untuk melakukan berbagai upaya dalam mengendalikan dan mengurangi laju penyebaran virus Covid-19.

Selain mempercepat pelaksanaan vaksinasi, hal lain yang perlu diseriusi adalah penyediaan obat-obatan bagi masyarakat yang terpapar. Terkait hal ini, ada beberapa obat yang selama ini dinilai mampu menyembuhkan orang yang terpapar Covid.

Anggota Komisi IX DPR RI Saleh Partaonan Daulay, mengatakan dalam rapat tanggal (13/7) antara Komisi IX bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes ), dan Badan Pengawas Obat dan Makanan, (BPOM), Menteri Kesehatan (Menkes) memaparkan ada delapan jenis obat yang dipergunakan untuk mengobati pasien Covid.

Kedelapan obat itu adalah Azythromycin, Multivitamin, Ivermectin, Oseltamivir, Remdesivir, Favipiravir, IV Immunogobulin (IVIg), danTocilizumab (Actemra). Menurut menkes, obat-obatan tersebut perlu suplai tambahan sehingga kebutuhannya dapat terpenuhi.

Dari kedelapan jenis obat yang dipaparkan Menkes tersebut, ivermectin menjadi salah satu yang menarik. Sebab, ketika Menkes memaparkan itu sama artinya bahwa obat tersebut benar-benar dibutuhkan. Bahkan, bisa jadi telah diberikan ke banyak pasien yang terpapar.

“Anehnya, di lapangan Ivermectin itu diperdebatkan. Kalau sudah dipergunakan, semestinya yang perlu dilakukan adalah studi lanjutan. Termasuk uji klinis dan Emergency Use Authorization-nya.” ujar wakil rakyat dari daerah pemilihan Sumut II ini dalam keterangan tertulisnya kepada Waspada, Senin ( 19/7) di Jakarta.

Berkenaan dengan itu, Kemenkes dan BPOM diminta untuk segera mempercepat proses uji klinis terhadap Ivermectin. Pasalnya, di banyak negara iIvermectin sudah banyak dipergunakan. Dan berdasarkan laporan yang ada, Ivermectin sejauh ini dinilai efektif untuk menyembuhkan orang yang terpapar Covid.

Menurutnya harus ada percepatan dan pemotongan birokrasi yang tidak perlu. Bagus juga jika dilakukan benchmark dengan negara-negara lain yang sudah lebih dahulu berhasil dan telah mengeluarkan EUA. Dalam situasi seperti ini, harus ada sense of emergency-nya. Pandemi tidak bisa diatasi dalam format business as usual.

“Saya sebetulnya senang mendengar bahwa uji klinis terhadap Ivermectin sedang dilakukan di delapan rumah sakit. Tentu ini sudah baik. Namun akan lebih baik lagi jika prosesnya dipermudah agar segera bisa diperoleh kesimpulan secara akademik. Dan pada akhirnya, EUA bisa juga segera dikeluarkan”, tandasnya

Keberadaan Ivermectin sebagai obat Covid dinilai sangat penting. Di tengah meningkatnya eskalasi orang yang terpapar, kebutuhan obat memang sangat mendesak. Apalagi, Ivermectin ini adalah obat yang sangat murah yang dapat diakses masyarakat.

“Dari jenis-jenis obat lainnya, saya dengar Ivermectin paling murah. Bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Karena itu, ketersediaannya harus dijaga agar tidak terjadi kelangkaan. Kalau langka, ya harganya nanti bisa naik. Di sini letak pentingnya peran Kemenkes dan BPOM untuk mengawal agar obat ini tersedia dalam jumlah yang cukup”, tukas Saleh Partaonan Daulay.(J05)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2