Pencegahan Stunting Dimulai Dari Keluarga

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Upaya percepatan penurunan stunting harus dilakukan cepat dan masiv. Pasalnya, waktu yang tersedia tinggal 2,5 tahun lagi untuk target penurunan dari 27,7 persen menjadi 14 persen di 2024.

“Menuju angka 14 persen di tahun 2024 nanti, kita punya waktu tinggal 2,5 tahun. Sehingga kita harus bekerja cepat dalam rangka untuk merespon stunting itu,” ujar Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKNN), Hasto Wardyo dalam arahannya pada peluncuran program Dapur Sehat Atasi Stunting (Dahsat) se Provinsi DI Yogyakarta yang digelae daring, Selasa (30/11).

Secara Serentak di Seluruh Kampung Keluarga Berkualitas Se-DIY melalui virtual pada Selasa/30/11/2021,

Hasto menambahkan, kesempatan untuk mencegah stunting itu ada pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yakni sejak pertemuan antara sel telur dan sel sperma sampai anak berusia dua tahun.

“Orang hamil itu 280 hari kemudian diluar tinggal sisanya 720 hari jadi total 1000 hari. Saat itulah membutuhkan asupan yang sangat penting untuk gizi seimbang,” imbuhnya.

Sebetulnya pertanda bahwa 1000 hari itu penting sudah ada didalam ciri-ciri bayi itu sendiri. Tanda itu adalah saat ubun-ubunnya belum menutup jadi masih renggang. Itu juga menjadi tanda bahwa otak masih bisa berkembang tetapi begitu masuk 1000 hari maka tulang ketemu tulang sehingga kepala sudah tidak dapat berkembang lagi sehingga itulah kesempatannya 1000 HPK untuk memberikan asupan nutrisi yang sebaik-baiknya.

Untuk pencegahan stunting, modal utamanya adalah kekompakan dalam keluarga. Artinya, keluarga harus bersama-sama menyadari bahwa asupan gizi terbaik bagi anak-anak harus menjadi perhatian utama.

Bukan berarti makanan bergizi harus mahal, tapi keluarga harus tahu bahwa makanan bergizi itu juga ada di sekitar kita dan nilainya sangat terjangkau.

Kunci sukses untuk tidak stunting adalah gizi seimbang dan gizi seimbang itu tidak mahal tapi kuncinya ada protein hewani. Protein hewaninya juga tidak perlu protein hewani yang mahal, yaitu cukup protein hewani yang bersumber dari telur dan ikan karena telur dan ikan itu cukup murah.

“Hanya saja apakah keluarga dalam hal ini ayah dan ibu sadar gizi? Nah itu yang penting,” ujarnya.

Kaitannya dengan itu, BKKBN telah menyiapkan tim pendamping keluarga. Sedikitnya 600 orang pendamping keluarga di seluruh Indonesia akan bergerak masuk ke keluarga-keluarga Indonesia, untuk membantu keluarga supaya sadar gizi dan bersama-sama mencegah stunting.

Untuk DIY, Hasto mengaku sangat kagum dengan inisiatif sejumlah pimpinan daerahnya. Di Kabupaten Bantul, misalnya, sudah ada inisiasi 1 dusun diberikan anggaran 50 juta rupiah,khusus untuk mengatasi stunting ini.

“Ini saya kira kebijakan-kebijakan best practice yang sangat bagus untuk kemudian nanti bisa kita contoh.

Kepala Perwakilan BKKBN DIY Shodiqin, SH, MM menambahkan, pihaknya bekerjasama dengan pemerintah daerah kota Yogyakarta telah melaksanakan untuk launching program DASHAT, sehingga BKKBN dapat menjalankan amanah ini sesuai dengan petunjuk peraturan dari Bapak Presiden Nomor 72 Tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting. Tugas dan tanggung jawab BKKBN yang begitu besar tidak mungkin BKKBN bekerja sendiri dan ini perlu dukungan dari semua pihak dan juga mitra-mitra kami untuk bersama-sama bagaimana cara untuk bisa menurunkan stunting sesuai yang diharapkan Bapak Presiden yaitu tahun 2024 diusahakan stunting bisa turun hingga 14%”, tambah Shodiqin.

Kabupaten Kota se-DIY dan rata-rata di DIY sudah rendah stuntingnya terutama di Yogya ini kurang lebih sekitar 12 persen.

” dan Insyallah dari Yogya ini bisa zero stunting dan kami harapkan di Yogya ini adalah salah satu percontohan tingkat nasional jika dukungan semuanya bisa bersama-sama berhasil menurunkan stunting,” imbuh Shodiqin.

Pada kesempatan yang sama, Gusti Kanjeng Ratu Bendara sangat menyambut baik terbentuknya DASHAT ini.

“Harapan DASHAT ini bisa menyelesaikan segala permasalahan masyarakat, masyarakat menengah kebawah diperlukan sebuah bantuan pangan. Mengenai masyarakat menengah keatas perlu diberikan edukasi yang perlu digaungkan, karena masyarakat Indonesia itu kencang akan sebuah stigma yang timbul, tidak hanya permasalahan stunting ataupun covid dll. Bagaimana kita bisa membungkus diksi stunting agar tidak malu, namun kita Gerakan agar siapapun bisa lapor dan teratasi, stunting itu tidak memalukan namun stigma itu yang harus diubah dikalangan atas,” pungkasnya. (J02)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *