Waspada
Waspada » Ribuan Guru Paud Ikut Pelatihan Menggambar Faber Castell
Nusantara

Ribuan Guru Paud Ikut Pelatihan Menggambar Faber Castell

JAKARTA (Waspada): Lebih dari 100 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di wilayah DKI Jakarta, mengikuti kegiatan pelatihan seni menggambar dasar yang digelar Faber Castell di auditorium Dinas Pendidikan DKI, Kamis (30/1).

Para guru mendapat materi menarik tentang bagaimana seni menggambar dengan pola dasar yang dapat diaplikasikan untuk anak-anak usia dini. Pelatihan menggambar diberikan oleh tim kreatif faber castell.

Product Manager PT Faber-Castell International Indonesia, Richard Panelewen mengatakan, kegiatan pelatihan bagi guru Paud di DKI Jakarta ini adalah bagian dari program sepanjang 2020. Faber Castell sudah menggelar acara tahunan ini sejak 2000 lalu.

“Kami mengadakan pelatihan seperti ini sebanyak 60 kali dalam setahun. Dan itu sudah rutin kami lakukan sejak 2000 lalu. Kami gelar mulai dari Aceh sampai Papua. Pesertanya adalah para guru Paud dan SD. Jumlah peserta setiap kegiatan berkisar antara 100 sampai 200 guru,” ujar Richard, saat ditemui di sela pelatihan.

Pembukaan pelatihan dihadiri DR Maiman dari Direktorat Jenderal Guru dan dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta DR Rita Rosmala dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta.

Menurut Maiman, pelatihan seni menggambar bagi guru-guru di tingkat PAUD sangat berarti. Apalagi jika dikaitkan dengan keinginan pemerintah menjalankan merdeka belajar. Dari mana merdeka belajar itu bisa berhasil, jika guru tidak kreatif.

“Pelatihan yang meningkatkan kemampuan guru untuk berpikir dan bertindak kreatif untuk kebaikan siswanya, tentu saja sangat dibutuhkan. Dan karena itu pemerintah sangat berterima kasih pada pihak swasta yang berperan meningkatkan skill guru seperti ini,” kata Maiman.

Di sisi lain, anak usia PAUD adalah anak-anak yang masih mengalami masa-masa pertumbuhan emas atau golden age. Di masa itu, guru dan orang tua adalah pembentuk karakter. Karakter yang ditanamkan adalah kemandirian dan karakter mulia. Jika ada sekolah yang mengutamakan pendidikan baca tulis hitung (calistung), maka itu salah. Yang benar adalah sekolah PAUD berperan merangsang daya pikir anak untuk memahami konsep.

“Boleh baca dan hitung, tapi itu sekedar pengenalan, bukan anak harus bisa membaca. Salah besar. Kalau calistung yang dibanggakan itu sama artinya kita merampas masa keemasan anak. Anak akan bosan belajar di usia 9 atau 10 tahun. Prestasi bisa menurun,” kata Rita.

Karena itu Rita menyambut baik pelatihan menggambar bagi guru PAUD karena ini dapat merangsang anak-anak untuk memahami konsep. Misalnya, konsep tentang bentuk dasar seperti bulat, segi empat, segi tiga atau bundar. Apalagi kalau dari bentuk-bentuk dasar itu bisa dibuat gambar menarik seperti buah-buahan atau hewan, tentu anak-anak akan merasa sangat tertarik.

“Hal-hal sederhana seperti itu sangat diperlukan untuk anak-anak memahami apa saja konsep yang ada di sekitarnya. Kecerdasan yang dibangun guru pun bukan sekedar pragmatis, tapi lebih bermakna,”kata Rita.

Rita juga mengingatkan agar orang tua memahami konsep pendidikan berjenjang dalam pendidikan usia dini. Ibarat menaiki anak tangga, ada step-step yang harus dijalani. Tidak bisa instan dan melangkah terlalu lebar.

“Apa jadinya kalau kita meniti anak tangga tidak satu-satu melainkan tiga atau empat anak tangga? Sampai, sih ke atas, tapi pasti anak jadi lelah. Tentu kita tak mau anak kita akhirnya tersiksa disaat dia harusnya bahagia,” tandas Rita.(dianw/B).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2