Waspada
Waspada » Kualitas Udara Di Jakarta Secara Umum Membaik 
Nusantara

Kualitas Udara Di Jakarta Secara Umum Membaik 

JAKARTA (Waspada): Kualitas udara di ibu kota Jakarta secara umum membaik belakangan ini, meski dalam perhitungan masih menunjukkan dinamika naik-turun.

Sebagaiman kota-kota besar lainnya, indikator kualitas udara di Jakarta dipengaruhi oleh polusi dari jumlah kendaraan umum dan pribadi.

Namun penerapan berkegiatan di rumah dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sedikit banyak berpengaruh terhadap kualitas udara ini.

“Kendaraan bermotor memang faktor nomor satu. Dan berhentinya pabrik (sementara) bisa berpengaruh juga ke kualitas udara Jakarta,” tutur Kepala Sub Bidang Informasi Pencemaran Udara Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Suradi dalam keterangan tertulisnya,  Kamis Sore.

Suradi menjelaskan,  secara umum sejak awal Work From Home atau berkegiatan di rumah, hingga dua pekan setelahnya dan awal Ramadan ini, terlihat ada perbaikan kualitas udara.

Sayangnya, lanjut Suradi, geliat masyarakat yang melakukan panic buying dengan mobilitas warga yang kembali tinggi, sempat menyebabkan polusi kembali terlihat meningkat di awal PSBB.

“Di tambah lagi pengaruh tidak turunnya hujan dalam beberapa waktu akan membuat kualitas udara memburuk,” tutur Suradi.

Hingga memasuki pekan pertama Ramadan, indikator kualitas udara masih menunjukkan angka yang naik turun di kategori Baik (0-50 mikrogram per meter kubik) dan Sedang (51-150 mikrogram per meter kubik).

Bukan PLTU

BMKG juga menganalisa faktor angin. Dari analisa ini, menegaskan  tidak adanya pengaruh dari Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di kawasan Banten atau sisi barat Jakarta.

Seperti diketahui, PLTU tetap beroperasi maksimal saat ini, demi menjamin pasokan listrik di ibukota lancar selama pandemi Covid-19 dan PSBB.

“PLTU justru kagak pengaruh. Kita perlu lihat juga bandingannya dengan April 2019, jika dibandingkan tahun lalu, kualitas udara Jakarta April tahun ini justru membaik,” jelasnya.

Direktur Pengendalian Pencemaran Udara Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Dasrul Chaniago juga mengakui,  banyak pertanyaan tentang dampak PSBB terhadap kualitas udara ambien Jakarta.

Menurutnya, untuk menjelaskan hal ini tidak bisa membandingkan dari bulan ke bulan, misalnya dari Januari sampai April ini.

“Karena kualitas udara dipengaruhi oleh banyak hal. Antara lain arah angin, kecepatan angin, bentang alam, dan tentunya yang utama adalah sumber emisi setempat,” urainya.

Ia mengatakan, pada April ini sudah masuk musim angin timur. Dimana saat musim angin timur, selain kering juga membawa partikel debu lebih banyak. Oleh karenanya tren partikel debu udara ambien Jakarta akan terus menaik sampai September.

Dasrul menjelaskan, jika ingin membandingkan data bulan April 2020, maka bisa dilihat kualitas udara periode yang sama tahun lalu atau year on year.

Dari analisa alat pengukur, KLHK sama dengan BMKG melihat ada perbaikan kualias udara Jakarta dan sekitarnya.

“Maka untuk konsentrasi partikel debu ( PM 10), ada penurunan  di atas 17 persen. Sedangkan untuk konsentrasi PM 2.5 ada  penurunan sekitar 10 persen. Artinya udara ambien Jakarta membaik dibandingkan tahun lalu pada waktu yang sama,” tuturnya.

Sementara, Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI), Prof Haryoto Kusnoputranto melihat cuaca udara di Jakarta selama ada PSBB memang sudah cukup membaik.

“Indikator awam adalah langit yang kelihatan lebih biru. Memang

penyumbang polusi udara di Jakarta paling besar oleh kendaraan bermotor. Ada sekitar 65 persen sampai 70 persen polusi disebabkan kendaraan bermotor,” tuturnya.

Dia menepis, kalau pembangkit tenaga uap listrik (PLTU) dijadikan sebagai faktor penyumbang polusi udara di Jakarta. Karena, ada dua yang menjadi sumber cuaca udara di Jakarta buruk.

“Pertama sumber bergerak berasal dari kendaraan bermotor, menyumbang sekitar 65-70 persen. Tidak bergerak itu ada industri dan sebagainya. Sumbernya hanya itu,”  tegasnya.

Sedang untuk mengukur kualitas udara,  ada istilah Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU). Indikatornya adalah lima polutan utama, dengan perhitungan tidak bisa dilakukan sembarangan.

ISPU itu bisa diukur apakah kondisi udara saat ini sehat (baik), sedang, tidak sehat, sangat tidak sehat dan berbahaya.

Ada 5 polutan yang bisa dipegang jadi parameter, yaitu partikel debu (PM10), karbon monooksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2) dan Ozon Permukaan (O3),” kata Prof Haryoto. (J03)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2