Waspada
Waspada » Ini Berbagai Pandangan, Rencana Pemberian Gelar Profesor Untuk Mega
Nusantara Pendidikan

Ini Berbagai Pandangan, Rencana Pemberian Gelar Profesor Untuk Mega

Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri saat menjadi pembicara di Forum Perdamaian Dunia, Beijing, Tiongkok, pada 8 Juli 2019. (Ist)

JAKARTA (Waspada): Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri dijadwalkan bakal menerima gelar Profesor Kehormatan (Guru Besar Tidak Tetap) dari Universitas Pertahanan (Unhan) Republik Indonesia, pada Jumat, (11/6).

Berkaitan dengan itu, berbagai tanggapan pun mengemuka. Kali ini datang dari peneliti senior sejarah Indonesia Dr. Remy Madinier dan Prof. Dr. Koh Young Hun, guru besar dari Hankook University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan angkat bicara, Prof. Dr. Chandra Wijaya, Guru Besar Tetap di bidang Ilmu Administrasi pada Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Indonesia (UI), dan Prof. Dr. Sudarsono Hardjosoekarto, Guru Besar di bidang Sosiologi Organisasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UI.

Peneliti senior sejarah Indonesia Modern yang berbasis di Lyon, Prancis, Remy Madinier, mendukung rencana Universitas Pertahanan (Unhan) RI memberikan gelar profesor kehormatan (Guru Besar Tidak tetap) kepada Presiden RI Kelima Megawati Soekarnoputri.

Ia menyatakan bahwa dirinya termasuk yang merekomendasikan Unhan memberikan gelar tersebut.

“Beliau juga banyak memberikan ide-ide akademis untuk meningkatkan hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Prancis dari berbagai aspek, termasuk pertahanan,” kata Remy dalam keterangannya kepada awak media, Kamis (10/6) di Jakarta.

Menurut penulis beberapa buku terkait Asia dan Indonesia itu, Megawati adalah sosok pemimpin berkharisma unik. Kompetensinya juga tinggi sehingga mampu membawa Indonesia keluar dari krisis yang kompleks saat memimpin negeri.

“Indonesia mengalami krisis kompleks dan multidimensi di tahun-tahun pasca Reformasi. Beliau membangun kepercayaan internasional kepada pemerintah Indonesia,” kata Madinier.

Pernyataan senada disampaikan Chandra Wijaya, Guru Besar Tetap di bidang Ilmu Administrasi pada Fakultas Ilmu Administrasi, UI .

Menurutnya, dari perspektif ilmu administrasi, tata pemerintahan yang dilaksanakan Megawati sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, merupakan wujud nyata ilmu pengetahuan Kepemimpinan Strategik (Strategic Leadership).

Tak heran jika kemudian Megawati memperoleh beberapa penghargaan doktor honoris causa dari berbagai perguruan tinggi di dalam negeri dan luar negeri.

“Ini merupakan bukti pengakuan pemikiran akademik atas kepakaran beliau dalam bidang Kepemimpinan Strategik,” kata Chandra.

Chandra juga memotret berbagai ide dan gagasan tentang pertahanan dari Megawati yang dituangkan dalam berbagai dokumen negara dan sebagian ditulis dalam bentuk buku-buku monograf. Misalnya yang berjudul “Pembangunan Kedaulatan Pangan untuk Kemajuan dan Kesejahteraan Bangsa Indonesia” dan “Politik Pendidikan Nasional”.

Menurut Chandra, kedua artikel ilmiah tersebut merupakan karya ilmiah yang signifikan atas kepemimpinan Megawati di dalam memimpin Indonesia mengatasi berbagai krisis yang sangat kompleks pada tahun-tahun pasca Reformasi.

Menurutnya, kepemimpinan Megawati juga memperkuat jati diri bangsa Indonesia yang memegang teguh ideologi Pancasila.

“Saya menilai kontribusi ilmiah ibu Dr. (H.C) Megawati Sokarnoputri sudah memenuhi syarat dan ketentuan untuk diusulkan menjadi Guru Besar Tidak Tetap di Unhan RI bidang keilmuan Kepemimpinan Strategik,” tegas Chandra.

Terpisah, guru besar dari Hankook University of Foreign Studies, Seoul, Korea Selatan, Koh Young Hun, menilai Megawati Soekarnoputri sebagai pemimpin yang sukses di tingkat politik dan pemerintahan. Sehingga pantas untuk diberikan gelar profesor kehormatan.

Berdasarkan surat rekomendasi sebagai promotor, Prof. Koh mengaku telah mempelajari peran penting Megawati sebagai Wakil Presiden tahun 1999-2001 dan Presiden tahun 2001-2004.

“Peran pentingnya juga menonjol sebagai pemimpin regional dalam membawa negara dan pemerintahan Indonesia ke tingkat pencapaian kepemimpinan tidak hanya di tingkat regional tetapi juga di tingkat global,” urai Koh Young Hun.

Dari perspektif ilmu sejarah, Prof. Koh meyakini bahwa kepemimpinan Megawati sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan adalah implementasi nyata dari kepemimpinan politik.

Menurutnya, beberapa penghargaan Doktor Kehormatan (Honoris Causa) dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri, menjadi bukti pengakuan pemikiran akademik atas keahliannya di bidang Kepemimpinan Strategis.

Dari pengamatan Prof. Koh membuat dirinya menilai Megawati telah menerbitkan banyak kebijakan yang sangat mendukung tugas Kementerian Pertahanan dan TNI, serta hubungan internasional Indonesia dengan berbagai negara di dunia.

“Beliau juga banyak memberikan ide-ide akademis untuk meningkatkan hubungan baik antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Prancis dari berbagai aspek, termasuk pertahanan,” kata Koh.

“Beliau memiliki kharisma yang unik dan kompetensi yang tinggi. Tidak hanya di bidang politik, tetapi juga di bidang ekonomi dalam memimpin Indonesia mengatasi berbagai krisis yang sangat kompleks di tahun-tahun pasca Reformasi dan membangun kepercayaan internasional kepada pemerintah Indonesia,” urai Kepala Pusat Budaya Indonesia Korea itu.

Guru Besar di bidang Sosiologi Organisasi pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), UI Sudarsono Hardjosoekarto, mengatakan Megawati memiliki karakter dan wibawa yang kuat sebagai pemimpin negeri.

Pada masa kepemimpinan Megawati, Indonesia sedang menghadapi masa yang sangat sulit, yakni krisis multidimensi. Saat itu, tanpa harus mengabaikan pentingnya masalah-masalah lain yang sama mendesaknya, dalam jangka pendek Megawati meletakkan prioritas pada tiga program utama. Yakni pemulihan ekonomi; normalisasi kehidupan politik; dan penegakan hukum, keamanan dan ketertiban masyarakat.

“Saya melihat kecermatan Presiden Megawati Soekarnoputri dalam memahami karakteristik krisis nasional saat itu,” kata Sudarsono.

Kala itu, Megawati membawa Indonesia melangkah melewatinya. Baik lewat mencairkan kebekuan kerjasama dengan International Monetary Fund, (IMF), memecahkan kebuntuan penyelesaian proyek penting sektor energi, hingga mendorong peran investor domestik maupun internasional.

Sudarsono mengatakan, bahwa semua itu hanya salah satu contoh. Sudarsono bisa membeberkan semuanya. Namun intinya, diribya mengamati bagaimana Presiden Megawati Soekarnoputri memiliki kepemimpinan visioner.

“Pendapat akademik saya adalah prestasi sebagai Kepala Negara dan Kepala Pemerintah merupakan wujud nyata ilmu pengetahuan Kepemimpinan Strategik atau Strategic Leadershiptegas,” kata Sudarsono. (irw)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2