Waspada
Waspada » Rekomendasi Dikembalikan, PDIP Bilang Terimakasih
Nusantara

Rekomendasi Dikembalikan, PDIP Bilang Terimakasih

Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto (Waapada/Ist)

JAKARTA (Waspada) Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mengucapkan terima kasih kepada Mulyadi yang telah mengembalikan rekomendasinya ke PDIP.

“Sejak awal saya sudah menduga bahwa Mulyadi tidak kokoh dalam sikap sebagai pemimpin, sehingga mudah goyah dalam dialektika ideologi.

Padahal, lanjut Hasto apa yang disampaikan Puan merupakan suatu harapan agar Sumatera Barat jauh lebih baik sebagaimana sejarah telah mencatat dalam tinta emas, kepeloporan para pahlawan Sumbar seperti Moh Hatta, KH Agus Salim, Prof Mohammad Yamin, Rohana Kudus, HR Rasuna Said, Moh Natsir, Tan Malaka dan lain lain, kata Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dalam keterangan tertulisnya kepada wartawan, Minggu (6/9) di Jakarta.

Hasto mengakui sikap Mulyadi tersebut sangat dipahami, karena politik kekuasaan bagi yang tidak kokoh dalam prinsip, hanya menjadi ajang popularitas.

“Bagi PDIP menjadi pemimpin itu harus kokoh dan sekuat batu karang ketika menghadapi terjangan ombak, terlebih ketika sudah menyangkut Pancasila, tandasnya.

Komitmen PDIP terhadap Pancasila dan kemajuan Sumbar, lanjut Hasto, tidak pernah surut, meski 10 tahun terakhir nampak ada sesuatu yang berbeda.

“ Meski Pak Jokowi dan PDIP kalah pada Pemilu 2014 dan 2019, kami tetap selalu mendorong Pak Jokowi untuk sering ke Sumbar, dan membangun Sumbar tanpa kecuali. Sikap partai terhadap Sumbar tidak berubah karena provinsi tersebut memiliki sumbangsih terhadap kepeloporan kemerdekaan Indonesia yang luar biasa.

Jadi wajib hukumnya bagi Pak Jokowi dan kader PDIP dukung kemajuan Sumbar, baik ada dukungan maupun tidak, tambahnya.

Bagaimana PDIP tidak kagum dengan Sumbar? Kata Hasto, dari bahasa Melayu saja, sejarah mencatat bagaimana bahasa yang pada tahun 1928 digunakan oleh sebagian kecil masyarakat nusantara, mampu diterima sebagai bahasa persatuan, bahasa nasional, dan diterima oleh semua suku bangsa menjadi bahasa persatuan Indonesia.

Itu kan hebat, lanjut Hasto apa lagi hal tersebut terjadi karena kepeloporan tokoh nasional Sumbar.

Hasto menegaskan apa yang disampaikan Puan merupakan bagian dari dialektika ideologis dan disampaikan dengan baik, dengan lafal Bismillah.

Jadi mari kita lihat secara obyektif dan proporsional, dan dijauhkan dari dinamika Pilgub” pungkas Hasto Kristiyanto (JO5)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2