Waspada
Waspada » Gelar Nobar Nyanyian Akar Rumput, Dirjen Kebudayaan: Pemerintah Siap Dukung Kemajuan Film Dokumenter
Nusantara

Gelar Nobar Nyanyian Akar Rumput, Dirjen Kebudayaan: Pemerintah Siap Dukung Kemajuan Film Dokumenter

JAKARTA (Waspada): Pemerintah siap memfasilitasi tumbuhnya film-film dokumenter anak bangsa. Sebagai salah satu kekuatan industri kreatif, film dokumenter yang berkualitas diyakini punya pangsa pasar tersendiri.

“Kita akan dukung terus karya-karya sineas Indonesia, apalagi yang ada kaitannya dengan sejarah yang pernah dialami bangsa ini,” ujar Ditektur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid, usai nonton bareng film berjudul Nyanyian Akar Rumput di XXI Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (17/1). Film dokumenter besutan sutradara Yuda Kurniawan ini meraih penghargaan sebagai film dokumenter panjang terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) 2018 lalu.

Film dokumenter Nyanyian Akar Rumput bercerita tentang pencarian jati diri seorang remaja bernama Fajar Merah. Dia adalah putra penyair dan aktivis demokrasi, Wiji Thukul. Wiji Thukul adalah seorang sastrawan dan aktivis HAM yang dihilangkan oleh rezim pada tahun 1998.

Sejak dinyatakan sebagai satu dari belasan orang hilang selama masa pergolakan ’98, sejak saat itu babak baru kehidupan keluarga Wiji Thukul berubah. Isterinya, Siti Dyah Sujirah dan dua anaknya, Fitri Nganthi Wani dan Fajar Merah, merasakan kehidupan yang jauh lebih pahit ketika sang ayah menghilang.

Fajar Merah yang berumur 2 tahun saat ayahnya menghilang, paling mengalami tekanan karena tidak pernah kenal dengan sosok bapaknya. Beruntung Fajar dan Fitri adalah dua anak Wiji Thukul yang dianugerahi bakat seni. Fajar Merah bahkan berhasil menemukan jati dirinya lewat musik. Bersama Fajar Bercerita, sebuah grup musik yang dibentuknya pada 2010, kini fajar telah menelurkan album sendiri dan berkeliling kota untuk mementaskan karyanya.

“Sebagian lagu saya ciptakan dari puisi-puisi bapak saya. Salah satunya adalah Bunga dan Tembok,” kata Fajar, yang bercerita dalam film dokumenternya.

Yuda Kurniawan sendiri merekam kehidupan Fajar Merah sejak 2014 sampai 2018. Film dokumenter yang alurnya menarik ini, akhirnya menuai keberhasilan sebagai yang terbaik di FFI 2018. (dianw/B).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2