Waspada
Waspada » Mendikbud Diminta Lebih Komunikatif Dengan Guru
Nusantara

Mendikbud Diminta Lebih Komunikatif Dengan Guru

JAKARTA (Waspada): Harapan besar terkait adanya jalinan komunikasi yang lebih baik antara guru dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Anwar Makarim, disampaikan sejumlah organisasi di bidang pendidikan.

Pasalnya, saat ini akses bertemu maupun berkomunikasi dengan Mendikbud Nadiem Makarim amat sulit.

Forum Guru Muhammadiyah (FGM) bahkan sempat melakukan jajak pendapat dengan menyebar angket kepada sedikitnya seribu guru yang berada di bawah naungannya. Hasilnya, kemampuan Kemendikbud dalam sejumlah bidang, khususnya sosialisasi program masih di bawah rata-rata.

“Bagaimana kebijakan Kemendikbud bisa sampai ke tingkat guru atau sekolah, kalau sosialisasinya terhambat. Hampir 60 persen guru menilai kemampuan sosialisasi Mendikbud dibawah 70,” kata ketua FGM, M Pahri, dalam diskusi “Evaluasi Kebijakan Pendidikan Nasional” di Jakarta, Rabu (20/5) menyebut hasil angket

Hal juga nampak dari pengamatan para guru. Selama satu semester menjabat sebagai Mendikbud, Mendikbud yang akrab disapa Mas Menteri ini terlihat sedikit sekali waktu beliau bertemu guru.

Pahri meminta agar Mendikbud menghidupkan kembali pola komunikasi dengan forum guru. Sebab, sesungguhnya mendikbud punya banyak gagasan yang dinilai baik, salah satunya adalah program penyederhanaan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).

“Penyederhanaan RPP yang fenomenal ini, disambut baik para guru,” kata dia.

Sedikit berbeda, Ahmad Rizali dari NU Circle pendidikan menyebut pola komunikasi di Kemendikbud saat ini membingungkan. Akibatnya banyak pesan yang tak sampai. Jika diberi nilai, maka untuk komunikasi di Kemdikbud adalah D.

“Kemdikbud sering menggunakan bahasa yang tidak biasa dan multitafsir. Selain itu, seringkali rancangan kebijakan terlanjur bocor dan menimbulkan kebingungan di masyarakat” tandas Ahmad.

Kemdikbud juga dinilai belum punya program komprehensif yang mendukung kebijakan pembangunan mutu Sumber Daya Manusia (SDM). Beberapa program juga dianggap belum relevan dan sulit dipraktikkan.

Dia menyontohkan program Merdeka Belajar, misalnya. Menurutnya masih membingungkan guru di sekolah saat mengajar, karena masih dipandu standar proses yang konvensional. Artinya program sudah bagus, tapi instrumennya masih instrumen lama.

Meski demikian, ada juga program yang patut diacungi jempol, diantaranya upaya Kemendikbud dalam bidang kolaboratif. Di situ, Mendikbud menggandeng ratusan pegiat pendidikan untuk berkolaborasi, meluncurkan program Organisasi Penggerak dan Guru Penggerak, dan mengundang pihak swasta dalam pelaksanaan berbasis IT. Hal ini sangat baik.

*Perlu Benahi Literasi*

Menanggapi hal ini, dalam kesempatan yang sama, pendidikan Indra Charismiadji menilai wajar jika para guru menilai pola komunikasi yang dijalankan mendikbud baru ini masih perlu dibenahi.

“Saya sepakat dengan para guru. Nilai pola komunikasi yang dijalankan mendikbud baru ini adalah D,” kata Indra.

Mendikbud, lanjut dia, hampir tidak melakukan komunikasi kepada publik tentang program Kemendikbud secara jelas. Kolaborasi dengan pihak pemerintah daerah juga tidak ada karena tidak ada komunikasi tadi. Padahal pendidikan itu diotonomikan, jika tidak ada kolaborasi pasti akan kacau dan jalan sendiri.

Padahal, lanjutnya, Nadiem sudah punya nilai lumayan untuk berpikir kritis. Salah satunya dengan berani mengganti Ujian Nasional (UN) dengan metode baru yang lebih komprehensif. Demikian juga dengan program kampus merdeka. Akan tetapi target literasi, numerasi, dan sains jauh dari rata-rata OECD. (j02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2