Waspada
Waspada » Covid19: Revolusi Mental Sesungguhnya
Nusantara Sumut

Covid19: Revolusi Mental Sesungguhnya

Kepatuhan publik terhadap Protokol Kesehatan pencegahan penyebaran Covid19 terbagi tiga yakni patuh dan sadar melaksanakan, tidak patuh, ketiga yang paling banyak patuh kepada aparat bukan kepada aturan.

Setidaknya ini yang bisa ditangkap dari Forum Discussion Group Virtual wartawan Waspada se Indonesia, empat kali zoom meeting dipandu Dr Dedi Sahputra.

Sessi pertama di pekan ketiga Oktober; Jumat (23/10) dan Sabtu (24/10) wartawan Medan,Jakarta,Aceh, Sumut di luar Medan memaparkan kondisi real respon masyarakat terhadap prokes, angka positif Covid19 dan hal berkaitan. Kesimpulannya Covid19 masih jadi tanda tanya bagi masyarakat.

“Pejabat pemerintah dan pejabat publik harus lebih intensif jadi panutan terhadap pelaksanaan protokol kesehatan. Satgas harus lebih gencar lagi bersosialisasi. Wartawan Waspada meningkatkan liputan lebih mendalam,”ujar David Swayana S.Sos Redaktur Sumut Harian Waspada sebagai keynote speaker.

Sessi kedua, Jumat (30/10) membahas tahapan Pilkada serentak 2020 berdampak munculnya klaster baru dan Sabtu (31/10) mendiskusikan potensi budaya lokal untuk melancarkan sosialisasi pencegahan penyebaran Covid19.

Kesimpulan di sini adalah perlu mewaspadai tahapan Pilkada sampai Tempat Pemungutan Suara sebagai klaster baru. “Kita pantau ketat, bersinerji dengan KPU dan Bawaslu agar protokol kesehatan dijalankan semua pihak dalam tahapan Pilkada serentak,”tutur David Swayana S.Sos.

Moderator Dr Dedi Sahputra mempertajam materi yang disampaikan Sapriadi SPdI (Asahan) dan Agam (Aceh Tamiang) bahwa budaya kearifan lokal sangat efisien sebagai media sosialisasi protokol kesehatan pencegahan penyebaran Covid19.

Tidak tanggung Waspada Sabtu (31/10) sore dalam Zoom Meeting yang distreamingkan lewat akun FB Waspada.id menyelenggarakan talkshow menampilkan Prof Muzakir dari Universitas Islam Negeri Sumut, mengunci fenomena real respon warga terhadap Prokes dimaksud: Covid19 Dalam Perspektif Tasawuf.

Dalam talkshow Prof Muzakir “diserang” wartawan Aceh,Asahan dan Tapanuli Selatan soal respon warga Islam dari sudut pandang Tauhid, Syariah, dan Tradisi.

“Kita perlu mencuci hati untuk merespon regulasi terkait musibah Covid19,”tegas Prof Muzakir menggarisbawahi bahwa apa yang dilakukan pemerintah dalam penanganan Covid19 sudah benar dari sudut pandang Islam.

Kenapa realitanya di tengah masyarakat masih terbelah antara patuh dan tak patuh?

Ternyata Covid19 yang menjadi ancaman bagi siapa saja tanpa pilih bulu telah menggiring manusia untuk merevolusi mental, melakukan sesuatu yang baru sekaligus merevisi kebiasaan lama yang banyak merugikan diri sendiri, rumah tangga, lingkungan, bangsa dan negara, serta dunia.

Dari kacamata tasawuf atau akhlak jelas terlihat “hati yang keras” untuk tidak patuh padahal ancaman kolektif sudah di depan mata.

Revolusi Mental lewat “cuci hati” tentu sangat ideal menggunakan takaran norma agama, adat budaya warisan leluhur.

Melawan Covid19 ternyata sangat mudah yakni dimulai dari diri sendiri yang ikhlas merevolusi mentalnya. *Nurkarim Nehe

Waspada/Nurkarim Nehe
Kepatuhan terhadap protokol kesehatan pencegahan Covid19 ternyata memang harus lewat proses “Cuci Hati” sebagaimana disampaikan Prof Muzakir dari UIN Sumut dalam talkshow virtual Waspada Sabtu (31/10).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2