Pembelajaran Daring Dukung Kebijakan Kampus Merdeka - Waspada

Pembelajaran Daring Dukung Kebijakan Kampus Merdeka

  • Bagikan

MANADO (Waspada): Sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) adalah salah satu daya dukung utama implementasi kebijakan Kampus Merdeka. Lewat sistem daring, akses masyarakat pada pendidikan tinggi menjadi lebih luas dan lebih efisien.

Hal tersebut disampaikan Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti Kementerian Pendidikan Kebudayaan Mohammad Sofwan Effendi saat menjadi pembicara pada acara seminar dan workshop pengembangan pembelajaran daring dalam mendukung Kampus Merdeka di Auditorium Universitas Negeri Manado (Unima) Tondano Sulawesi Utara, Jumat (13/3) lalu.

Saat ini, akses masyarakat pada pendidikan tinggi sebesar 34,9 persen. Angka tersebut naik dari 29 persen pada 5 tahun lalu.

“Pembelajaran daring ini juga sangat efektif dalam upaya mencegah penularan virus corona. Mahasiswa bisa belajar dari rumah, bisa bertelekonferensi atau mengunduh tugas-tugas dari dosen lewat internet. Sangat praktis. Sungguh pembelajaran daring ini membuat kampus lebih fleksibel,” kata Sofwan.

Untuk mendukung pembelajaran online di pendidikan tinggi, sudah ada upaya pemerintah untuk melakukan peningkatan kapasitas dosen dan tenaga pendidik lainnya di perguruan tinggi dalam pembelajaran sistem daring. Sejak 2013 lalu, sudah ada sejumlah pelatihan kepada para dosen dan tenaga pendidik lainnya.

“Sejak 2013 sudah ada upaya pelatihan bagi dosen-dosen kita. Dari 300 ribu lebih dosen yang ada, sudah sekira 70 persen diantaranya sudah mendapat pelatihan pembelajaran jarak jauh,” kata Sofwan.

Pembelajaran daring, lanjut Sofwan, sudah lama digagas dalam rangka menjangkau atau memperluas akses .Dalam pembelajaran daring yang disiapkan kampus salah satunya kesiapan mental yaitu kebiasaan mengubah pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh yang mungkin tatap muka melalui layar misalnya dengan video conference atau bahkan hanya mengirim bahan.

“Akan tetapi sistem pembelajaran daring tidak bisa diterapkan 100 persen di perguruan tinggi konvensional maupun LPTK (Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan). Saat ini sistem pembelajaran daring masih menggunakan sistem ‘blended learning’ (mix blended) campuran tatap muka dan daring,” imbuh Sofwan.

Sofwan sendiri mengakui, tidak mudah melakukan pembelajaran jarak jauh untuk materi pelajaran yang bersifat keterampilan. Untuk itu ia menyarankan, saat materi tatap muka dilakukan, bisa diisi dengan diskusi tentang apa saja yang tidak tertangkap di pembelajaran daring.

Kemendikbud sendiri dalam mendukung program pembelajaran daring dengan menyiapkan sistem berbasis teknologi yang difasilitasi Ditjen Dikti salah satunya aplikasi ‘SPADA’ (sistem pembelajaran daring).

Dalam kesempatan yang sama, Rektor Universitas Negeri Manado (Unima) Julyeta Paulina Amelia Runtuwene mendukung kebijakan kampus merdeka salah satunya pembelajaran daring. Daring menjadi tuntutan jawaban dari perkembangan dunia di era revolusi industri 4.0.

Julyeta juga mengatakan peranan revolusi mempengaruhi semua aspek dan dampaknya, sehingga pembelajaran daring suatu keharusan yang tidak dapat kita hindari. Pembelajaran daring merupakan sistem pendidikan ‘e-learning’ atau ‘blended learning’ dalam rangka meningkatkan akses mutu pendidikan tinggi.

“Dalam mendukung program pembelajaran daring, Unima sudah menyiapkan aplikasi amelia (aplikasi manajemen pembelajaran dalam jaringan). Unima juga sudah menyiapkan workshop untuk kesiapan sdm dalam penguatan pembelajaran daring. Pembelajaran daring di Unima sudah berlangsung satu semester, ” tutup Julyeta.

Turut hadir dalam acara tersebut Kusrini Tim PJJ/MOOC Aptikom, Tim Spada Dikti dan Tim PJJ/MOOC Aptikom Rangga Firdaus,
perwakilan dinas pendidikan Manado serta civitas akademik dan mahasiswa Universitas Negeri Manado (Unima). (dianw)

  • Bagikan