Waspada
Waspada » Gagal ke Sebangau, Raja dan Ratu Nikmati Ragam Pesona Danau Toba
Nusantara

Gagal ke Sebangau, Raja dan Ratu Nikmati Ragam Pesona Danau Toba

JAKARTA (WASPADA) Willem Alexander dan Maxima Zorreguieta Cerruti gagal melihat keberhasilan Taman Nasional Sebangau mengelola gambut dengan cara membuat tabat-tabat. Raja dan Ratu Belanda itu akhirnya menikmati ragam pesona Danau Toba di hari terakhir lawatan kenegaraannya di Indonesia, Kamis (12/3).

“Benar, kunjungan Raja dan Ratu Belanda ke Sebangau dibatalkan. Mengingat pihak TN Sebangau dan juga kami sedang berduka dan sebagainya. Tapi Pak Dirjen KSDAE Inung Wiratno tetap di Sebangau, menguatkan teman-teman di sana,” ungkap Dr. Nandang Prihadi, S.Hut., M.Sc., Direktur Pemanfaatan Jasa Lingkungan Hutan Konservasi (PJLHK), Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE), KLHK kepada TravelPlus Indonesia usai memberi sambutan mewakili Dirjen KSDAE di pembukaan pameran Indofest 2020 di Jakarta Convention Center(JCC), Kamis (12/3).

Menurut mantan Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Timur ini, TN Sebangau itu posisinya berada di antara Sungai Sebangau dan Sungai Katingan yang mencakup tiga wilayah yakni Kabupaten Katingan, Kabupaten Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya, di Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng).

“Sebangau itu terkenal dengan konservasi peat land atau tanah gambutnya yang luas. Dia merupakan salah satu kawasan konservasi yang paling berhasil dalam mengelola gambut dengan cara membuat tabat-tabat di sungai sehingga air bisa dijaga ketinggiannya,” terang Nandang.

Cara mengatur ketinggian air di Taman Nasional itu, lanjut Nandang berhasil membuat kebakaran di Sebangau tidak sebesar/separah di tempat lain.

“Nah Belanda itu kan terkenal sebagai negara dengan pengelolaan airnya terdepan seperti dam atau tanggul (dijk), kincir angin, dan kanal. Mungkin itulah yang membuat raja dan ratu Belanda tertarik datang ke TN Sebangau karena tabat-tabatnya itu,” ujar pria yang akrab disapa Aa Nandang ini.

Kata Nandang, tidak ada sejarah raja Belanda terdahulu pernah datang ke Sebangau. “Sepertinya alasan Raja dan Ratu Belanda ingin ke Sebangau ya karena ingin tahu lebih jauh keberhasilan TN Sebangau mengendalikan permukaan air lewat tabat-tabatnya,” tambah Nandang.

Sebelum Raja dan Ratu Belanda ke Sebangau, sambung Nandang, sudah ada tim dari kerajaan Belanda yang melakukan survey ke Sebangau yakni Kepala Protokol Istana Kerajaan di Hague, Simon Van den Berg dan Duta Besar Belanda untuk Indonesia, H.E Lambert Grijns dengan fokus lokasi di Resort Mangkok SPTN Wilayah II Pulang Pisang.

Mereka didampingi oleh Sekretaris Daerah Prov. Kalteng Fahrizal Fitri dan disambut oleh Kepala Balai Andhi Kadhafi beserta pejabat struktural lingkup Balai TN Sebangau.

Para delegasi dari negara yang juga terkenal dengan terompa kayu dan bunga tulipnya itu, sewaktu survey mengaku terkesan dengan upaya-upaya yang dilakukan TN Sebangau khususnya terkait pemulihan system hidrology dan ekosistem gambut melalui penyekatan kanal yang disebut tabat.

Kendati akhirnya Raja Willem Alexander dan Ratu Maxim dari Belanda batal bertandang, tak bisa dipungkiri nama Sebangau sebagai salah satu Taman Nasional dengan lahan gambut dan juga tabat-tabatnya, jadi terangkat dan semakin dikenal oleh publik lewat sejumlah pemberitaan baik di media online maupun media sosial.

*Kagumi Danau Toba*
Raja Belanda Willem-Alexander dan Ratu Maxima tiba di Bandara Internasional Silangit, Sumatera Utara, pada Kamis (12/3/2020) pagi.

Mereka didampingi Menko Maritim dan Investasi Luhut Panjaitan, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Gubernur Sumatera Utara (Sumut), Edy Rahmayadi dan Dirut BPODT Arie Prasetyo.

Kemudian rombongan langsung bertolak ke Bukit Singgolom di Kecamatan Tampahan, Kabupaten Toba.

Di lokasi tersebut rombongan Raja dan Ratu Belanda menikmati lansekap berlatar belakang Danau Toba dengan Pulau Samosir terlihat di kejauhan.

Keduanya mendapat penjelasan tentang asal-usul dan sejarah Danau Toba, danau vulkanik terbesar di dunia dan danau terbesar di Indonesia yang telah didaftarkan sebagai warisan dunia dari UNESCO.

Setelah itu keduanya menuju Dusun Siambat Dalan, Kecamatan Tampahan. Di sana, mereka melihat rumah adat Batak yang sudah berdiri sejak 310 tahun lalu. Keduanya disambut dengan suguhan Tari Tor-Tor serta disematkan kain ulos yang kemudian dikenakan keduanya secara bersama. Mereka juga berinteraksi dengan tokoh masyarakat Desa Siambat Dalan.

Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pulau Samosir melalui Pelabuhan Balige, Raja dan Ratu Belanda menyempatkan diri mendatangi Institut Teknologi DEL.

Di Pulau Samosir, Raja dan Ratu Belanda mengunjungi Eco Village Samosir dan singgah di Hotel Inna Parapat, sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Belanda melalui Bandara Internasional Kualanamu.

Menurut Menparekraf Wishnutama baik Raja maupun Ratu Belanda sama-sama mengagumi ragam pesona yang ada di kawasan Danau Toba.

“Mereka kagum dan sangat menikmati kebudayaan yang ada serta keindahan alam Indonesia. Di Danau Toba tadi bahkan sempat menyeberang ke Samosir,” kata Wishnutama sebagaimana tertera dalam pera release dari Birkom Kemenparekraf.

Wishnutama berharap kunjungan Raja dan Ratu Belanda ini diharapkan semakin meningkatkan hubungan kerja sama kedua negara, termasuk di bidang Ekraf atau ekonomi kreatif.

“Kemitraan Indonesia dengan Belanda ke depan, terutama di sektor parekraf diharapkan terjalin dengan semakin kuat,” harap Wishnutama.

Lawatan kenegaraan Raja Willem-Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti dan kunjungan ke sejumlah destinasi juga mereka unggah ke akun resmi instagram Kerajaan Belanda @koninklijkhuis.

Sebelum ke Destinasi Super Prioritas Danau Toba, Raja dan Ratu Belanda beserta rombongan juga singgah ke sejumlah destinasi lainnya yaitu Keraton Yogyakarta dan Candi Prambanan. (Adji K.)

 

Captions:
1. Raja Willem Alexander dan Ratu Maxima Zorreguieta Cerruti dari Belanda berfoto bersama berlatar belakang Danau Toba dengan Pulau Samosir. (foto: dok. birkom kemenpareraf)
2. Di Desa Siambat Dalan, Raja dan Ratu Belanda disematkan kain ulos, mereka pun berinteraksi dengan tokoh masyarakat setempat. (foto: dok. birkom kemenpareraf)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2