Waspada
Waspada » Mensos Risma Ajak Masyarakat Tangguh Hadapi Disrupsi Teknologi
Nusantara

Mensos Risma Ajak Masyarakat Tangguh Hadapi Disrupsi Teknologi

Mensos Tri Rismaharini

JAKARTA (Waspada): Alih-alih terpuruk akibat disrupsi teknologi, Menteri Sosial Tri Rismaharini justeru mengajak masyarakat untuk melek teknologi untuk memperkuat ketahanan ekonomi.

“Teknologi menjadi kebutuhan di era digital. Misalnya, bisa membantu pengelolaan usaha agar lebih sejahtera. Teknologi itu bagus, memang ada kekhawatiran bisa mengurangi jumlah pekerja,” kata Mensos Risma di Jakarta, Rabu (23/6).

Penggunaan teknologi terbukti memperkuat skala usaha kecil dan menengah, sehingga meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat kurang mampu. Meski tantangannya pun tidak sedikit.

Mensos memahami dampak negatif disrupsi teknologi. Salah satunya konsekwensi adanya pengurangan karyawan dari 10 menjadi 4 orang karena tugasnya telah digantikan teknologi. Risma yakin, dampak ini bisa diatasi asal mampu melihat berbagai peluang sekaligus tantangan dengan bantuan teknologi.

“Lalu, sisa 6 pegawai itu bisa ditempatkan di posisi lain yang cocok agar tetap produktif. Meskipun ujung-ujungnya tetap menggunakan teknologi,” kata Mensos.

Di era digital, tidak ada lini kehidupan terhindar dari penggunaan teknologi. Sebab yang efisien akan bertahan sehingga mampu bersaing dengan negara-negara lain.

“Jadi, penggunaan teknologi bisa untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, namun yang terpenting adalah mencari daya ungkit yang cocok,” kata Mensos.

Risma lantas menyontohkan betapa teknologi telah membantu tugasnya saat menjabat sebagai Walikota Surabaya. Tepanya pada 2010 lalu, dia telah membuat proyek Pahlawan Ekonomi dan pejuang muda dari kelompok miskin. Kedua proyek di Surabaya itu menjadi bukti bahwa produktif menggunakan teknologi, ternyata bisa meningkatkan kesejahteraan.

Surabaya dengan 3 juta penduduk merupakan pasar yang potensial, terlebih pada saat masa pandemi Covid-19 bisa bertahan dan naik 200 persen adalah luar biasa.

“Cerita ibu rumah tangga, dari proyek pahlawan ekonomi dan pejuang muda saat pandemi produk mereka yang justru naik 200 persen. Ini jelas bukti,” katanya.

Saat penggunaan teknologi untuk memasarkan produk hal yang diperhatikan adalah pandai dan jeli melihat peluang-peluang sesuai dengan situasi setempat.

Surabaya tidak cocok untuk usaha tekstil, tapi masih ada celah yang bisa diolah, seperti produk daun kering dan eceng gondok yang kini tembus pasar ekspor.

“Sebenarnya, Tuhan telah memberikan segala sesuatu kepada kita semua, tinggal bagaimana bisa memanfaatkan dengan sebaik-baiknya,” kata Mensos.

Terlebih dulu mereka diajarkan cara penggunaan teknologi, cara pemasaran produk, pengelolaan keuangan serta akhirnya banyak yang sudah meraih sukses.

“Setelah diajari alhamdulillah dulunya punya utang, kini punya 3 rumah dan mobil, bahkan ada penjual semacam pecel yang punya mobil-mobil mewah,” katanya.

Ada kisah sukses dari insinyur peternakan mengeluh sekolah tinggi-tinggi, tapi belum bekerja maka oleh Bu Risma disarankan gabung dengan para programmer.

“Terakhir ketemu insinyur itu pakai topi koboi, dengan usaha beromzet Rp2 miliar hasil dari menggabungkan ilmu peternakan dengan teknologi,” kata Mensos.(J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2