Masker Kain Boleh Dipakai Asal Tetap Jaga Jarak - Waspada

Masker Kain Boleh Dipakai Asal Tetap Jaga Jarak

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Sudah sejak awal isu penyebaran Covid-19 merebak, masyarakat sangat kesulitan mencari masker yang sesuai standard kesehatan. Kalaupun ada, harganya sangat mahal dan sangat dibatasi.

Jenis masker yang terjual di pasaran ada berbagai jenis, seperti masker kain, masker bedah, masker N95 hingga facepiece respirator atau masker seluruh muka.

Diantara semua jenis itu, hanya masker kain yang masih beredar luas di masyarakat. Jenis lainnya, seperti masker operasi lapis 2 ataupun 3, sudah tidak dapat dijangkau masyarakat kebanyakan.

“Cari masker seperti cari jarum di tumpukan jerami. Sekalinya bisa beli, itupun lewat online, harganya mahal dan harus beli dalam jumlah banyak. Mana kita sanggup!”ujar Indah, seorang ibu di wilayah Tangerang Selatan, Banten. Indah merasa sangat memerlukan masker untuk keperluan penting ke luar rumah, karena wilayah tempat tinggalnya termasuk zona merah.

Kini, Indah terpaksa memakai masker kain yang dijual dengan harga satuan antara Rp10 ribu sampai Rp15 ribu.

Pertanyaannya, apakah masker kain berfungsi benar dalam melindungi seseorang dari tertular virus corona baru ini?

Dokter Spesialis Paru RS Umum Pusat Persahabatan Erlina Burhan menyampaikan bahwa masker kain sebenarnya tidak memproteksi masuknya partikel ke dalam tubuh pemakainya, termasuk Covid-19. Dengan kata lain, masker kain tidak mampu mencegah seseorang dari ancaman Covid-19.

Boleh-boleh saja digunakan oleh masyarakat yang sehat, di tempat umum maupun fasilitas lain, namun mereka yang memakai masker ini tetap disarankan untuk menjaga jarak.

“Tapi tetap menjaga jarak 1 sampai 2 meter. Kenapa? Karena masker kain ini tidak bisa memproteksi masuknya partikel dan ini tidak disarankan bagi tenaga medis,” kata Erlina di Graha BNPB, Jakarta, Rabu (1/4).

Ia mengatakan bahwa tenaga medis tidak disarankan penggunaan masker kain karena 40 – 90 persen partikel dapat menembus masker.

Di samping itu, masyarakt perlu mengetahui bahwa masker kain tidak mampu untuk melindungi aerosol (partikel padat) atau partikel yang ada di udara (airborne).

“Jadi pencegahan keluarnya droplet dari batuk atau bersin itu pada pemakai, kalau droplet-nya yang beratnya besar, iya bisa, tapi kalau droplet-nya kecil, nggak bisa, tidak bisa,” tambah Erlina.

Menurutnya, masker kain efektif untuk memfilter partikel yang ukurannya 3 mikron atau 10 sampai 60 persen partikel saja yang dapat dicegah.

Keuntungan masker kain yaitu penggunaan yang dapat berulang. Tapi pengguna perlu mencuci untuk pemakaian berikutnya.

“Dicuci dengan deterjen dan bila perlu memakai air panas, karena deterjen dan air yang hangat itu bisa mematikan virus,” pesan Erlina.

Menyikapi situasi saat ini, Erlina mengatakan bahwa masker, khususnya jenis bedah, sangat dibutuhkan oleh tenaga kesehatan dan orang-orang yang sakit. Kelangkaan yang dihadapi dapat disikapi masyarakat dengan memanfaatkan masker kain sebagai alternatif terakhir.

Dokter Erlina juga mengingatkan cara penggunaan masker yang tepat, yaitu menutupi hidung dan mulut hingga dagu. Kemudian saat melepaskan, pengguna menghindari untuk memegang maskernya, dan tetap harus mencuci tangan.

Sementara masker bedah, efektif mencegah partikel airbone ukuran 0,1 mikron dari 30 hingga 95 persen. Namun masih memiliki kelemahan yakni tidak bisa menutupi permukaan wajah secara sempurna terutama di sisi samping kiri dan kanan masker.

“Dan kelemahan lainnya hanya bisa digunakan sekali pakai,” kata dia.

Adapun masker N95, memang tingkat efektifitas pencegahan penularan mencapai 95 persen namun masker ini tidak boleh dipakai oleh sembarang orang dan menjadi protokol wajib tenaga kesehatan yang harus berkontak langsung dengan pasien penderita.

“N95, masker ini mempunyai proteksi yang baik untuk droplet dan juga memiliki proteksi aerosol. Makanya dianjurkan oleh tenaga medis, bukan masyarakat, dan efektifitasnya cukup tinggi partikel ukuran 0,1 mikron aerosol sampai 95 persen,” kata dia.(dianw)

  • Bagikan