Berubah Nomenklatur, Ditjen Kebudayaan Kemdikbud Bakal Lebih Fokus Bekerja - Waspada

Berubah Nomenklatur, Ditjen Kebudayaan Kemdikbud Bakal Lebih Fokus Bekerja

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Proses restruktrurisasi di internal Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan terus terjadi. Salah satunya di Direktorat Jenderal Kebudayaan.

Dirjen Kebudayaan Kemdikbud, Hilmar Farid menyebutkan keempat direktorat tersebut adalah Direktorat Perlindungan Kebudayaan, Direktorat Pengembangan dan Pemanfaatan Kebudayaan, Direktorat Perfilman, Musik dan Media baru serta Direktorat Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan. Direktorat-direktorat baru itu diharapkan dapat memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap pemajuan objek budaya sebagaimana tertuang dalam pasal 5 Undang-undang Pemajuan Kebudayaan.

“Dengan format organisasi yang baru ini akan lebih baik dari sebelumnya. Kita akan lebih fokus dalam bekerja untuk pemajuan kebudayaan sesuai ketentuan Undang-Undang,”kata Hilmar di Jakarta, Rabu (15/1).

Ditambahkan dia, perubahan struktur di Ditjen Kebudayaan ini tidak akan mengganggu layanan di bidang kebudayaan. Semua tetap berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah.

Pendaftaran film, registrasi cagar budaya, pendaftaran warisan budaya, layanan fasilitasi misalnya program kerjasama dengan komunitas akan terus berjalan semuanya berjalan seperti biasa.

“Saya pastikan layanannya tidak akan ditinggalkan. Jadi layanan yang selama ini baik dan sifatnya memfasilitasi akan terus berjalan bahkan kita akan tingkatkan (kualitasnya). Dalam bulan ini sedang kita rapikan jadi kalau misalnya nanti bersurat sementara ini langsung suratnya ke saya, Dirjen Kebudayaan Kemendikbud RI nanti surat masuk akan diarahkan ke petugas yang bertanggung jawab untuk itu,” imbuh Hilmar.

Keberadaan direktorat baru di Ditjen Kebudayaan Kemdikbud ini menggeser tiga direktorat lama, yakni Direktorat Kesenian, Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya serta Direktorat Cagar Budaya dan Permuseuman. Direktorat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Tradisi tidak berubah. Sementara Direktorat Perfilman Musik dan Media Baru berasal dari Pusat Pengembangan Perfilman yang sebelumnya berada di bawah nauangan Sekretariat Jenderal Kemdikbud.

Hilmar lantas menyebutkan substansi diperlukannya perubahan nomenklatur kebudayaan. Menurutnya, secara umum kondisi keragaman budaya belum ideal jika dibandingkan dengan upaya perlindungan, pengembangan, pemanfaatan dan pembinaan kebudayaan. Harapannya dengan restrukturisasi ini seluruh proses pemajuan budaya akan lebih signifikan dilakukan.

“Sekarang kita akan fokus mencatat semua informasi kebudayaan. Sejak Maret 2018 sampai sekarang di kabupaten kota ini terjadi pencatatan-pencatatan itu. Informasinya sudah banyak sekali dan ini semua perlu diproses lebih lanjut sehingga nanti betul-betul terlindungi dan masuk dalam database kita. Jadi persoalannya memang pekerjaan ini sangat teknis,” paparnya.

Lebih lanjut Ia mengatakan, semangat untuk meningkatkan upaya pemajuan budaya berangkat dari apreasiasi yang ingin diberikan kepada para praktisi dan pemerhati budaya yang telah berpartisipasi dalam mendata, melaporkan, dan melestarikan budaya di Indonesia.

“Mereka-mereka yang selama ini sering melaporkan ada cagar budaya yang terbengkalai, ada yang baru ditemukan, dan seterusnya, itu semua tetap dijalankan. Saya sangat berterima kasih,” ucapnya.

Dijelaskan juga tentang tugas pokok dan fungsi direktorat baru. Direktorat Perlindungan Kebudayaan, misalnya, adalah gabungan dari Direktorat Perlindungan Cagar Budaya, Warisan Budaya, Kesenian dan Tradisi. Kesenian ada di sana, tradisi ada di sana pengetahuan tradisional, permainan tradisional dan seterusnya.

“Begitu juga dengan Undang-undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya semua itu ada di bawah ranahnya tiga direktorat baru itu,”lanjut Hilmar.

Perubahan nama direktorat yang menuai berbagai tanggapan, Hilmar berpendapat bahwa itu adalah bentuk perhatian masyarakat terhadap kebudayaan Indonesia.

“Saya secara khusus berterima kasih atas perhatian masyarakat karena ini semua tanda bahwa kita semua punya perhatian yang besar terhadap kebudayaan. Dan saya secara khusus meminta perhatian ini terus (ada) bahkan lebih meningkat ke depan sehingga kalau ada kerjasama yang lebih strategis, kita bisa gotong royong untuk memajukan kebudayaan,” tekannya.

Terkait dengan masyarakat yang ingin menjalin kerjasama dan meminta dukungan kepada Dirjen Kebudayaan Kemendikbud, Hilmar menjanjikan, dengan struktur yang baru prosesnya akan lebih ringkas.

“Yang berubah adalah caranya semua itu dikelola metode penyalurannya. Contohnya bagi guru kesenian yang punya cabang kesenian tertentu di sekolahnya dan ingin dipamerkan, kalau sebelumnya merasa dipingpong urusannya antara Direktorat Kesenian dan Dirjen Pendidikan Dasar dan Menengah, nah sekarang enggak lagi,” terangnya.

Perampingan di tubuh Kemdikbud itu ditanggapi Budayawan kondang Radhar Panca Dahana. Dikhawatirkan perampingan ini menelurkan kebijakan kebudayaan yang tidak konstruktif

“Saya khawatir, kondisi kita saat ini seperti menuju  titik nadir dengan digantinya  direktorat kesenian. Lalu ada  direktorat film, musik  dan media baru. Sedangkan  kesenian yang klasik dan tradisnional itu yang membentuk jati diri bangsa kita, Saya minta hal ini jangan  dilupakan,” kata  Radhar Panca Dahana kepada salah satu media nasional di Jakarta, belum lama ini.

Radhar yang juga turut berjuang dalam pengesahaan Undang Undang Pemajuan Kebudayaan  merasa khawatir semua produk kebudayana yang akan dihasilkan seperti adanya Direktorat Film ,Musik dan Media Baru menjurus pada kebudayaan  yang memajukan bisnis semata. (dianw/B).

  • Bagikan